
"Sayang, pulang kantor aku bantu cicil barang-barang kamu. Sebenarnya, kamu tidak perlu bawa apa-apa. Aku bisa membelikan yang baru. Lalu, masalah fitting baju pengantin, aku sudah buat janji. Minggu depan saja
sekalian melihat desain undangan."
Alex berkata saat makan siang. Nayra tak bergeming. Alex meliriknya. Dia, seolah berada didunia lain, makanan dipiringnyapun hanya diacak- acak.
"Nayra, sayang, kamu dengar ucapanku kan?” Alex menyentuh tangannya. Membuyarkan semua lamunan. Gadisnya kembali tersedak saat dia sedang minum.
"Pelan-pelan, sayang. Kamu kenapa? Aku ngomong malah dicuekin. Kalau kamu belum siap membahas pernikahan kita, aku tidak akan memaksanya.” Tatapan mata Alex tajam, dia tahu hati gadisnya sedang tak seperti biasa.
"Bu-bukan begitu, aku-," Nayra meyakinkan hatinya lebih dahulu. Dia tak ingin salah berbicara atau tanpa sadar malah melukai orang terkasihnya.
"Lalu? Aku kan sudah bilang, saat kita berdua. Kamu hanya boleh memikirkanku saja!” cetus Alex yang langsung bisa menebak lamunan gadisnya.
"Itu karena ... ah, tidak ada apa-apa, sayang!" Nayra memutuskan untuk menutupinya.
"Please jangan bohong, aku itu tahu kamu. Mungkin bagi kamu waktu bertemu kita masih singkat, tapi buatku kamu segalanya. Aku ini calon suamimu. Aku ingin kita jujur dan terbuka, agar tidak ada lagi kesalah fahaman di kemudian hari. Aku belajar dari masa-masa sulitmu. Dan, aku bertekad tidak akan melakukan kesalahan sama. Jadi, aku mohon, percayalah padaku. Mulailah bercerita dari hal-hal kecil." Alex menggenggam erat kedua tangan gadisnya.
Hati Nayra pun tersentuh. Mana tega dia melakukan hal keji yang pernah menimpanya. Dia pun menginginkan hubungan yang sedang dibinanya berjalan lancar.
"Kemarin malam, sepertinya aku melihat Gio. Saat kamu mengantarkan aku pulang," ucapnya tertunduk pasrah.
__ADS_1
Huh, ternyata benar. Ternyata laki-laki itu masih ada dalam hatinya. Susah sekali membuangnya. Apa aku harus membunuhnya agar gadisku tak seperti ini lagi.
"Maksudmu, Gio, mantanmu itu? Jadi, kamu sudah bertemu dengannya?" Alex menaikan rahangnya dengan keras saat gadisnya menyebut namanya.
"Tidak. Sebenarnya, aku belum yakin itu dia. Aku, hanya takut jika itu benar-benar dia ...." Nayra tak kuasa membendung air matanya, dia menangis kembali dihadapan kekasihnya.
Alex merengkuhnya dalam pelukannya, "Maafkan, aku sayang ...," ucap Nayra. Terisak dipelukannya.
"Kenapa? Kamu pasti kangen sama dia?" Alex mencoba memahami perasaannya. Gadis itu menggeleng.
"Tidak, aku hanya takut seandainya saja itu benar dia. Aku, takut menjadi lemah saat dihadapannya. Aku benar-benar takut sayang. Kamu percaya aku kan? Kamu nggak akan meninggalkanku seperti dia." Nayra mengutarakan
kegelisahan dalam hatinya.
Alex mengusap rambut gadisnya penuh sayang. Namun, tatapan matanya tak bisa berbohong. Dia pun gelisah. Dia, harus menutupi rasa takutnya. Demi menenangkan hati gadisnya.
***
Nayra baru saja keluar dari pusat perbelanjaan ketika ponselnya berdering. Alex menelponnya.
“Iya, sayang!” sahut Nayra.
__ADS_1
“Kamu masih dijalan?”
“Uhm, kenapa?”
“Tolong belikan aku croisant dan ice cream coklat,” ucapnya.
Nayra tersenyum, dia benar-benar tak menyangka laki-laki dinginnya menyukai makanan manis seperti itu, “Oke, nanti aku belikan double!” janji Nayra. Telpon pun terputus.
Kakinya kemudian berbelok memasuki toko roti. Dia memenuhi pesanan kekasihnya. Beberapa hari ini hatinya tenang. Rasa gelisahnya hilang. Nayra tak menemui lagi bayangan kegalaunnya itu.
Sambil berjaman dia mengecek semua pesanan, berbelok dan. Nayra menabrak seseorang.
"Maaf, maaf, saya tidak melihat." Nayra membereskan barang belanjaannya yang sempat jatuh dikakinya. Orang yang menabraknya membantu Nayra membereskan barang.
"Terima kasih." Mata mereka saling bertatapan. Barang yang dipegangnya kembali terjatuh. Nayra tersentak dengan orang yang berada dihadapannya.
"Nayra? Kamu, Nayra kan?" orang sempat takjub melihat perubahan Nayra. Dia, tersenyum bahagia saat melihatnya.
"Gi-Gio!" ucap Nayra terbata. Gio memungut kembali barang yang Nayra jatuhkan dan memberikannya ketangannya.
"Bagaimana kabarmu, Nay? Kamu sehat-sehat saja kan? Beberapa hari lalu, aku sempat ke apartemenmu. Tapi, sepertinya saat itu kamu sedang keluar atau belum pulang kantor ya?"
__ADS_1
Giondra Pratama memberondonginya dengan pertanyaan sambil memegang tangan gadis itu. Nayra menghempaskan tangannya.
"Aku, baik. Maaf, permisi!” Nayra bergegas mengambil langkah seribu meninggalkannya.