
Tangan Gio terus mengusap pipi dan rambutnya. Membuat setitik rasa dalam hati Nayra, rasa tak tega melukai perasaannya yang begitu menderita, "Ma—maafkan aku, Gio. Kita sudah tak bisa kembali seperti dulu!" gadis itu berkata dengan bibirnya yang sedikit bergetar. Tanpa terasa air matanya mengalir di pipi.
Gio menatap wajahnya penuh cinta. Tangannya mengusap kedua air matanya lalu mengusap perlahan bibirnya yang merona. Sedetik kemudian Gio memajukan wajahnya. Menarik tengkuk gadisnya dan perlahan memberikan kecupan. Nayra meresapinya, kecupan yang sudah berbeda, tak ada lagi gadis itu merasakan getaran.
Gio perlahan melepaskan kecupannya. Menatap wajahnya yang masih berurai air mata. Dan, tanpa ragu laki-laki itu menariknya kedalam pelukan, "Aku tidak perduli seperti apapun kau sekarang. Yang aku inginkan, kau selalu berada disisiku. Aku butuh kau tetap di sampingku. Menemaniku yang sudah tak seperti layaknya pria normal!" Gio terus menekan perasaan bersalahnya. Membuatnya tak menghentikan tangis di dalam dadanya.
Kalau aku tidak dapat mendapatkan dirimu secara baik-baik. Aku akan merebutnya perlahan sampai kau kembali ke pelukanku sayang.
Seringai licik Gio saat mengusap perlahan rambutnya dan menenangkan tangisan.
Mau tidak mau Nayra membawa Gio bersamanya, karena laki-laki itu menolak pulang. Gio terus menatapnya yang benar-benar sibuk dengan kejutan Rasti. Ponselnya kembali bordering, tanpa melihat dia segera mengangkatnya.
"Dimana kau?" suara di ujung telpon. Nayra yang sedang sibuk dengan test suara musik dugem yang dipilihnya.
"Aku di hotel … kamar no 404!" lalu Nayra mematikan ponselnya, kembali dengan persiapannya yang makin mendesak.
Gio menghampirinya, seperti anak kecil, dia menarik-narik gaun yang dipakainya. Nayra sedikit menundukkan kepalanya, "Ada apa? Kau butuh sesuatu?" terpaksa mendekatkan wajahnya karena suara yang berisik tidak akan terdengar olehnya saat Gio berkata.
Sedangkan yang menelpon tadi adalah Alex. Ketika tahu gadisnya sedang di hotel, tanpa pikir panjang dia bergegas pergi menyusul. Bahkan saat sampai, Alex berlari menuju kamar yang di beritahu gadisnya.
"Aku lapar!"
__ADS_1
"Tunggu seben—" belum selesai gadis itu menyelesaikan ucapan. Tangannya sudah di tarik oleh Alex. Dan tatapannya langsung memicing tajam kearah Gio.
"Aw!" saat menoleh Alex sudah berada dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan?” Nayra mengkrejabkan matanya. Bingung.
"Kau? Bagaimana bisa disini!" Nayra mencoba melepaskan tangannya. Tapi, apalah daya kedua tangannya di pegang oleh dua laki-laki itu. Dan tak seorang pun dari mereka mau melepaskannya.
"Please ... aku sudah sangat lelah hari ini. Tidak bisakah kalian berdamai sesaat?" gadis itu memang benar-benar lelah dengan kegiatannya hari ini. Mereka merasa bersalah, perlahan melepaskan secara bersamaan. Nayra mengacuhkan mereka saat melihat jam kedatangan para ladies.
"Ayolah ... apa kau akan tetap disini? Ini kan acaranya perempuan!" geram melihat tingkah keduanya, hanya bisa melipat kedua tangannya didada dan menatap mereka secara bergantian.
"Huusstt, lo sudah datang!" segera merubah wajah mendungnya menjadi senyuman.
Rasti menatap kedua laki-laki di hadapannya, "Jadi, siapa di antara kalian yang akan menari striptis untukku malam ini?" ledek Rasti mengkerlingkan satu matanya. Sambil memutar kepalanya melirik Nayra dengan kedua bola matanya yang bergerak ke kiri dan kanan.
"Apaan sih, Ras! Nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh!” Nayra terdengar tak rela.
"Hahahaha ... ya iyalah, Nay. Masa lo nggak tau kalau nanti malam ada penari striptisnya. Atau jangan-jangan lo berbohong!” goda Rasti. Tepat sesuai harapannya. Kedua laki-laki itu langsung membulatkan matanya dengan lebar.
"Lo gila, Ras, pergi sana!!" usirnya.
__ADS_1
Hurff. Bagaimana lagi aku mengusir mereka apalagi mereka mendengar bualan Rasti barusan.
Makin pusing tujuh keliling kepalanya, "Aku tidak suka kau ikut acara ini!" keduanya berkata kompak. Nayra tersenyum kecut menatap mereka bergantian.
"Kalian tidak punya hak melarangku, ya!” tunjuk Nayra pada Gio. Kemudian dia membalikkan tubuhnya, “Apalagi, kau. Aku tidak punya hubungan apapun lagi dengan—mu!” dengus Nayra makin menjadi, "Aku bebas! Jadi, jangan mengganggu kesenangan kami!" Nayra mendoronh kursi roda Gio dan menyeret tubuh Alex berbarengan keluar dari kamar yang disiapkan untuk kejutan Rasti.
Alex membalikkan cengkramannya. Kini gadis itu terhimpit di tembok olehnya. Mungkin kalau Gio tak di kursi roda, dia pun akan melakukan hal yang sama.
"Berani mata—mu melihat selain tubuhku, aku pastikan kau akan menyesal. Aku tidak akan pulang, sebaiknya kau usir dia!" dengus Alex berang dengan sikap gadisnya yang mengacuhkannya.
"Aw ... sakit! Lepaskan aku!" gadis itu mencoba memukul balik. Namun, tangan Alex dengan cekatan memilinnya ke belakang.
"Aku tidak main-main, Nay. Sekali saja mata—mu berani melihat tubuh laki-laki lain, aku pasti akan membuatmu tak bisa bangun di hadapan mereka!" ancam Alex membuat tubuh gadis itu bergetar. Ketakutan.
Berani sekali dia mengancam Nayra di hadapank. Suatu saat, aku pasti akan merebutnya darimu tanpa tersisa. Aku akan membuatmu menderita atas kehilangannya.
Gio dengan segala kemarahannya dihati. Mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Manatap Alex penuh dengan kebencian.
Arrgghhh, dasar comel Rasti. Berani dia meledekku dengan penari striptis. Dia benar-benar memberikanku kejutan yang membagongkan.
Nayra meringis menahan sakit di kedua tangannya, bekas cengkraman tangan Alex.
__ADS_1