PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
APAPUN AKAN KULAKUKAN


__ADS_3

"Karena saya sudah disini, tugas suster saya ambil alih saja. Saya yang akan menjaganya. Suster  bisa kembali besok," sambung gadis itu lagi.


"Baik, Mbak Nayra, terima kasih." Suster meninggalkan mereka.


"Kita kembali ke apartemen atau kau mau langsung jalan-jalan ke mall? Kau  bilang ingin membeli hadiah pernikahan untuk Rasti," bujuk Nayra.


Gio menatapnya  sesaat, "Iya, aku mau langsung ke mall mencari hadiah untuknya." Gio tanpa ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah berada di depan matanya.


"Baik, kita pergi!” Nayra mendorong kursi rodanya hingga pelataran rumah sakit.


Taksi datang, supir membantu memapah tubuh Gio. Mereka duduk bersebelahan. Namun, mata Nayra langsung terpejam. Dia tak ingin banyak  berbicara dengannya.


Dalam benaknya hanya ada Alex. Bayangannya terus berlarian dipelupuk matanya. Masa bersamanya, tawa, canda, senyum, sedih dan tangisnya bercampur menjadi satu. Dia, masih saja berharap kalau tadi laki-laki itu mencegahnya pergi.


Apa benar kau sungguh ingin melepaskanku, sayang. Apa kau tidak merindukanku sama sekali?  Batinnya berteriak keras, hatinya masih sangat bergejolak.


Gio terus menatapnya. Dia tahu gadis itu tidak tidur. Mengamati semua yang ada pada dirinya. Matanya menangkap kalung berinisial masih melingkar indah dilehernya dan cincinnya pun masih tersemat indah dijari manisnya.


Hatinya pun terasa perih. Namun, dia menutup mata dan telinganya. Yang dia butuhkan sekarang, yang terpenting sekarang baginya adalah gadis itu. Nayra tetap berada disisinya, apapun itu taruhannya.


Perlahan dia menyentuh tangannya. Nayra tersadar dengan sentuhannya  membuka mata, dan menarik perlahan tangannya, menghindari sentuhan dari tangannya. Rasa nyeri langsung bergelatut di hati Gio. Tapi, lagi-lagi dia menekan dalam dan menepis jauh perasaan itu.


"Kau berencana membelikan apa untuk Rasti, Nay?” Gio berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka. Dia hanya menantapnya sesaat.


Lalu memalingkan wajahnya ke jalan, "Mmm ... aku belum terpikirkan akan yang mau kubeli. Mungkin, aku lihat-lihat dulua apa nanti yang cocok untuknya,” sahutnya datar.


Gadis itu tidak ingin memberikan harapan apapun padanya. Baginya, Gio sekarang tidak lebih dari pasien manja yang butuh perhatian. sedangkan Nayra memposisikan dirinya seperti seorang suster yang menjaga pasien. Membuat hatinya tenang agar dia tidak melakukan tindakan bodoh lagi.


Nayra sempat ragu saat akan melangkah masuk ke dalam mall tersebut. Lagi-lagi bayangan yang terlintas  dibenaknya adalah Alex. Dia pernah bersama dengan ibu calon mertuanya memborong banyak belanjaan disana.


Nayra membuang nafasnya dalam-dalam dan mendorong kembali kursi roda Gio masuk. Tanpa Nayra sadari, Alex dan ketiga temannya sedang berada di mall tersebut. Alex  meminta mereka untuk menemaninya membeli kado untuk Rasti.


Gadis itu tidak berencana membeli bersama dengan Gio. Dia akan meluangkan waktunya sendiri untuk memilih kado untuk sahabat terbaiknya itu.


"Kita beli barengan saja ya, Nay. Aku ingin memberikan sesuatu yang bermakna untuknya.” Gio tiba-tiba menyentuh lengannya.


"Heh, apa?” jelas sekali jawabannya. Dia ketahuan sedang melamun.


"Kado untuk Rasti, kita beli barengan saja," ucapnya lagi.


"Emm, aku nanti saja. Kau saja yang pilih lebih dulu," sahutnya tergagap.


"Kok gitu sih, Nay. Apa kamu segitunya sama aku sampai tidak ingin memberikan barang dari uangku?" ucap Gio langsung terlihat murung.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu, Gio. Aku ... aku.”


"Apa kau masih marah atas sikapku, atau?"


"Ya sudah, kita beli sekalian. Hanya saja aku ingin membelikannya sesuatu yang berbeda," ucapnya tercetus sesuatu ide konyol.


"Apa itu?" Gio penasaran.  Nayra berbisik di telinganya, membuatnya tertawa geli mendengar idenya tadi.


"Hahahaha, kau masih saja jahil. Dia kan sahabat baikmu, kenapa kau tidak memberikan sesuatu yang membuatnya terkesan ..."  Gio menaikan kedua alisnya, sepertinya diapun muncul ide yang lebih gila.


Bersama dengan candaan mereka, dari seberang etalase Alex menatapnya dengan sakit hati kemesraan mereka. Siall, harusnya sekarang aku yang bersama denganmu. Dasar  orang cacat pembuat masalah. Batin Alex geram.


"Itu bukannya, Nay?” tahu-tahu Alan nyeletuk, membuat yang lain sadar dan menatap wajah Alex yang terbakar cemburu. Bob menyenggol sikut Alan agar dia menutup mulutnya.


"Hurff, kalian berdua mau sampai kapan sih, main kucing-kucingan saling melukai satu sama lain?" Thomas menyenggol sikut Alex. Mereka semua ingin Alex segera mengakhiri permainan gilanya.


"Memang siapa sedang main kucing-kucingan? Aku hanya sedang meminjamkannya sebentar pada orang cacat itu," dengus Alex. Amarahnya menguap ke permukaan. Tatapan matanya masih geram saat melihat mereka.


"Kau tidak kangen dengan selimut hidup-mu, Lex? Kami-kami saja iri. Kau yang sudah merasakan, malah di lepaskan!" sambung Bob. Skak mat buat Alex.


 "Arrghh, sudah jangan bahas itu!” Alex tambah emosi dan  melampiaskannya masuk ke dalam salah satu toko. Dia tak ingin matanya terlalu lama menatap kemesraan mereka.


"Gue, sumpahin lo menyesal, Lex. Kalau sampai Nayra berakhir di pelukan Gio si cacat itu. Lo jangan bunuh diri aja di pohon toge ...,” ledek Alan saling senggol sikut. Terkekeh geli menggoda Alex yang sedang dalam kondisi cemburu buta.


Sedangkan Gio membelikan Rasti beberapa set lingerie berbagai warna dan model. Sambil  menatap lingerie, sesekali dengan sikap isengnya Gio mengarahkan kepada Nayra. Membuat  gadis itu memalingkan wajahnya karena malu. Akhirnya aku bisa melihat senyumanmu lagi sayang.


Tunggulah. Aku  pastikan kau hanya akan menjadi milikku. Apapun akan kulakukan untuk mendapatkanmu kembali.


"Makasih, Nay. Kau  sudah mengantar dan menemaniku berbelanja,” ucap  Gio terdengar tulus saat mereka dalam perjalanan pulang. Gio memulai obrolannya untuk mengusir kesunyian. Gadis itu hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.


"Makan malam di tempat-ku, ya?  Aku  sudah menyuruh pengurus rumah untuk memasak makanan kesukaan-mu," ucapnya lagi.


"Sepertinya aku langsung pulang  saja ya, Gio,"  ucap Nayra menolak permintaannya kali ini. Dia sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.


"Jadi, kau masih saja tetap menolak tawaranku? Apakah  aku masih kurang baik di matamu? Atau aku harus memohon lebih keras padamu agar kau mau menerima permohonanku?" Gio terus memaksakan kehendak dan memojokkan Nayra kembali. Dia berusaha keras agar gadis itu tidak menolaknya.


"Ya ampun, Gio!” Nayra sedikit menaikan suaranya. Dia menepuk jidatnya sendiri. Jenggak dengan tingkahnya yang melebihi anak-anak.


"Ok, baik. Aku makan malam di tempat-mu. Kamu puas sekarang!" sahut nya ketus.


"Nah, gitu dong ..." Gio tersenyum puas setelah kemaunnya dituruti. Sedangkan Nayra hanya bisa mengusap dada dan menghela nafas panjang.


Nayra mendorong kursi rodanya. Di lorong menuju apartemen Gio, dari kejauhan mereka melihat seorang wanita bersandar di tembok dengan beberapa koper dihadapannya.

__ADS_1


Makin dekat mereka makin menyadari sosok di hadapannya. Wanita tadi yang menyadari kedatangan Gio segera berdiri dengan anggun sambil membuka kaca mata hitamnya. Wanita  itu tersenyum menyabut kedatangan Gio.


"Sayang ... aku merindukan-mu!"  wanita tadi langsung melompat kearah Gio. Memeluk  dan mencium pipinya.


Gio mendorong tubuh wanita tadi. Terkujut. Sama halnya dengan Nayra pun terkejut dengan kedatangannya.


"Mo-Mo-Mona.”


Ya, dia, Mona, sahabat kecilnya. Wanita penghianat yang merebut tunangannya. Menjadi selingkuhan diantara hubungannya dulu.  Hatinya masih saja bergetar. Kedua tangannya mengepal dengan erat. Namun, kali ini dia tak akan terpancing dan bersikap bodoh seperti dulu.


Dengan tingkah menyebalkan. Wanita bernama Mona tadi berdiri, menatap Nayra sebagai musuhnya, "Oh, ternyata kau masih berhubungan dengan wanita semacam ini. Wanita yang ...," ucapnya meremehkan. Gio mengeratkan giginya, marah ketika Mona mulai meremehkan Nayra.


"Mona!!" teriak Gio.


"Iya, sayang ... kenapa sih teriak-teriak? aku tidak tuli!” Mona mengosok daun telinga karena teriakannya.


"Sedang apa kau disini?" bentak  Gio mulai tersulut emosi oleh sikap menyebalkan Mona.


"Ish, sayang ... aku tuh menelpon ke rumah-mu. Aku pikir kau kembali bersama orangtuamu. Ternyata, mereka bilang kamu kembali ke apartemen. Aku mendengar kabar kecelakaan-mu dari orangtuamu, lantas aku sangat mencemaskan-mu dan segera terbang menemui mu kesini."  Mona  yang tidak tahu malu sambil melirikkan kedua bola matanya pada Nayra, mencibir gadis itu dengan kesal.


Nayra ikut emosi mendengar perkataannya. Dia bukan emosi karena masih memiliki perasaan terhadap Gio. Tapi, kesal melihat Mona yang menunjukkan sikap aslinya. Berpura-pura menjadi wanita manja dan lemah lembut. Menyembunyikan topengnya selama ini dengan baik.


"Sedang apa kau kesini?" Gio mengulangi pertanyaannya dengan ketus.


"Kamu, kok bertanya sih? Aku  kangen kamu sayang. Kangen  tahu. Kita  kan belum lama berpisah, kok sikap kamu jadi dingin begini sih?" Mona berkata sambil memutarkan bola matanya kepada Nayra. Sabar Nayra, sabar. Kalau kau terpancing, kau juga sama bodohnya.


"Kau kan bisa mencari hotel atau sewa apartemen, untuk apa kemari."  Raka tetap ketus. Gio menarik tangan Nayra untuk mendorong kursi rodanya. Melewati Mona begitu saja. Masuk ke apartemennya.


"Hemm ... pantas saja aku tidak bisa masuk. Ternyata, kamu sudah mengganti sandi kunci kamar," gerutunya lagi. Tanpa tahu malu mengekori masuk.


"Sayang ... sekarang aku sudah disini. Kau tidak usah khawatir, aku akan selalu menjagamu. Dan sepertinya, kau sudah tak memerlukan lagi orang asing yang menemanimu. Cukup aku!” Mona terus mengoceh. Sampai seriusnya dia tak sadar menabrak kursi roda Gio.


"Aw!" ringgisnya. Gio membalikkan kursi rodanya dan sengaja melindas ujung sepatu Mona. Membuatnya  kembali berteriak histeris.


Nayra tak bergeming. Dia sudah benar-benar sangat lelah dan ingin segera menuntaskannya. Dia ingin segera pulang. Ditambah dengan kedatangan Mona, membuatnya ingin segera angkat kaki.


“Aku haus, buatkan aku minuman." Mona berbicara menatap kearah Nayra. Ihhh ... dasar wanita ular, resek banget sih.  Nayra  meraih satu gelas dan dia isi dengan air.


Nayra berjalan pelan menghampirinay. Namun, sesaat Mona akan menerima minuman tadi,  Gio merebutnya dari tangan Nayra, "Kau haus?" seringai Gio menatapnya tajam.


Mona tersenyum dan mengangguk.  Mona berpikir Gio sendiri yang akan memberikannya minuman. Tangannya terulur akan meraih gelas yang akan di berikan Gio. Namun, sedetik kemudian tangan Gio menghempaskan dengan mulus gelas tadi ke wajah Mona ....


 

__ADS_1


__ADS_2