PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
AKU MEMPERCAYAIMU (TAMAT)


__ADS_3

Gio membaringkan tubuhnya diranjang yang sudah tertidur pulas. Ponselnya terus bergetar, laki-laki berdiri dan meraih tas gadis itu. Pintu kamar dibuka, Gio menoleh, Mona baru kembali, “Kau sungguh melakukannya?” Mona menghampiri ranjangnya. Terlihat Nayra sudah berselimut.


"Tidak ada urusannya dengan—mu. Dia adalah wanita yang sangat aku cintai. Apapun akan kulakukan demi membuatnya kembali disisiku!" Gio kembali duduk di kursi rodanya.


Hati Mona bagai tertusuk oleh ribuan pedang berkali-kali. Kepulangannya untuk merebut hati Gio memang sudah terlambat. Hati Gio sudah tertutup untuknya. Gio mengangkat telponnya yang terus kembali bergetar, "Kau sudah selesai belum sayang?" suara Alex terdengar kesal saat telponnya diangkat lama.


"Dia, kelelahan denganku. Malam ini biarkan dia benar-benar berada di ranjangku, ok!” sahut Gio seolah menyiramkan bensin di bara api. Mona hanya menguping. Sejak kedatangannya, laki-laki it uterus mengacuhkan. Tanpa basa basi telpon langsung terputus.


"Gio, aku mohon maafkan aku. Tidak bisakah kau memberikanku kesempatan. Aku benar-benar masih mencintaimu, Gio. Aku bahkan rela melepaskan semua, agar aku bisa memperjuangkan kembali cintaku. Aku mohon, Gio, maafkan aku!” Mona mencoba membujuknya. Bahkan gadis itu rela berlutut dihadapannya.


“Cukup satu kali aku menyia-nyiakan Nayra karena bujukanmu. Aku tidak akan melakukan hal yang sama untuk menghiantinya lagi!” Gio menghempaskan tangan Mona yang menyentuhnya.


“Gio … aku mohon, lepaskanlah Nayra, lepaskan dia, Gio. Kita masih bisa memulai semuanya dari awal!” Mona terus berusaha merayu agar Gio melepaskan semua rasa cinta yang membelenggunya terhadap Nayra.


Pintu apartemen Gio berbunyi, dia memutar kursi roda dan menggerakkannya keluar kamar. Tepat seperti dugaan Gio, Alex menatapnya dengan penuh amarah.


Cih, aku ingin lihat apa yang akan kau lakukan ketika melihat Nayra di ranjangku. Seringai Gio penuh kelicikan.


"Dimana dia?" Alex menerobos masuk ke ruangan dan melihat Mona baru saja keluar kamar.


"Aku bilang dia sedang tidur!" sahutnya enteng.


"Kau, jangan main-main denganku. Nayra—ku tak akan mungkin melakukan hal itu!” Alex berbalik dan mencengkram bajunya dengan kasar.


“Kamarnya disana. Kau bisa cek dan melihatnya sendiri, tapi jangan terlalu berisik, dia benar-benar sangat kelelahan denganku!” ucap Gio seperti hujaman belati yang menusuk di jantungnya.

__ADS_1


"Dia wanitaku, aku percaya padanya. Dia tidak mungkin melakukan itu!" Alex menghempaskannya bajunya.


"Dia memang tidak akan menghianatimu, tapi bagaimana jika aku yang memaksanya. Aku yang menginginkannya. Kalau kau sudah tak menyukainya lagi, kau boleh meninggalkannya bersamaku!" Gio benar-benar membuat amarahnya sampai ke ubun-ubun.


Untuk pertama kalinya Alex masuk ke kamar tidur Gio dan matanya terkejut saat melihat semua dinding kamar Gio berisi dengan foto gadisnya. Gio mengekor di belakang menantikan ekspresi saat Alex mencampakkan gadis itu.


Alex berjalan menghampiri ranjang dan melihat gadisnya sudah berselimut. Sesaat ada keraguan tercipta, tapi dia menyibak perlahan selimutnya ….


Ya … seperti itu, makilah dia dan tinggalkan dia untukku.


Mona menatap pemandangan langka baginya. Meski laki-laki itu dipenuhi oleh amarah, tapi hatinya tetap bersikap dingin. Alex melihat baju yang dikenakan gadisnya sudah berantakan. Alex mengenggam tangannya dengan erat.


Siall, apa dia benar-benar melakukannya? Atau hanya memancing kemarahanku?


Alex mulai bimbang, tapi dia tak ingin semua dikuasai emosi. Dia berdiri dan membuka jasnya, lalu memakaikannya pada gadisnya. Mengangkat tubuh, meraih tas dan membawanya segera keluar dari ruangan terkutuk yang akan membuatnya bertambah salah faham.


Mona bahkan terharu dengan perlakuan laki-laki itu yang bersikap seperti laki-laki sejati. Tak memandang dengan apa yang sedang dilihatnya. Mona merasa iri dengan semua laki-laki baik dan tulus yang mengelilinginya.


“Menyerahlah, Gio. Nayra sudah mendapatkan cintanya. Kalau kau benar-benar mencintainya, bersikaplah layaknya laki-laki sejati. Terima kekalahanmu dengan lapang dada!” Mona mencoba memberikan pengertian pada laki-laki itu. Dia tak ingin jika Gio terjerumus terlalu dalam dengan jerat cinta yang dia ciptakan sendiri.


Gio tak menjawabnya, dia hanya melampiaskan semua kemarahan dengan melemparkan barang-barang yang ada di dalam kamarnya.


Menghilangkan semua keraguan dalam hatinya. Gio saat sampai di apartemennya. Segera melucuti baju gadisnya. Dia mengeceknya dengan teliti setiap jengkal dan jejak yang dia tinggalkan saat tadi melepaskan gadisnya pergi mengantar pulang laki-laki pesaingnya itu. Dia benar-benar tersenyum lega saat mengetahui tak ada jejak lain selain peninggalannya. Dan seluruh aroma tubuh gadisnya, masih sama. Masih dengan aroma farfum miliknya.


Esoknya. Alarm berbunyi di kamar Alex. Nayra menggerakan tubuhnya seperti memeluk guling.

__ADS_1


"Kok lembek-lembek dan keras ya?" gerutu Nayra meraba di bagian dada Alex. Perlahan matanya terbuka. Dan.


"Arggghhh!!" teriak Nayra terbangun. Alex ikutan bangun saat mendengar teriakan darinya.


"Berisik sekali sayang, tidak bisakah kau membangunkanku dengan cara yang lebih romantic," ucap Alex duduk, berhadapan dengannya, bertelanjang dada dan mencubit kedua pipinya.


"Kau, kau? Sedang apa di ranjangku?" bola matanya berkeliling.


"Ranjang—mu? Kau tidak salah?” seringai Alex, kembali menarik pipinya karena gemas.


Gadis itu mengingat-ingat kejadian semalam saat dia mengantarkan Gio pulang. Nayra mengingat dengan jelas saat dirinya ada di pangkuan Gio dan dia yang sudah benar-benar kelelahan malah pingsan di pelukan Gio sebelum sempat laki-laki itu melancakan semua aksinya. Gio yang tak tega melihatnya, hanya menutupi tubuhnya dengan selimut dan menjalankan misinya menjebak Alex.


"Aku tidak melakukan apapun dengannya, sumpah!" tiba-tiba gadis itu menaikkan kedua jarinya.


Alex tersenyum dan menarik tubuh gadisnya ke pangkuan, "Memangnya kau melakukan apa dengan pria cacat itu? Apa ototnya masih berfungsi dengan baik? Apa dia lebih kuat di bandingkan denganku?" Alex berkata sambil mendekatkan bibirnya di telinga gadis itu. Membuat seberkas rona merah disana dan jantungnya berdebar tak karuan. Tanpa sadar gadis itu membenamkan wajahnya di dada.


Alex membelai lembut rambut gadisnya, “Apa kau sedang menggodaku? Perlukah pagi ini kita berolah raga dulu sebelum menghadiri pesta pernikahan Rasti?” bisiknya dengan jiwa yang makin bergelora.


“Kau tidak marah padaku?” harus. Gadis itu harus menyakinkan kembali hatinya. Kali ini dia tak ingin salah langkah untuk meraih semua cintanya.


“Uhm, marah sih….” Alex menunjukkan wajah pura-pura ngambek.


“Arrghh, tuh kan? Kau pasti tidak mempercayaiku!” Nayra menunjukan bibir kerucutnya. Cemberut seperti kukusan butut.


Cuppp! Satu kecupan mendarat dikening gadis itu, “Aku mempercayaimu, sayang. saking percayanya, aku ingin setelah kita menghadiri pernikahan Rasti, kita juga menikah ya!” Alex meraih kedua tangan gadis itu. Membuat seikat janji dan merangkaikan sebuah impian indah.

__ADS_1


Tanpa terasa air mata gadis itu menetes, “Terima kasih banyak sayang, kau mempercayaiku. Aku mencintaimu, Alex, Alexander—Gajendra!” satu senyuman terukir dengan indah.


Nayra sudah benar-benar menemukan cintanya. Laki-laki ketus dan dingin itu sekarang menjadi pelabuhan terakhir di hidupnya. Menjadi orang yang paling penting di hidupnya. Satu-satunya presdir yang memcintainya dengan kelembutan.


__ADS_2