
Taksi Nayra berhenti di apartemennya. Dia bergegas berlari keluar dan tak berapa lama dia kembali dengan baju yang sudah digantinya. Nayra kembali masuk ke taksi yang menunggunya. Nayra ingin memberikan tambahan kejutan untuk Rasti.
Taksi tadi berhenti disalah satu toko kue yang sudah dipesannya. Nayra meminta bantuan pada sopir taksi untuk membawakan barang-barang yang sudah dipesannya. Karena gadis itu masih berbicara serius dengan salah satu staff tentang kue pesanan yang akan dipakai untuk kejutan bridal shower Rasti.
Ponsel dalam tasnya berbunyi ketika dia akan berjalan keluar took. Nayra melirik malas ponselnya saat tahu yang menelponnya Gio. Tapi, ponselnya tak juga berhenti. Sambil menarik nafas dalam-dalam, gadis itu menempelkan ponselnya di telinga.
“Iya, Gio!” dengan suara datar Nayra mengankatnya. Sebenarnya gadis itu sudah malas berurusan dengannya. Gio yang sebenarnya tidak jauh dari taksi Nayra. Hanya menatapnya tajam dan melihat gerak gerik malasnya dengan jelas saat berbicara dengannya.
"Dimana kau?” Gio terdengar mengintrogasi keberadaaannya. Gadis itu terlihat menjauhkan ponselnya saat mendengar lagi ucapannya.
"Aku sedang ada urusan di suatu tempat!" sudah pasti dia malas menjelaskan dengan detail dimana keberadaan lokasinya sekarang.
"Benarkah? Dimana?" Gio berkata seolah tak mempercayainya. Dan lagi-lagi Gio melihat wajah kesal gadis itu.
"Aku kan sudah bilang, hari ini aku tidak ingin di ganggu!" sahutnya tambah ketus.
"Kenapa? Kau sungguh merasa terganggu?" ucapan Gio terus menyudutkannya. Nayra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Frustasi dengan semua pertanyaan Gio yang bertingkah seperti anak-anak.
"Aku tutup ya. Maaf, aku benar-benar sedang sibuk" tanpa menunggu jawaban darinya Nayra mematikan ponselnya dengan kesal. Sambil berkerucut bibir dia, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Nayra melanjutkan kembali memilih beberapa balon dan perlengkapan untuk rencana yang sudah dia susun. Ketika gadis itu sedang sibuk memilih, Gio menyuruh supirnya untuk memindahkan semua barang di taksi Nayra ke mobilnya. Dan, dia membayarkan double untuk ongkos taksinya.
"Iya mbak ... maaf tolong bantu bawa ya," Nayra membukakan pintu untuk staff yang membawakan pesanan kuenya. Tapi, dia terkejut setengah mati karena taksinya sudah menghilang. Bunyi klakson menyadarkannya dan saat dia menoleh, Nayra mengenali mobil yang mengklaksonnya.
__ADS_1
Ya … ampun, jangan bilang dia yang melakukannya.
Nayra berjalan mendekati pintu mobilnya yang sudah dibuka oleh Gio. Dan, laki-laki itu menyambutnya dengan senyuman.
"Ternyata, kamu benar-benar sedang sibuk!" Nayra hanya bisa menghela nafasnya. Menyerah dengan sikap Gio yang seenaknya. Tanpa banyak berbicara, dia menyuruh staff tadi memasukkan barang pesanannya ke mobil Gio.
"Masuklah!" ucapnya lagi, menarik tangan Nayra. Nayra sempat terkejut dengan kondisi yang dia pikir Gio lemah, ternyata kekuatannya cukup besar saat menarik gadis itu ke pangkuannya.
Mungkin saat dulu masih berpacaran sikap Gio sepeerti ini akan membuatnya meleleh. Tapi, sekarang Nayra merasa canggung. Gadis itu mencoba bergerak untuk turun. Namun, tetap saja usahanya sia-sia. Gio seolah sengaja, melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis itu.
"Kau mau kemana? Biar aku mengantarnya!" Gio memberikan tatapan dan senyuman mautnya. Laki-laki itu sedang mencoba meluluhkan hati gadis itu dengan mengingatkan masa lalu mereka.
"A—aku, sudah booking salah satu hotel ...," gadis itu berkata ragu-ragu, saat berkata hotel tangan Gio dengan sengaja mengusap pundaknya.
"Gio, bisakah kau turunkan aku!" gadis itu berusaha memelingkan wajahnya. Tapi, Gio malah menyentuh wajahnya agar mereka masih saling menatap.
Gio kenapa sih? Kok dia bersikap agresif seperti ini. Aku benar-benar tak nyaman dengan keadaan ini.
Gadis itu terus bergerak tak beraturan dipangkuannya.
Teruslah bergerak seperti itu, sayang. aku tidak akan melepaskanmu. Seingai Gio di dalam hatinya.
"Jangan banyak bergerak sembarangan, kau tahu, walaupun aku tidak bisa berjalan. Aku ini tetap laki-laki normal!” tangan Gio dengan sengaja menekan penutup untuk akses ke kursi kemudi. Gio tak ingin siapapun melihat atau mendengar tingkah gadisnya yang menggemaskan.
__ADS_1
Nayra tersadar dan menghentikan gerakannya, “Jadi, kau sudah booking di hotel mana?” Gio bertanya kembali penuh penekanan.
Gadis itu segera menundukkan wajahnya karena malu. Nayra hampir frustasi dengan sikap Gio. Walaupun niat Gio hanya menggodanya, tetap saja baginya itu tak nyaman. Segera dia memberitahu nama hotelnya dan Gio memerintahkan untuk segera meluncur. Tapi, yang membuat gadis itu kesal, Gio memerintahkan sopirnya untuk berjalan dengan pelan. Dan, dengan tingkah yang menurut gadis itu menyebalkan. Gio menyalakan music dengan sengaja.
"Gio!"
"Heem."
"Turunkan aku, kau pasti lelah!" saking sudah merasa tak nyaman dan dia pun berpikir kondisi tubuh Gio yang tak seperti dulu. Tapi, tetap saja laki-laki itu menolak untuk menurunkannya.
"Kenapa? Kau sekarang tidak suka, jika di pangku oleh orang cacat sepertiku? Kau merasa aku tidak seperti laki-laki normal—kah?” Gio dengan sengaja menekan rasa bersalah gadis itu.
"Bu—bukan seperti itu ...," gadis itu menghela nafas dan menundukkan wajahnya. Dia benar-benar tak sanggup jika di tatapnya tanpa berkedip oleh Gio. Laki-laki itu berubah dratis, agresif dan bertingkah kekanakan. Menurut gadis itu.
"Dimana Mona? Bukankah seharusnya dia menemanimu!” segera gadis itu mengalihkan pembicaraan.
"Nayra!" kedua tangan Gio tiba-tiba menyentuh pipinya. Mengusapnya dengan lembut. Tapi, wajah gadis itu terus menghindari.
"Tataplah aku. Apakah aku terlihat sangat buruk dimatamu? Karena, aku sudah tidak normal seperti dulu?" Gio benar-benar menghujam ke dasar jantung gadis itu. Ucapannya tepat mengenai sasaran. Tubuh gadis itu bergetar. Dia merasa tak enak hati dan bersalah.
"Bisakah ... sekali saja aku merasakan perasaan—mu seperti dulu? Aku menerima apapun semua kekuranganmu sekarang, Nay. Aku sungguh-sungguh ingin kembali denganmu!”
Ucapan laki-laki itu menyayat hatinya, hingga gadis itu benar-benar bungkam. Dan, saat melihat sepasang mata dihadapannya, mata itu benar-benar penuh harap.
__ADS_1