
Mona baru saja keluar. Dia pun menyaksikan pemandangan tadi. Dia menarik senyuman smirknya, seolah mendapat sedikit celah diantara mereka.
Nayra bangkit dan segera melewati Alex. Tanpa berani bersuara. Hanya menahan sesak dalam dadanya.
Kali ini Alex tetap diam. Dia, tak ingin mengores kembali luka dihati gadisnya. Hanya bisa menatap punggung gadisnya yang kian lama menghilang dari pandangan mata.
Tunggulah sebentar lagi sayang. Aku bersalah padamu. Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk meraihmu dan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, Nay.
Pikiran gadis itu menerawang jauh. Dia mengingat lagi kejadian semalam. Bayangan menyebalkan muncul begitu saja. Nayra membayangkan mantan kekasihnya itu pun melakukan hal yang sama dengan wanita itu.
Menyebalkan. Bisa-bisa, dia bersama denganku sementara sudah tidur dengan wanita lain. Nayra bodoh masih saha tergoda oleh pesonanya. Tapi, dia memang benar-benar mempesona kok.
Umpatnya di hati memaki diri sendiri. Nayra tanpa sadar mengenggam erat kedua tangan dan menggigit bibirnya. Dia cemburu. Dia, masih belum menerima kalau Alex jatuh kedalam pelukan wanita lain.
“Makan malam di rumah saja ya, Nay!” Gio yang menyadari gelagat perubahan Nayra tak ingin sedikitpun memberi celah padanya. Walaupun, Alex terlintas dalam pikirannya.
Mona melirik dari spion depan. Dia, geram karena Gio terus mengistimewakan Nayra.
"Maaf, aku masih sedikit lelah," ucap Nayra menarik tangannya dari sentuhan Gio.
Menyentuh lehernya yang terasa sedikit kaku. Dan mata Gio menyadari stempel kecupan yang membekas dileher gadis itu. Darimana dia mendapatkan itu? Apa semalam dia bersama dengannya? Gio menatap geram pada tanda di leher Nayra.
"Kau lelah? Memang dari mana? Apa pulang dari apartemenku kau masih keluar atau mengerjakan sesuatu?" pancing Gio menyelidik.
"Uhm, itu, aku, tidak kemana-mana!” dia menjawab sambil memalingkan wajah. Tak ingin Gio membaca wajah gugupnya.
__ADS_1
"Aku pikir kau masih bermain," sahutnya tetap menaruh curiga.
"Aku ingin mempersiapkan kado pernikahan Rasti," akhirnya dia beralasan.
"Oya, ah, aku hampir melupakannya," sambungnya.
"Pernikahan siapa, sayang?" celetuk Mona. Dia memang menguping pembicaraan mereka.
"Rasti!" sahut Gio datar.
"Kapan?" tanyanya penasaran.
"Lusa," sahut Gio. Memalingkan wajahnya. Malas meladeni pertanyaan Mona.
"Aku ikut ya, sayang. Aku, kan datang bisa menjadi pasanganmu," kembali tanpa tahu malu dia merenggek.
"Pokoknya, aku nggak mau tahu. Aku, ikut denganmu sebagai pasanganmu!" cetusnya. Dia tak mau kalah atau keduluan oleh nayra.
Gio tak membiarkan Nayra membawa barang-barang yang dibeli oleh Mona. Gadis itu kesulitan sendiri, tapi tetap dicekin oleh Gio.
"Aku pulang. Besok, kau bisa meminta sustermu datang. Aku, tidak bisa menemanimu, harus lembur.” Setelah membantu memapahnya masuk kamar. Gadis itu memberikan ultimatum. Dia, tak ingin diganggu.
"Baiklah, segara istirahat. Jangan lupa makan, kau hanya makan sedikit tadi siang." Pesan Gio. Gadis itu mengangguk dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Saat Nayra keluar kamar Gio, Mona sudah melipat kedua tangannya. Menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
"Jadi, pria tadi yang sudah merubahmu dari seorang keledai bodoh!" sindir Mona.
"Aku rasa pria tadi memang bodoh. Bisa-bisanya memilih keledai bodoh sepertimu. Aku, lihat dari penampilan, wajahnya yang tampan dan sepertinya dia juga kaya. Bodohnya, dia memilihmu, sedangkan dia bisa mendapatkan yang lebih baik. Kau melepaskannya hanya demi seorang Gio, cih, bahkan dia sekarang tak bisa melakukan apapun. Cacat dan lumpuh. Di mataku, kau tetap saja keledai bodoh!”
Perkataan Mona tepat menusuk jantungnya. Dia, akan tetap saja diam jika hanya dia yang mendapatkan penghinaan itu. Tapi, dia hatinya segera terbakar saat dia menjelek-jelekan Alex.
"Lebih baik aku terlihat bodoh. Karena, aku tahu dengan kebodohan diriku ini, dia jatuh cinta padaku. Laki-laki itu benar-benar tulus mencintaiku!” balas Nayra. Mona mengeratkan giginya dengan kesal.
"Sedangkan dirimu? Apa yang bisa kau banggakan? Kau, pikir kau bisa merayu dan menggoda mereka karena wajah dan pakaian sexymu itu.”
“Atau, kau kembali kesini hanya untuk menjadi benalu. Berharap, Gio memaafkanmu. Menggunakan kesempatan lumpuhnya sebagai kartu As-mu.”
“Harusnya kau berkaca diri. Kenapa kau, bisa sampai tak tahu malu seperti ini. Sudah merebut, tak punya harga diri. Menyodorkan tubuhmu hanya demi keuntungan sendiri. Mengandalkan apapun dari tubuhmu, kau pikir, aku tidak tahu. Jadi, sekarang siapa yang terlihat bodoh?”
Nayra benar-benar sudah muak dengannya. Dia, dulu tak bisa melampiaskan semua kekesalannya. Sekarang, dia sudah berada di posisi berbeda. Dia, tidak akan lagi berlari atau menangis saat menghadapi masalah.
"Kau!!" Mona tak mampu berkata apapun. Dia, tersulut emosi dan ingin menampar wajahnya. Namun, Nayra dengan cepat menghentikan sebelum tangannya menyentuh pipi.
"Apa kau lupa? Aku sudah bilang, aku bukan Nayra yang dulu. Nayra bodoh dan lemah yang bisa kalian injak-injak. Aku, Nayra Alleta sangat bersyukur bertemu dengannya. Dia, dengan kesabarannya selalu berada disisiku.”
“Membantu melewati semua hari kelamku. Dia, membuatku tegar menjalani semua. Aku benar-benar sangat mencintainya. Sosok di masa depanku, hanya ada dia, dia satu-satunya lelaki yang kupilih. Dulu, aku begitu bodoh, bahkan rela menutup mata dan telingaku untuk kalian. Aku, begitu percaya pada kalian. Tapi, kau lihat sekarang. Aku dengan bangga menampilkan sosokku sekarang. Karma itu masih tetap ada, Mon!”
Gadis itu mengeluarkan semua kepenatan hati yang ditahannya. Mona tak bergeming. Wajahnya seperti mendapatkan tamparan berpuluh-puluh kali. Membuatnya bergetar seluruh tubuh.
"Kalau sampai hari ini aku masih berada disisi, Gio, itu bukan karena aku mencintainya. Aku, merasa berhutang budi dengannya. Aku harus membayar hutangku sampai lunas. Agar di kemudian hari aku tak punya penyesalan. Aku merasa bertanggung jawab atas kelumpuhannya. Jadi, kau tenanglah. Tidak sedikitpun aku terbersit untuk menarik simpatinya. Saat dia sembuh. Aku pasti pergi. Kau puas dengan penjelasanku sekarang?”
__ADS_1
Perkataan gadis itu terdengar jernih di seluruh ruangan. Menghempaskan tangan Mona. Keluar dari tempat yang membuatnya terkutuk. Huh, menyebalkan. Meraka benar-benar pasangan yang sempurna.