
Dokter berkata Nayra kehilangan banyak darah. Untuk masalah kekurangan darah bisa diatasi. Namun, luka batin yang tanpa sengaja Alex goreskan membuatnya diambang kehancuran.
Alex benar-benar menyesali perbuatannya. Dia, yang berjanji tidak akan membuatnya menangis, tapi dia sendiri mengorek kembali luka Nayra yang sudah akan sembuh.
Hari ulang tahun yang digadangkan akan berbahagia. Namun, dia mendapatkan kado yang tak akan dia lupakan seumur hidupnya.
Rasti mendaratkan satu tamparan keras diwajah Alex. Kali ini dia tak perduli lagi Alex atasannya di kantor. Saat ini, detik ini, dia adalah sahabat Nayra.
"Aku pernah bilang jaga dia baik-baik. Jangan sakiti. Namun, perlakuanmu padanya ternyata tidak kalah rendah dengannya!” tuding Rasti. Dia benar-benar marah setelah mendengar sahabat dan teman sekantornya masuk rumah sakit.
“Sayang, sabar jangan marah lagi!” Robby—kekasihnya mencoba menenangkan hatinya.
“Sabar, hah, bisa-bisanya kau juga membelanya. Dasar kalian semua laki-laki sama saja. Hidung belang. Buaya darat!” dengus Rasti.
__ADS_1
“Aku bisa jelaskan, Ras. Ini tidak seperti dugaanmu!” Walaupun tamparan yang diberikan Rasti membuat pipinya panas. Tapi, dia tetap menerima kesalahannya.
“Jelaskan, cih, kalian para lelaki selalu saja mencari alasan. Aku tidak menyangka, bahkan sifatmu itu lebih buruk dari mantannya!” Rasti tak berhenti saja mengeluarkan semua cibiran. Kali ini dia berbicara mewakili sahabatnya.
"Dengarkan, aku, Ras. Bisakah kau memberikanku kesempatan. Sekali ini saja, please, aku bisa jelaskan semua.” Alex memohon. Berusaha membela dirinya.
"Maaf, Pak, seandainya anda tahu bagaimana Nayra melewati hari-hari kelamnya. Akibat luka yang mantannya torehkan, dia, memintaku menemaninya ke psikiater. Dia, sering kehilangan akal dan labil. Aku terus berada di sisinya. menemani disaat yang sulit. Dia, selalu bilang tak sanggup menjalani kehidupannya. Dan sekarang, bapak bilang ingin jelaskan? Ck, ck alasan macam apa itu? Jika, aku tahu anda akan membuatnya seperti ini. Harusnya dari awal Bapak biarkan saja. Jangan membuatnya jatuh cinta." Rasti berteriak sambil menarik kerah bajunya. Melampiaskan semua emosinya.
Alex terkejut mendengar penjelasan Rasti. Dia, tak menyangka penderitaan yang gadisnya rasakan begitu dalam. Dia, bahkan tak pernah menceritakan semuanya. Dia, menanggung semua dukanya sendirian.
ruang perawatan Nayra.
"Bagaimana, Dok?" Alex menghampirinya. Batinnya makin bergejelok saat dia mengetahui kebenaran tentang gadisnya.
__ADS_1
"Dia, sudah sadar. Namun, belum mau berbicara!" jelas Dokter yang memeriksa kondisi Nayra.
"Kami bisa menjenguknya?" tanya Alex lagi. Rasti membekap mulutnya sendiri. Bnear-benar tak mengira kondisi Nayra akan kembali ke titik nol.
"Boleh. Jaga emosi pasien, jangan bicara yang terlalu berat dahulu," pesan dokter dan meninggalkan mereka.
Mereka masuk dan melihat Nayra duduk diatas kursi roda. Tangannya berselang infus. Tatapan matanya kosong. Dia, seolah tak berjiwa.
Alex tak kuasa menatapnya. Melihat gadis yang sangat dicintainya terpuruk kembali. Alex berlutut di hadapannya. Menyesali apa yang dia lakukan.
Tak berapa lama ketiga teman Alex datang. Mereka pun meyaksikan kejadian yang memilukan hati. Rasti tak kuasa membendung air matanya. Dia, menangis tak bersuara dipelukan kekasihnya.
"Maafkan aku, Nay. Aku mohon maafkan aku. Tolong bicara padaku, sayang ... aku mohon. Jika kau ingin marah, marahlah, pukul aku, Nay. Tapi, jangan menghukumku seperti ini." Alex menyentuh tangan gadisnya yang tak berdaya.
__ADS_1
Mengarahkan tangannya agar memberikan tamparan. Namun, dia tak sedikitpun terusik. Nayra tak bergerak dan bersuara.