
Nayra sudah mulai bekerja. Tangan Alex terus melingkar dipinggangnya. Memapahnya sampai tempat duduknya. Dari kejauhan Rasti menyambut kedatangan Nayra dengan senyuman.
"Aku ke ruangan dulu ya," pamit Alex sambil mengecup keningnya.
"Ehemm ... Udah kayak pengantin baru aja!" ledek Nida.
"Husss!" pekik Nayra.
"Lo sudah benar-benar sembuh, Nay?" Rasti masih menghawatirkan kondisi mental temannya itu.
"Iya, Ras. Gue, sudah sembuh. Thanks banget selama ini, lo selalu jadi orang nomor satu selain Alex yang menghawatirkan kondisi gue." Nayra memeluknya dari bangku kerja.
"Itulah gunanya teman. Bisa lo manfaatin sepuasnya. Selama lo bahagia, gue pun bahagia." Rasti mengusap punggungnya.
Rasti menyadari jari manis temannya, "Wah, wah, kalian gercep juga ya. Bangun sakit langusng tancap gas,” ucap Rasti memegangi jari manis Nayra sambil mengelus cincinnya.
"Iya, gue juga bersyukur bisa memilikinya. Seminggu setelah gue keluar dari rumah sakit, orang tuanya datang lagi. Alex meminta izin untuk tunangan terlebih dahulu. Acaranya hanya keluarga kami saja, Ras. Tidak rame-rame. Alex mengikat gue, katanya takut gue lari ke lain hati,” kekeh mereka berdua tertawa geli.
"Jadi, lo udah sah nih jadi tunangannya? Trus, sekarang gue manggil lo apa nih? Bu Boss apa Boss Nayra?" ledek Rasti.
"Apaan sih, Ras, biasa saja kali."
"Iya, iya, Nayra sayang."
"Eh, iya Ras, gue mau minta tolong. Lo sampaikan ke yang lain ya. Pulang gawe gue undang mereka semua makan malam!" ucap Nayra.
"Siap, Bu Boss laksanakan perintah!" Rasti memberi hormat seperti seorang polisi.
"Ya sudah, Nay. Gue, balik ke meja, kerjaan gue masih banyak." Rasti bergegas meninggalkannya.dan
Nayra berjalan ke pantry membuatkan secangkir kopi untuk Alex. kemudian dia pergi ke ruangannya. Seperti biasa Alex terlihat sibuk. Namun, saat melihat gadisnya masuk, dia menghentikan kegiatannya daa menyambut Nayra
dengan senyuman.
"Aku sudah bilang Rasti kalau kita mengundang mereka semua makan malam," ucap Nayra menaruh kopi tadi dipinggir mejanya. Alex menarik tangannya hingga gadisnya sudah berada dalam pangkuan.
__ADS_1
"Oya? Apa aku bilang, mau mengundang mereka?" Alex menatap mata Nayra. Menggodanya.
"Jangan bercanda!" Nayra mulai merajuk.
"Aku serius, atau kita batalkan saja pertunangannya." Alex menatapnya tajam yang sudah mulai naik pitam.
"Nggak lucu, jangan main-main. Aku nggak suka ya." Nayra menepis tangan Alex yang terus melingkar dipinggangnya dan segera berdiri.
"Memangnya, kamu itu beneran cinta sama aku?" Alex merengkuh Nayra dari belakang yang masih merajuk.
"Apa sih, Lex? Aku, nggak suka ya kamu ngomong seperti itu!"
"Buktikan dong!" Alex menyandarkan kepalanya dipundak gadisnya.
"Bukti apa lagi, Lex? Kamu nggak usah muter-muter, cepat bilang saja!” Nayra makin kesal.
"Pertama, kapan kamu pindah ke apartemenku? Kedua, aku ingin kamu selalu di sisiku, menemaniku dan menyayangiku. Ketiga, dihati kamu cuma boleh ada aku, tidak ada toleransi!" ucap Alex menggodanya yang sudah
benar-benar terbakar api.
"Aku kangen, sayang!" Alex melingkarkan lagi tangannya dipinggang Nayra. Memeluknya dengan erat. Menatap matanya dan sepersekian detik kemudian mereka sudah terbang ke awang-awang.
"Sayang udah, kita sedang di kantor!" Nayra melepaskan pagutan dam pelukan Alex perlahan.
"Kalau sudah menikah, kamu berhenti kerja ya, Nay. Aku, hanya ingin selalu memanjakanmu. Aku nggak mau kamu kecapean atau banyak pikiran. Pokoknya, aku hanya ingin kamu bahagia, mengerti!" Nayra menganggukan lembut.
***
"Sayang, malam ini kamu menginap yaa, aku kangen banget," ucap Alex merayu Nayra sambil mengecup tangannya. Mereka hanya tinggal menunggu tiga bulan lagi menjelang hari bahagianya.
"Nggak, sekarang!" Nayra tetap dengan pendiriannya.
"Kamu, beneran tega membiarkan aku tidur sendiri cuma ditemani bantal dan guling." Alex tak ingin menyerah begitu saja.
"Hahaha, sabar ya sayang. Minggu depan kan aku pindah ke apartemenmu. Lagipula, tidak ada bajuku disana.”
__ADS_1
"Alasan, kamu kan bisa pakai bajuku. Lagipula, kalau kita tidur baju itu sudah tidak diperlukan lagi!” cetus Alex mengutarakan maksudnya. Dia berbicara sambil memutar stir mobilnya.
"Kamu yaa, mulai nakal." Nayra mencubit pinggangnya.
"Aw, sakit sayang. Lagipula, aku kan nakal sama istri sendiri, memang salah!" ucap Alex santai.
"Uhuk. Uhuk!" Nayra tesedak saat mobil Alex berbelok.
"Pelan-pelan minumnya." Alex memberikan tissu untuk mengelap air yang membasahi bibirnya. Dia menatap dari kaca spion wajah Nayra berubah pucat.
"Sayang, kamu kenapa? Apa perlu kita balik lagi kerumah sakit?” Alex khawatir melihat perubahan gadisnya.
"Tidak perlu, kita pulang saja," ucap Nayra dengan nada sedikit tinggi. Alex menurutinya, tidak ingin merusak suasana hati gadisnya.
"Aku an ...,"
"Tidak usah, kamu langsung pulang saja.” Nayra membanting kasar pintu mobilnya. Dan segera memalingkan wajahnya.
Alex melihat dengan jelas wajah gelisah Nayra. Tatapan matanya, saat turun dari mobil Alex berbeda. Sikapnya berubah, tidak seperti beberapa jam lalu yang manis dan lembut.
Nayra penasaran dengan matanya. Dia, mondar-mandir gelisah di depan apartemennya. Pikiran terpecah, jiwanya seolah berlarian tanpa arah.
Alex yang tidak tenang. Memutar kembali stir mobilnya, kembali ke aparteman Nayra. Dan, dia pun melihat jok belakang mobilnya, ada barangnya yang tertinggal.
Kaki penasaran Nayra mengarahkan dirinya ke tempat sosok yang sempat dilihatnya. Nayra mondar mandir ditepi
jalan. Alex akan berbelok segera menghentikan mobilnya. Turun membawa beberapa paper bag menghampirinya.
"Nay, kamu sedang apa?" Alex meraih lengannya sebelum gadisnya menyebrang.
Nayra tersentak, "Ah, eh, aku ... tidak ada, tidak ada apa-apa kok," sahutnya gugup seperti maling yang terciduk polisi.
"Lalu, ngapain kamu disisni?” Nayra segera mengalihkan pembicaraan.
"Oh, aku, ini titipan dari mama." Alex menyerah beberapa paper bag ke tangannya.
__ADS_1
"Ah, iya, bilang makasih sama mama ya, Lex!” Nayra menerimanya. Lalu seperti orang linglung, dia meninggaklan Alex begitu saja.