PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
KUCING NAKAL


__ADS_3

Gadis itu merasakan sesuatu dalam perutnya. Bergetar tidak enak.  Rasanya  seperti berguncang naik rolercoster, berputar hebat naik ke permukaan, mual, dan.


Hueck! Hueck! Hueck!Dia muntah membasahi jas juga kemeja Alex. Rasti membelalakan matanya. Menutup telpon dan menarik tubuh Nayra dari bosnya.


"Maaf, Pak! Saya benar benar minta maaf. Jas dan kemeja Bapak jadi kotor," ujar Rasti segera meminta maaf.


"Nay ... udah dong!"  Rasti mengguncang tubuh nya  yang masih tertawa terbahak tidak jelas.


"It's okay! Sebaiknya cepat kau bawa dia, atau saya perlu ikut dengan kalian?" Alex  menawarkan diri.


Dia terlihat khawatir melihat kondisi Nayra, daripada mengurus pakaiannya yang terkena muntah. Dengan cekatan


Alex membukakan pintu. Memasukkan tubuh gadis itu di kursi penumpang.


"Terima kasih banyak Pak,  saya rasa tidak perlu mengantar. Saya masih bisa mengatasinya. Tapi, pakaian Bapak?"  Rasti tampak memandangi ragu pakaian bosnya.


"Sudah saya bilang, it's okay.  Setelah mengurus keadaan di dalam, saya akan segera pulang." Alex  menyakinkan Rasti agar segera membawa gadis itu pergi.


"Sekali lagi maaf, dan terima kasih atas bantuannya Pak. Kami pulang dulu," ujar Rasti berpamitan dan bergegas


masuk ke mobil.


Benar benar kucing nakal. Tunggu saja nanti. Aku pastikan akan menghukummu dua kali lipat.

__ADS_1


***


Nayra terbangun sudah di apartemennya.


Akh, sakit. Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing. Bahkan dia tidak dapat mengingat kejadian semalam. Dan, hari ini pun dia datang terlambat.


"Gila lo ya!  Ada apa sih? Sampai lo segitunya," sarapan pagi Nayra. Di semprot Rasti saat pantatnya baru akan


duduk di kursi kerjanya.


"Gue juga nggak tahu, Ras. Semalam tuh emang perasaan gue suntuk banget. Kan dari awal gue bilang, gue nggak usah ikut, and you see hasilnya. Lo sih pakai maksa gue!" certus Nayra masam.


"Cih, gue yang di salahin. Lo tuh semalam kebayakan minum dan kelewatan sama bos lo," ujar Rasti ketus.


"Jiah, malah tanya? Mendingan sekarang lo ke ruangannya, gih...," usir Rasti.


"Ke ruangannya? Gue?  Mau ngapain?" Nayra makin binggung.


"Pake tanya, yaa ... minta maaf-lah!"


"Kenapa gue harus minta maaf?" otak Nayra lola, biasa saja, tak merasa ada yang aneh.


"Semalam lo ‘kan mabuk."

__ADS_1


"Uhm."


"Yaa itu, bos lo itu bantu mapah,  eh, tahu tahu  lo muntah. Dan, parahnya lo muntah di jas sama kemejanya, parah


deh," ujar Rasti memanasi.


Nayra sedang meneguk air digelasnya sampai tersembur keluar.  Kaget  mendengar ucapannya.


"Uhuk! Uhuk! SRIUS LO!"  Matanya membulat hebat. Memukuli dadanya sambil mengelap air bekas semburannya barusan.


"Bener-lah, masa gue bohong. Untungnya, dia nggak marah. Dia, baik banget malah nawarin diri buat nganter lo pulang." tambah Rasti.


"YA-AMPUN! Gimana dong. MATI GUE,  kali ini pasti gue dipecat.”


Dia tak bisa membayangkan kemurkaan apa yang akan dilakukan bos itu padanya. Saat dia ketahuan melamun saja, dia disuruh membersihkan toilet selama dua jam. Apalagi ini jas dan kemejanya kena muntah.


Parah. Kesalahan Fatal. Dia bahkan tak bisa menelan ludahnya sendiri.


 "Makanya, sekarang lo ke ruangannya. Minta maaf!" Rasti mendorong tubuhnya hingga di depan ruangan bosnya.


Gadis itu masih mondar mandir di depan ruangan bosnya. Gugup sendiri. Masih mengatur nafasnya yang tiba tiba menderu seperti habis lari maraton.


Jantungnya ikut berdetak tak menentu. Tangannya dingin. Ragu saat memegang knop pintu.

__ADS_1


__ADS_2