PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
SAKIT HATI


__ADS_3

"Aku mau ke kamar mandi," ucap Nayra menarik nafasnya. Gio melepaskan genggaman tangannya. Sesaat mereka saling menatap.


“Aku ingin duduk di kursi roda,” ucapnya kemudian masih menatap Nayra penuh harap.


Gadis itu tak banyak bicara. Kakinya melangkah kearah kursi roda yang berada di pojok kamarnya. Dia mendorongnya hingga kursi tadi dekat ranjang Gio.


Perlahan Nayra menurunkan kakinya dan mencoba memapah untuk memindahkan Gio ke kursi roda. Setelah itu, tanpa banyak bicara, dia keluar kamarnya. Ponsel ditasnya berdering ketika gadis itu baru saja keluar.


Gio menghampiri dan membuka tasnya. Melihat nomor pemanggil dan mencatat nomor Alex dengan ponselnya. Lalu dia memasukan kembali ponselnya ke dalam laci.


"Sebentar, aku panggilkan," ucap Gio. Saat dia membalikkan kursi rodanya. Nayra sudah berdiri dibalakangnya.


"Maaf, aku buka tasmu, ponselnya terus berdering.” Gio memberikan ponsel Nayra.


Tetap tanpa bicara dia mengambil ponselnya. Membalikkan tubuhnya saat mengangkat telpon dari Alex.


"Sayang maafkan aku. Aku belum sempat mengabarimu. Sungguh, tadi mendadak sekali.” Nayra berbicara lembah lembut saat menjelaskan keabsenanya.


Dia tak ingin ada salah faham dan membuat Alex khawatir. Gio hanya bisa menatapnya dengan cemburu. Namun, saat ini dia tak ingin merusak hubunganya yang sedang dibangunnya. Dia ingin gadis itu mempercayainya lagi.


"Hari ini aku ingin di temani seharian olehmu," ucap Gio tanpa basa basi saat Nayra menyimpan ponselnya ke dalam tas.


Gadis itu tetap tak banyak bicara. Dia mendorong kursi rodanya keluar kamar. Ibu Gio menanti mereka dengan cemas.


"Bereskan semua sisa barang yang masih berantakan di kamar, Tuan," ucap ibu Gio memerintahkan pelayan rumahnya saat melihat mereka keluar.


“Nayra sayang, Mama sudah siapkan makan siang buatmu. Kamu makan siang disini, ya. Tolong jaga Gio, Mama mohon, Nay ...,” ibu Gio memohon penuh harap sebelum dia meninggalkan mereka.

__ADS_1


Setelah kepergian ibunya, Nayra mendorong kursi roda Gio ke ruang tv. Menyalakan tv dan menonton bersama. Walaupun matanya kearah tv, tapi pikiranya tetap berada bersama Alex.


"Makan dulu Nay, mama kan sudah menyiapkan makan siang buat kamu," ucapnya mencoba mencairkan suasana.


Gadis itu hanya berdiri, lagi tanpa sepatah katapun. Menuruti ucapan yang keluar dari mulutnya. Gio terus menatapnya yang makan tidak berselera dan melamun.


Setelah selesai makan Gio memintanya dibawa kembali ke kamar. Gadis itu pun lagi-lagi menurut. Mendorong dan memapahnya ke ranjang.


Saat Nayra beranjak, tangan Gio menariknya. Dia tak melepaskannya. Mau tak mau gadis itu duduk kembali di tepi ranjang. Menemaninya hingga tertidur.


Ketika gadis itu yakin dia sudah benar-benar tertidur barulah perlahan tangannya di lepaskan. Mata Nayra berkeliling ke setiap sudut kamarnya. Dia, baru menyadari di setiap sudut kamarnya di penuhi oleh gambar dirinya dari ukuran kecil hingga besar.


Dan dipinggir ranjang tidurnya, Nayra masih melihat gambar mereka yang terpampang di bingkai kecil nan manis. Gambar mereka berdua saat masih bersama dan terlihat bahagia.


Nayra keluar kamarnya dan kembali berkeliling ruangan yang kini hanya di tutupi kain putih. Setiap sudut ruangan dipenuhi dengan kenangan mereka. Memori indah dan sedih mereka saat bersama.


Tanpa terasa air mata Nayra mengalir deras. Gadis itu membuka satu demi satu kain putih yang tertutup tadi. Dia melihat tripod dan kamera kesayangannya.


Gadis itu terkulai lemas saat menyentuh satu demi satu gambar dirinya. Menyadari bahwa laki-laki yang pernah berkhianat itu benar-benar menyesali perbuatannya.


Hati Nayra terjepit diantara dua pilihan.


Pilihan dimana jika dia harus bersama Gio yang telah menolong jiwanya maka Alex yang akan tersakiti. Dan, jika dia memilih bersama Alex hatinya tidak tega melihat kondisi Gio yang sudah tak berdaya seperti ini.


Nayra benar-benar tersiksa. Jika, dia masih boleh memilih dan bersikap egois. Dia, hanya ingin bersama dengan Alex orang yang sangat dia cintai. Gadis itu tertidur. Tubuhnya bersandar di tembok. Gio di dorong suster menghampiri dan membangunkannya.


“Kita makan malam bersama dulu ya,” pintanya saat gadis itu membuka matanya. Nayra melirik jamnya sudah menunjukan pukul enam sore.

__ADS_1


Dia beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang masih terlihat sembab. Saat makan Gio terus menatapnya. Mata sembab dan bengkak.


"Kau sudah banyak berubah, sekarang sangat pendiam di bandingkan dengan dahulu." Gio kembali mencairkan suasana mereka yang canggung. Namun, tetap saja dia tak bergeming dan segera menyelesaikan makannya.


"Aku pamit." Nayra mengambil tasnya bersiap pulang.


"Aku ingin jalan-jalan," ucapnya masih menghentikan Nayra pergi.


“Istirahatlah, Gio. Aku juga lelah dan ingin segera beristirahat, " ucapnya menolak secara halus.


"Aku akan mengajak suster, dan pulangnya aku bisa bersama suster," lagi laki-laki itu masih memaksakan kehendaknya.


Nayra malas berdebat yang akan membuatnya tertahan lama di tempat Gio. dia pun menuruti kemauannya. Mendorong kursi rodanya ke taman.


Di lapangan basket Alex dan ketiga temannya tengah asik mendribel bola.


Sepulang kerja Alex memang sudah bilang akan menjemput gadisnya. Dia, mengisi kekosongan menunggunya dengan bermain bola basket.


Nayra mengembangkan senyuman kearah Alex. Dia yang gagal focus saat akan melemparkan bola. Bola tadi meleset dan menggelinding sampai ke kaki gadisnya.


Nayra merunduk, mengambil bola tadi. Ketiga teman Alex hanya bisa saling pandang melihat drama di hadapan mereka. Drama percintaan antara Alex, Nayra dan Gio.


Gadis itu menurunkan tasnya. Melepas kedua sepatu heelnya di samping kursi roda Gio. Perlahan Nayra mendrible bola tadi dan sangat cepat dia melemparkan bola tadi hingga tepat masuk ke dalam ring.


Semua bersorak dan bertepuk. Tak menyangka, gadis pendiam seperti Nayra akan melakukan one shoot.


Tentu saja sang pemilik sangat berbangga.

__ADS_1


Dia memeluk dan mencium kening gadisnya. Senyuman bahagia terpancar dari wajahnya. Gio yang menyaksikan seperti menjadi penghalang bagi mereka.


Membuatnya sakit hati dan menyuruh suster membalikkan kursi rodanya kembali ke apartemen, meninggalkan mereka...


__ADS_2