PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
AKU CEMBURU? KAU MIMPI


__ADS_3

"Ahh ... sayaannggg... apa-apaan sih kamu, kok aku di siram sih?" renggek Mona manja mengusap wajah dan bajunya yang basah.


Nayra tak bersuara. Dia hanya tak menyangka kalau Gio akan melakukan hal semacam itu. Gadis itu mengingat saat dulu diapun pernah bersikap kekanakan seperti tadi. Mona mungkin pantas dijuluki wanita bermuka tembok. Bahkan setelah diperlakukan seperti tadi pun dia tetap tak perduli.


Mona menarik koper-kopernya masuk ke kamar Gio. Nay hanya bisa menggelang melihat kelakuan tak tahu malunya itu.


"Aku tidak ingin mengganggu kalian, sebaiknya aku pulang. Aku sudah memanaskan makanan. Kau  bisa langsung menyantapnya," ucap gadis itu meraih tasnya yang tergantung di salah satu kursi makan.


"Tidak, kau sudah janji untuk makan malam disini, kau harus menepatinya." Gio tetap bersikeras. Mencegah pergi dan menarik tangannya. Mona baru saja keluar setelah berganti baju.


"Apa-apaan sih kalian? Kalian tidak menganggap keberadaan-ku, hah? Kau masih  saja mau merebut kekasihku?" perkataan Mona mengusik hatinya. Ingin sekali dia membalikan kata-katanya. Namun, dia tetap menahan emosinya.


"Aku memang mau pulang!" akhirnya Nayra membuka suaranya, menjawab semua perlakuan ketus Mona padanya.


Bisa-bisa kau berkata seperti itu padaku, Mon? Kau lupa diri. Kau yang merebutnya duluan dariku.


"Bagus, sebaiknya kau pergi sekarang. Kau hanya mengganggu kemesraan kami. Perlu kamu ingat, Gio sudah menjadi milikku."  Mona tanpa tahu malu mendorong tubuh Nayra dan mengalungkan tangannya di leher Gio.


"Cih ... dia itu bisa kau milikku karena kau yang merebutnya dariku. Silahkan kau ambil dan nikmati. Aku  ini bukan keledai bodoh yang merebutkan sesuatu yang tak berharga."  Nayra menbalas ucapan kasar Mona.


Mona tak mengira akan mendapat perkataan yang ketus darinya. Dia benar-benar sudah melihat Nayra sudah berubah. Gadis itu bukan sahabat kecilnya lagi yang mudah dihasut atau dibodohi.


Gio menghempaskan tangannya. Menggerakkan  kursi rodanya, menarik lagi tangan Nayra menghentikan kepergiannya, "Aku tidak akan mengizinkan kamu pergi. Jika, ada yang harusnya pergi itu bukan dirimu. Aku tidak akan mengizinkan kamu buat meninggalkan aku lagi," ucapnya.


Nayra menatap Gio. Mona geram dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat mendengar ucapan Gio yang lebih membela Nayra. Mona harus bisa menahan emosinya kalau ingin merebut hati Gio kembali.


"Aku tidak akan melakukan kebodohan yang sama. Cukup satu kali aku melakukannya, dan tak akan ada yang kedua." Gio kembali berkata dan menggengam erat tangan Nayra.


Hati Nayra sedikit tersentuh saat mendengar ucapan Gio. Setidaknya, dia sudah bisa membuka sedikit hatinya. Dia tahu, Gio tulus meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


Seberkas senyum tipis mengalir dari wajahnya. Mona yang melihatnya bertambah geram. Dia hanya bisa menghentakn kedua kakinya di lantai. Keki saat Gio membawa kembali Nayra ke meja makan.


Mona terus menggigit bibirnya saat melihat Gio memperlakukan Nayra secara istimewa. Gio sangat perhatian sampai mengambilkan makan  untuknya, "Gio, aku mau shopping besok. Sudah lama aku tidak shopping disini,” Mona merajuk manja meminta perhatian dari Gio.


"Pergilah sendiri, aku tidak ada waktu. Besok, aku akan check-up bersama, Nayra!” Gio beralasan seenaknya tanpa memberitahu gadis itu lebih dulu.


"Ow, baguslah, setelah check up kita bisa dong berjalan-jalan," tambah  Mona, dia tak mau kalah bersaing. Pikirnya.


"Aku ti—," ucap Nayra langsung di potong. Dia, ingin menjelaskan kebohongan Gio barusan.


"Aku tidak keberatan kalau kau ikut. Hitung-hitung bantu jaga Gio saat aku sibuk berbelanja,"  cetus Mona. Menganggap Nayra seperti suster yang menjaga Gio.

__ADS_1


Nayra mendelikkan matanya. Dia menolak keras ajakan Gio. Dia tak ingin ikut campur lebih jauh dalam hubungan mereka berdua.


"Kau tidak apa-apa kan izin satu hari. Kalau kau takut dia keberatan, aku sendiri yang akan meminta izin dengannya. Aku akan meminta izin satu hari untuk kau tidak masuk bekerja.” Gio mengeluarkan kembali keras kepalanya. Tanpa bisa gadis itu menolaknya. Mona menatap mereka secara bergantian. Seolah mencari celah diantara keduanya.


"Tidak perlu, aku bisa meminta izin sendiri.”  Nayra menjawab ketus.


Gadis itu kesal dengan tingkah kedua orang dihadapannya. Dia merasa tak bisa berbuat apapun pada laki-laki itu karena melihat kondisinya. Dia bergegas pergi setelah makan malamnya usai.


"Aarrggghhh!!! Lama-lama aku bisa ikutan gilaaa!" teriak Nayra mengumpat kesal.


Merauk  wajah dan menjambak rambutnya sendiri di jalan. Yang  tak diketahui gadis itu. Alex sedari sore mengikutinya pulang dari berbelanja dan menunggu kepulangan gadis itu di depan apartemen Gio.


Alex selalu saja cemas saat gadis itu ke apartemennya. Hatinya masih tak tenang, dia takut gadis itu pulang sendiri. Yaa, walaupun dia hanya bisa memantau gadis itu dari kejauhan.


Nayra mengehentikan taksi. Namun, dia tidak langsung pulang, melainkan mampir ke pub untuk minum. Dia ingin mengajak Rast, tapi dia ingat gadis itu akan segera menikah jadi dia urungkan.


Nayra duduk sendiri  dengan beberapa gelas yang sudah habis dia minum. Dia, hanya ingin menghilangkan segala kesedihan dan rasa sakit yang dia rasakan. Gio yang terus tak melepaskan pandangannya. Dia, memantau gadisnya tak jauh dari meja yang dia pesan. Apalagi dia tahu, jika gadisnya mabuk akan melakukan hal di luar nalar.


Di tengah dia mabuk, dia ingat pesan Gio untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Gadis itu membuka tasnya dan menelpon. Panggilan masuk berada di ponsel Alex.


"Ha-lo," ucapnya berkata sudah tidak jelas.


"Kau dimana?"  Alex memancing kejujurannya.


"Nay, Nayra!” telpon terputus. Alex  sudah melihat gadis itu membenamkan wajahnya di meja bar.


Alex segera bangkit dan menghampirinya. setelah membayar semua pesanannya. Alex meraih pinggangnya dan memapah Nayra keluar pub. Dia meletakan tubuhnya perlahan di kursi depan, memasangkan sabuk pengaman agar dia tak melakukan hal diluar keinginanya saat mabuk.


"Dasar perempuan gila, kau pikir aku bodoh,hah!" gadis itu masih sesumbar kata yang tak di mengerti Alex, lalu dia tertawa dan cekikikan sendiri.


Kau masih saja menggemaskan saat mabuk sayang. Untung, aku  mengikutimu. Alex tersenyum saat melihat tingkah menggemaskan gadisnya.


"Kau kembali, kau pikir aku apa? Dia, ini milikku.  Ambil saja aku tidak perduli. Ingin  membuatku cemburu, hei ... kau pikir kau siapa? Kau hanya  wanita penghianat perebut kekasihku."  Nayra terus mengoceh. Alex baru menyadari umpatannya ditujukan bukan untuk Gina, gadis yang pernah dibawanya. Tapi, Nayra sedang cemburu dengan Gio.


"Oh, jadi kau sedang cemburu nih?" Alex memancing kejujuran gadisnya.  Bisa-bisanya dia mabuk karena cemburu pada mantannya. Aku, pikir dia masih cemburu dengan Gina. Dengus Alex kesal sendiri melihat kecemburuan di mata Nayra bukan untuk dirinya.


"Cemburu kata-mu, kau gila, kau perempuan gila!" Nayra tiba-tiba menarik kerah baju Alex dengan keras dan membuatnya hampir kehilangan keseimbangan saat menyetir. Hingga, mau tidak mau Alex menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Daripada, dia makin stress dengan tingkah gadisnya saat mabuk.


"Aku cemburu? Kau mimpi. Aku itu sudah punya kekasih, eh salah tunangan  ... kau lihat ini, dia memberikan ini dengan segenap cintanya. Dia,sangat mencintaiku. Alex—ku sangat menvaintaiku tahu!” Nayra mengoyang-goyangkan tubuhnya sambil menunjukkan cincin tunangan mereka.


Alex tersenyum saat melihat sikapnya. Nayra yang begitu berterus terang dan tak ada dinding pembatas saat bertemu dengannya.  Andai, saja kau bicara tidak sedang mabuk, sudah kumakan habis kau. Alex mendorong perlahan tubuh gadisnya yang sudah tertidur.

__ADS_1


"Huh, untung kau tidur sayang, kalau tidak habislah kau malam ini menjadi santapanku," gerutu Alex, menjalankan kembali mobilnya kearah apartemen Nayra. Alex terus meliriknya, gadisnya yang sedang tidur sungguh imut.


Dia memasukkan sidik salah satu jarinya sebagai akses masuk apertemen Nayra. Rupanya kau belum mengganti akses masuk mu sayang. Alex kembali terbuai dengan suasana kerinduannya.


Matanya berkeliling sejenak ke seluruh ruangan. Alex sempat terkejut dengan semua ruangan yang masih sama seperti terakhir kali dia datang. Ruanganya sudah ditutupi dengan kain putih, sebagai rencana awal pernikahan mereka. Gadis itu tak merubahnya sedikitpun.


Dada Alex bergetar hebat, debaran jantungnya meluap-luap seperti gunung yang akan meletus. Apalagi saat dia membuka pintu kamarnya.  Merebahkan  perlahan tubuh gadisnya di ranjang. Alex menyalahkan pendingin ruangan agar gadis itu bisa tidur dengan nyaman.


"Ah, panas sekali!" Nayra tiba-tiba bangun. Matanya masih tertutup. Dia duduk sempoyongan dan mulai melepaskan satu demi satu sepatunya.


“Sayang, tolong buka, aku kepanasan. Ini susah banget sih!”  Nayra membalikkan punggungnya. Menggapai resleting belakangnya yang sulit dia kesulitan untuk melepaskan.


"Kau sedang menggodaku? Hah!" Alex  menelan salivanya ketika gadis itu mulai menggerakkan tubuhnya dengan sensual.


Dengan kondisi berantakan. Gadis itu mencoba berdiri. Dia berjalan sempoyongan menghampirinya. Nayra memeluk tubuh Alex dengan erat. Tanpa sadar gadis itu terus bergerak sesukanya. Membuat Alex menjadi terbakar akan ulahnya.


“Sayang ... kamu disini, aku merindukanmu." Kini tangannya sudah bergelayut manja di leher Alex. Sekuat  apapun pertahanan Alex, jika dia di goda oleh gadisnya, pasti akan runtuh. Apalagi, dia bemnar-benar merindukannya.


"Nayra, dengar, tatap aku. Siapa  aku?” Alex meyakinkan dirinya bahwa gadis itu menyadari keberadaan dirinya saat ini.


"Iihh ... kok kamu tanya sih?  Memangnya kau lupa? Atau  jangan-jangan kamu amnesia lagi?" Nayra meraup kasar wajah Alex  dengan kedua tangannya.


"Nayra ... sayang, hei, dengar,  jawab siapa aku?" Alex sudah dalam batas kesabarannya. Karena gadis itu terus saja membangkitkan sesuatu yang bergrlora dalam diri Alex.


"Kau,hehe ... hiks, hiks." Tiba-tiba gadis itu menangis dihadapannya.


Alex  sudah tak kuat terus mendengar renggekkannya. Dia menarik tengkuk gadis itu, “Jawab, Nayra, siapa aku?” kembali Alex mengulangi pertanyaannya. Alex berkata sambil mendorong perlahan tubuhnya kembali ke ranjang. Dia mendudukan gadisnya di tepi ranjang.


Alex bersimpuh di hadapannya, menatap wajah kekasihnya yang sesegukan menangis, "Jawab sayang, siapa aku?" Alex memalingkan wajahnya yang tak ingin menatapnya. Sehingga mereka saling bertatapan.


"Ka-u lelaki brengsek, lelaki penipu, lelaki yang membuatku jatuh cinta tapi malah melukaiku dengan sangat kejam. Kau brengsek. Kau sungguh tega padaku. Apa salahku, Lex? Apa salahku?” Nayra menangis sejadinya memukuli dada Alex berulang kali.


Alex kini tanpa ragu lagi mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. Mengecupnya dengan hangat disana setelah mendengar jawaban darinya. Mereka mulai melepaskan semua yang dikenakannya. Tanpa ragu, berpagut rindu dan saling membalas. Mereka meluapkan segara kerinduannya. Rindunya yang tak bisa ditahan meraka lagi...


Suara deringan ponsel membuat gadis itu terbangun. Nayra terbangun dan duduk di pinggir ranjang. Dia memegangi kepalanya yang sakit.


"Ah, aku semalam terlalu berapa banyak minum.” Gadis itu berguma sendiri.


Dia kembali tersadar saat mendengar ponselnya berdering kembali. Nayra meraih ponselnya yang tergeletak di bawah ranjang, mencoba meraihnya dan, GUBRAK!!!


Nayra  tersungkur di lantai. Dia, tersentak saat merasakan dingin dari tubuhnya. Kemudian dia meraih ponselnya. Namun, bayangan dari lantai membuatnya mendelik. Dia, kini bertubuh polos, tanpa mengenakan sehelai benang pun.

__ADS_1


Aaarrrggghhhhh!!! Teriakannya bergema  di ruang tidurnya.


 


__ADS_2