PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
JADI, KAU CEMBURU?


__ADS_3

Dari dalam kamarnya, Gio mendengar pertengkaran Nayra dan Mona. Bukan hanya telinganya yang mendengar semua pengakuan gadis itu. Hatinya pun bergetar dan hancur.


Dia, baru mengetahui semua. Gadis itu menyimpan rasa sakitnya yang begitu besar. Gio menyadari betapa tipisnya peluang dia jika memaksakan diri untuk kembali.


Gio tak menyadari Mona masuk ke kamarnya dan melihatnya berdiri di dekat jendela. Gadis itu membekap mulutnya. Dia, terkejut sekaligus bahagia.


"Gi-Gio, ka-kau ... bisa berdiri!" spontan Gio berbalik dan menatap Mona dengan tajam.


"Cih, dasar wanita bodoh!" umpatnya menahan kekesalannya dan berpura-pura selama ini.


"Ah, Nayra harus tahu ini. Aku, akan mengejarnya dulu !” Mona merasa memiliki kesempatan untuk bersamanya tanpa harus bersaing dengan Nayra.


Gadis itu akan membuka pintu. Tapi, Gio yang menyadari pertengkarannya tadi langsung bereaksi. Laki-laki itu menarik tangan Mona dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.


"Berani kau buka mulut. Aku, tidak akan segan membunuhmu. Sebaiknya kau tutup mulut cerewetmu itu, kalau kau masih tetap ingin hidup!" ancamnya. Mencekik leher dan mencengkram kasar mulutnya.


Mona yang tak mengira akan mendapat perlakuan seperti itu. Dengan nafasnya yang tersengal. Mengangguk dengan isyarat bola matanya. Mona tak pernah mengetahui jika laki-laki yang dicintainya itu memiliki pribadi yang berbeda.


Selama mereka berhubungan, Gio selalu menjadi laki-laki penurut dan manis dimatanya.


"Sebaiknya kau pindah kamar. Aku sudah muak tidur satu ranjang denganmu, kalau memang kau masih tetap ingin tinggal di sini," ucapnya. Menghempaskan tubuh Mona.


"Ba-ba-baik! Aku janji tidak akan mengatakannya!" ucap Mona sambil memegangi leher dan mulutnya yang sakit.


"Aku akan mengawasimu. Sekali saja, aku melihat yang mencurigakan. Aku, tak akan segan melenyapkanmu!" Gio meninggalkan gadis itu.


Kembali duduk di kursi roda dan keluar dari kamarnya. Apa itu sungguh Gio? Kenapa dia bisa berubah seperti itu? Dia, kini seperti monster yang menyeramkan. Benar-benar mengerikan.


***

__ADS_1


Nayra baru saja keluar dari apartemen Gio. Berjalan pelan mencari taksi. Dia, mendengar klakson berbunyi. Saat dia berbalik, mobil Alex sudah berada di sampingnya. Alex membuka kaca mobilnya, “Masuklah!” ucapnya.


Nayra terpaku sesaat, dia masih tak bergeming. Laki-laki yang ingin sekali dia temui sekarang ada dihadapannya. Namun, dia tak berani sekalipun untuk menatapnya.


Alex kesal karena gadisnya tak mengiraukan ucapannya. Akhirnya, dia melepas **** belt, keluar dan menarik paksa gadis itu masuk ke mobilnya. Saat gadis itu sadar dari lamunan dan mencoba keluar. Alex mengunci dan membawanya pergi.


"Kenapa? Kau, bahkan tak ingin bertemu denganku? Mantan calon tunangan-mu sekarang!" Alex melirik gadisnya yang tak diam tak mau berbicara. Alex dapat mengerti kegelisahan hati gadisnya.


Alex tak menghentikan mobilnya saat melewati apartemen gadis itu. Mobilnya terus saja melaju, dia ingin sekali berbicara. Tapi, "Jangan berharap kau bisa pulang sebelum kita berbicara!" cetusnya.


Apa sih maunya? Setelah mencampakkan-ku sekarang malah dia yang bersikap manis terhadapku. Nayra kesal sambil menunjukkan wajah cemberutnya.


Alex membawanya pulang ke apartemennya. Gadisnya tak mau turun dan tetap bertahan dalam mobilnya.


"Kau tetap tak mau turun?" Alex yang sudah membuka pintu mobilnya. Gadis itu tetap tak menjawab. Hanya memalingkan wajah, berusaha tak memperdulikannya.


"Ok, jangan salahkan aku!” dia tambah kesal karena gadisnya tetap tak perduli.


Alex gregetan sendiri terhadap Nayra.


Tangannya secara reflek menarik paksa gadisnya keluar. Nayra berontak dan memukuli lengannya.


Namun, tubuh besar dan kekuatan Alex tak bisa dia kalahkan. Gadis itu di tarik paksa naik ke pundaknya dan dengan cepat membawanya masuk ke dalam lift.


"Alex, kau gila. Turunkan aku!” mereka menjadi tontonan banyak orang, tapi Alex tetap tak perduli.


"Aku sudah bicara baik-baik padamu tadi, tapi kau menganggap aku bercanda. Sekarang kau rasakan sendiri akibatnya!” sahutnya. Dia bertingkah seperti anak kecil.


"Turunkan aku. Turunkan sekarang!"

__ADS_1


Gadis itu terus berteriak, tapi laki-laki itu tetap tak memperdulikannya. Saat pintu apartemennya terbuka, Alex baru melemparkan tubuh Nayra ke lantai. Gadis itu meringis, kemudian segera bangkit dan mendekati pintu.


Mencoba membuka pintu Alex dengan kode dan sidik jari. Tetap saja pintu itu tak terbuka.


Hah, siall dia telah mengganti semuanya.


Nayra mencari keberadaan Alex penuh amarah, "Alex, buka pintunya, aku mau keluar!” teriaknya keseluruh ruangan. Namun, tak terdengar sahutan darinya.


Sedikit ragu-ragu dia masuk ke kamarnya. Kamar yang sudah lama sekali, dia tak memasukinya. Apalagi, dia tak ingin mengingat kenangan buruknya saat itu.


Matanya membulat tak percaya. Ranjang itu sudah tidak ada, ranjang yang pernah dinaiki wanita itu sudah di ganti. Dan, yang membuat gadis itu tersentak.


Dia, melihat satu figura berukuran besar menghiasi kamarnya. Foto didalamnya adalah foto prewedding mereka berdua. Apa ini? Apa maksudnya? Dada gadis itu berdebar dengan hebat saat melihatnya.


"Kau sudah puas menatapnya?" suara Alex dari belakang menyapanya.


Gadis itu berbalik dan seketika tubuhnya mundur beberapa langkah. Nayra melihat Alex baru saja mandi dan dia hanya membalutkan handuk di pinggangnya.


"Kau gila! Aku mau keluar sekarang!" hardiknya. Nayra merasa dirinya terlihat murahan. Dia, tidak bisa menerima perlakuannya yang seperti itu.


"Ah, keluar? Benarkah? Kau sungguh ingin keluar? Kau tidak menginginkan ini?" Alex dengan sengaja akan membuka handuknya.


“Kau benar-benar gila, Alex. Aku, tidak serendah itu. Aku bukan wanita murahan yang kau bisa panggil seenaknya, setelah puas kau meninggalkanku!”


Entah kenapa gadis itu tiba-tiba kesal saat mengingat itu. Tapi, dia tak bisa membohongi yang dilihatnya. Tanpa sadar dia menatap tubuh Alex yang masih basah dan menelan salivanya sendiri.


"Jadi, kau cemburu? Kau, sungguh tidak ingin mengatakan apapun padaku." Alex terus melangkah maju. Tak membiarkan gadis itu luput dari pandangannya.


Nayra yang tanpa sadar kini dia malah terpojok pada ranjang baru milik Alex, "Apa yang harus aku katakan? Sepertinya tidak ada hal yang penting." Gadis itu tetap memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Lebih baik kau buka pintu, aku mau pulang!" sambungnya. Mencoba bergeser sebisanya dan menghindari tatapan matanya. Namun, saat gadis itu bergerak kemanapun. Alex mengikuti dan menghalanginya.


"Kau sungguh tak bertanggung jawab," seringai Alex. Dia, sekarang benar-benar melepaskan handuknya. Hingga, terpampang nyata tubuh polos itu. Nayra menahan tubuhnya dengan kedua tangan.


__ADS_2