PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
PEDEKATE


__ADS_3

Gadis itu memutuskan untuk ke apartemen bosnya setelah pulang kantor. Membawa sekantong buah dan secarik


kertas yang bertuliskan alamat apartemen bosnya. Dia memberanikan diri menyambangi tempat tinggal bosnya.


Tiga kali gadis itu menekan bel. Tapi belum ada yang membuka pintu. Ah, mungkin dia sedang tidak di rumah. Baru saja gadis itu berbalik akan meninggalkan pintu, terdengar suara pintu di buka.


Nayra membalikkan badannya dan melihat bosnya sudah berbalut dengan gips ditangannya. "Ba-pak," gadis itu segera menghampiri.


"Tidak perlu khawatir, hanya keseleo. Aku hanya perlu istirahat beberapa hari. Kamu? Apa ada urusan kantor yang mendesak, sampai-" Alex yang tak mengira gadis itu akan menyambangi tempatnya.


"Ti-tidak, saya memang sengaja ingin melihat keadaan Bapak. Bagaimana pun ini kesalahan saya, saya sungguh-sungguh minta maaf, saya-" Gadis itu benar benar merasa tidak enak dan bersalah. Apalagi setelah melihat kondisi tidak baik bosnya.


"Masuk-lah, tidak sopan berbicara di luar," Alex membuka lebar pintunya dan mengajak gadis itu masuk.


Mata Nayra langsung berkeliling. Apartemen bosnya bersih dan rapih. Semua tertata sesuai dengan tempatnya, tidak seperti apartemen mantan tunangannya yang seperti kapal pecah. Ah, kenapa aku jadi kepikiran orang


brengsek itu, Nayra bodoh. makinya.


Alex menyiapkan minuman dengan satu tangan, "Jangan repot repot Pak, saya hanya sebentar," ujarnya. Malu dan tak enak hati.


"Tidak repot, silahkan," Alex menatap gadis itu tajam dengan leluasa. Sekali kau masuk, tidak akan ku biarkan kau


keluar seenaknya, kau harus menjadi milikku. Sedikit canggung dengan tatapan bosnya yang menusuk kalbu. Gadis itu pun meneguk minuman yang dibuatkan oleh bosnya.


"Oya, Pak, saya bawakan ini. Sekali lagi saya benar benar minta maaf."  Nayra menyerahkan buah tangan


yang dibawanya.


"Berhentilah merenggek seperti itu. Telingaku sakit mendengarnya,” sahut bosnya terdengar ketus dan tegas di telinga Nayra.


Nayra tersentak,  "Ba-ba, ba-ik Pak, Ma-af!" Alex kembali mendelikkan matanya,


"Eh, maaf Pak."


"KAU!"

__ADS_1


"Iya, iya, ma-af, saya lupa," Gadis itu serba salah, membuat seberkas senyuman di wajah bosnya. Ah, manis, lucu dan imut sekali kau. Aku sudah tidak sabar untuk memilikimu.


Akhirnya, mereka mengobrol banyak hal. Dari soal pekerjaan sampai hal lainnya. Nayra mengira bosnya orang yang dingin, serius juga angkuh. Ternyata pikirannya salah.


Sebelum pulang, Nayra sempat memasak untuknya. Alex tak menolaknya, dia bahkan membiarkan gadis itu melakukan apapun yang dia suka seperti tempatnya sendiri. Sebagai permintaan maaf, Nayra menyuapinya. Beberapa kali, tanpa sengaja, mereka saling mencuri pandang ....


***


Di kantor, keesokan harinya. Gadis itu memberanikan diri mengetuk ruangan bosnya. Mengajaknya makan siang. Dan, kali inipun Alex tidak menolaknya. Saat makan Nayra sibuk sendiri, memaksa bosnya untuk menerima suapan darinya. Gadis itu tetap merasa bersalah pada bosnya.


Beberapa teman kerja termasuk Rasti memergoki mereka.


"Ehem, ehem ... enak yaa bisa makan ciang berdua- an ... pake cuap-cuapan segala," Rasti meledek saat di meja kerja Nayra setelah makan siang.


"Apaan sih, tadi itu sebagai bentuk pertanggung jawaban gue. Lo ‘kan lihat, tangan kanannya di gips."


"Iya, iya deh ... tapi sebenarnya lo juga suka ‘kan bisa berduaan sama dia. Jujur deh," Rasti menaikan kedua alisnya.


"Iiihhh ... Ras, jangan bikin gosip. Nggak enak kalau kedengerannya. Gue dan dia ‘kan cuma bos dan bawahan," ujar Nayra, tapi wajah gadis itu memerah.


Beberapa hari berlalu, gips Alex sudah dilepas. Namun, kedekatan mereka beberapa hari itu sudah menimbulkan banyak spekulasi. Mereka beranggapan, mereka berdua berpacaran.


"Nay, di panggil ke ruangan cinta lo tuh," ujar salah seorang rekan kerja Nayra.


"Maksudnya?" Nayra menautkan alisnya.


"Alah, sudah tidak usah pura-pura lagi. Siapa lagi yang panggil kalau bukan bos kesayangan lo itu."


"Pak Alex?"


"Iyalah, memang siapa lagi?" tanpa membalas, Nayra bergegas ke ruangannya. Pintu baru satu kali ketuk, sudah terdengar kata "Masuk" dari dalam ruangan.


"Bapak, mencari saya?" Gadis itu sudah dihadapan bosnya. Dia masih sibuk dengan laptop dan berkas yang berserakan di meja. Alex menarik kursinya, beranjak dari duduknya.


"Temani saya cek lokasi untuk klien baru kita, Nay." Gadis itu masih terdiam. Haduh cek lokasi. Malas banget. Itu ‘kan tempatnya di pedesaan. Pasti becek dan nggak enak banget!.

__ADS_1


"Ada mbak Wenny yang bertugas Pak-"


"Wenny, sudah saya tugaskan mengerjakan yang lain. Saya ingin pekerjaan kita cepat selesai, karena itu saya bagi tugas. Kamu tidak keberatan ‘kan menemani saya?" Alex berjalan menghampirinya. Tangannya dengan luwes menyentuh rambut gadis itu. Merapikan rambut Nayra yang berantakan.


Dag Dig Dug Aiish, apa sih Pak Alex ini. Kenapa dia bersikap manis kek gitu, bikin aku salah tingkah saja.


"Emm, ba-baik Pak. Kapan kita berangkat? Sekarang?" Nayra segera menghilangkan rasa yang berdebar tak karuan di jantungnya.


"Besok pagi. Saya jemput kamu langsung ke apartemen dan kita berangkat dari sana!" Nayra menangguk.


"Kalau tidak ada urusan lagi, saya lanjutkan pekerjaan saya, Pak," dia pun keluar ruangan bosnya setelah


mendapat anggukan.


Huah, aku hampir gila. Untung saja aku masih bisa menahan diriku. Kalau tidak, habislah dia jadi makan siangku. Alex meraup kasar wajahnya. Memendam semua gejolak dan gelora di dadanya yang hampir keluar seperti bisul yang akan meletus.


Mati aku. Jantungku hampir saja copot. Kenapa dia makin ganteng saja sih. Nayra memegangi dadanya yang masih berdebar tak karuan walaupun dia sudah keluar dari ruangan bosnya.


***


Esok paginya. Alex datang tepat waktu. Sinar matahari baru saja mengudara. Udara pagi masih terasa dingin dan sejuk saat mereka berangkat.


"Makanlah dulu, kamu pasti belum sempat sarapan," Alex menyodorkan paper bag berisi sandwich dan kopi hangat kepangkuan gadis itu.


"Terima kasih Pak, Bapak sudah sarapan?" Dia membuka satu sandwich. Alex menggeleng sambil menyetir.


"Saya suapin, boleh, Pak?" Nayra bertanya ragu. Namun, ini bukan pertama kali baginya kalau harus menyuapi sang bos apalagi dia melihat bosnya sedang menyetir.


Alex melirik, dan mengangguk, "A-a," ucapnya tanpa malu. Nayra akan membuka sandwich lain.


"Itu saja, aa-aa, cepat aku juga lapar nih," ucapnya tak sabaran.  Terlihat luwes menggunakan bahasa aku dan kamu. Membuat pagi hari gadis itu berdebar kembali.


Dia menyuapi bosnya satu gigit, kemudian gigitan selanjutnya Nayra. Berulang hingga sandwich yang dibawa


bosnya habis mereka makan. Alex tersenyum melirik dari kaca spion. Lelaki itu berhasil melancarkan aksi pedekate-nya. Pelan pelan. Namun, pasti memasuki hati gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2