
"Apa kabar, Lex?" Gio tersenyum picik mengelurkan tangannya saat bersalaman.
"Baik!" sahutnya mengabaikan uluran tangan Gio.
"Aku ke sini mengantar beberapa pakaian gantinya. Semua sudah aku taruh di kamarnya. Aku pergi." Alex bergegas meninggalkan mereka. Matanya tak ingin dicemari oleh suasana romantis yang dibuat rivalnya itu.
"Sebentar ya sayang, aku antar dia dulu," Gio berkata pada Nayra dan menyusulnya yang sudah keluar dari pintu.
"Alex!" panggil Gio.
Laki-laki itu menghentikan langkahnya, berbalik. Manatap tajam dan geram sikap dengan sikap Gio yang terlihat sombong.
"Bagaimana? Bagaimana rasanya menjadi orang yang tak diperdulikan? tak diingat sekali pun?" seringai Gio menaikan rahangnya dengan kasar.
Alex masih tetap diam. Dia tak ingin menanggapi semua ocehan yang keluar dari mulutnya.
"Kau tahu ... itulah perlakuan Nayra padaku. Saat aku, memohon dirinya untuk kembali. Dia, sama sekali tak perduli. Dia hanya menceritakan dan memujamu. Setiap ucapannya membuatku muak. Dia, hanya membanggakanmu, hanya ada kau saja dibenaknya."
"Dia sama sekali tidak perduli denganku, padahal aku begitu tulus menginginkan hubungan kami seperti dulu. Aku benar-benar masih mencintanya sepenuh hati dan jiwaku.” Gio mengeluarkan semua rasa yang dia pendam.
__ADS_1
"Brengsek!!" Alex tanpa ragu mendaratkan bogem mentahnya berulang kali pada wajah dan tubuhnya.
Gio tidak melawannya. Alex semakin merasa tertantang. Senyum picik keluar dari wajahnya membuat Alex muak dan terus memukulinya.
"Dengar, aku tidak akan membiarkan ini berlangsung lama. Aku yakin Nayra—ku akan segera tersadar. Nayra pasti bisa menemukan dimana cinta sejatinya, dan saat dia kembali. Aku tidak akan membiarkannya lepas sedikitpun dari sisiku."
"Nayra berhak bahagia, dan orang sepertimu hanyalah sampah tak berguna yang menggunakan kelemahan sebagai alasan. Alasan klise hanya untuk mengemis cinta.” Alex menghempaskan kasar tubuh nay, dan sekali lagi dia memberikan pukulan di wajah Gio dengan keras.
Nayra merasa terlalu lama. Saat dia membuka pintu dan melihat Gio sedang dipukuli. Dia, berlari sekuat tenaga menarik tubuh Alex dari tubuh Gio.
"Apa yang kau lakukan? Hah!" hardiknya. Mendorong tubuh Alex ke tembok dan mendaratkan satu tamparan keras dipipinya.
"Kau tidak apa-apa, sayang." Nayra bergegas meninggalkan Alex yang terlihat syock karena tamparannya tadi.
Alex mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Geram saat mendengar gadis yang sangat dicintainya memanggilnya dengan begitu mesra. Nayra menghampiri Gio dan membantunya berdiri.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Sungguh kau tidak perlu khawatir," ucap Gio mencari kesempatan merengkuh Nayra ke dalam pelukannya.
"Apa lagi yang kau tunggu, pergi!!!" usir Nayra dan memapah Gio meninggalkannya.
__ADS_1
Alex sudah tidak bisa menahannya, emosinya benar-benar tersulut, "Sayang, lihat aku, lihat wajahku dengan jelas. Tolong ingat aku, aku ... Alex orang yang paling penting dihidupmu. Bukan laki-laki itu." Alex mencengkram lengan Nayra. Menghentikan langkahnya membawa masuk Gio.
"Aw, sa-sakit! Lepas, lepaskan aku!" Nayra menghempaskan tangan Alex.
"Gio, ayo kita masuk. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi," ucap Nayra masuk dan menutup pintu dengan keras.
Di apartemenya, Alex terpuruk dalam kesedihan. Jiwanya sekan hilang. Dia dengan matanya sendiri menyaksikan orang yang dicintainya sangat benci padanya. Bahkan dia menganggap dirinya sebagai musuh.
“Nayra, sayang ... cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu.” Alex berkata lirih. Air matanya berlinang membasahi pipi saat hatinya mengingat semua kenangan manis bersama gadisnya.
Alex harus bisa menguatkan hati. Dia, harus berusaha lebih keras mendekati Nayra. Membuatnya jatuh cinta seperti dulu. Namun, semakin keras dia mencoba Gio sudah membuat benteng dan tembok yang sangat tinggi untuknya.
Nayra menghapus semua tentangnya. Dia bahkan tak menunjukkan perubahan. kemanapun kaki Nayra melangkah, disana pasti ada Gio.
***
"Sudah setengah tahun berlalu, tapi Nayra, sepertinya makin menjauh darimu. Apa kau akan tetap berdiam diri seperti ini, Lex?" Rasti sengaja meluangkan waktu makan siang dengan Alex.
"Aku juga sudah buntu, Ras. Segala hal sudah aku coba. Semakin aku mencoba mendekati. sikapnya malah bertambah kasar." Alex terlihat putus asa.
__ADS_1
"Aku juga sudah mencoba mengajaknya bicara berdua. Mencoba mengingatkan semua hal tentangmu. Tapi, dia selalu saja memotong pembicaraanku dengan membahas Gio. Sepertinya otak Nayra sekarang hanya ada, Gio dan Gio.” Rasti pun terlihat frustasi saat membahasnya.