
Setalah peristiwa yang menyakitkan bagi Nayra. dia tetap menjalani hari seperti biasa. Kali ini, dia tidak bercerita apapun tentang masalahnya pada Rasti—teman sekantornya itu. Sebenarnya tanpa berbicara pun dia mengerti dengan kondisi hubungan Nayra dan Alex yang sedang tidak sehat.
Gadis itu menyimpan dan menelan semua kepedihannya sendiri. Rasti hanya bisa memberikan dukungan terbaiknya saja tanpa banyak menyalahkannya. Dia berusaha tegar melalui harinya. Sering menerima tugas keluar kantor untuk mengurangi rasa canggung dan pertemuannya dengan mantan kekasihnya itu. Ya ... kata-kata itu harus selalu ditanamkan dalam hatinya agar dia bisa kembali tegar dan tersenyum walau hatinya pedih.
"Nay, sibuk nggak?" Rasti menyambangi meja kerjanya. Gadis itu tengah beberes berkas yang akan di bawa keluar olehnya.
"Eh, Ras ... iya, ada apa?" Nayra menatap wajah sahabatnyaterlihat ragu-ragu saat menatapnya.
"Iya, ada apa, Ras? Ngomong aja, nggak apa-apa kok." Nayra kembali meyakinkan sahabatnya, dirinya baik-baik saja.
"Ini Nay, gue mau kasih ini." Rasti memberikan undangan pernikahannya dengan Robby yang akan berlangsung minggu depan.
Gadis itu menatap undangan pernikahan yang di berikan Rasti. Hatinya sedikit bergetar ketika menatap undangan tadi, seharusnya pun satu bulan lalu, dia sudah berubah status menjadi Nyonya Alex. Namun, sekarang semua hanya sebuah kenangan yang harus dia lupakan. Bertunangan dua kali, berencana menikah dua kali dan gagal pun dirasakannya dua kali.
"Mmm ... oke, gue pasti datang, minggu depan kan?" Nayra menyunggingkan senyuman dan memasukkan undangan pernikahan tadi ke dalam tasnya.
"Sebenarnya kalau lo nggak bisa hadir, gue nggak maksa kok, Nay. Gue, kan tahu lo pasti ...," ucap Rasti terdengar hati-hati. Kembali menatap wajahnya yang tak berubah sama sekali. Nayra kini menjadi wanita dingin, tanpa ekspresi. Kegagalan membuatnyaa extra hati-hati.
"Gue pasti datang, Ras. Tenang saja, it's ok, nggak masalah. Gue bisa atasin semua kok. Gue bukan Nayra yang dulu, yang akan menangis, terpuruk atau bahkan prustasi hampir gila. Gue, sudah belajar dari semuanya. Gue, nggak akan jatuh lagi buat ketiga kalinya di lubang yang sama." Nayra mengokohkan hatinya sambil menepuk pundak sahabat terbaiknya.
Rasti tersenyum getir, "Iya ... Nay, gue percaya elo. Elo, pasti bisa lalui ini dan berjalan dengan tegak." Rasti memeluk sahabat, mencoba memberikannya kekuatan lebih.
"Ya sudah, Ras, gue jalan dulu yaa, sudah di tunggu nih," ucap Nayra melepaskan pelukan dan bergegas meninggalkan meja kerjanya.
Di saat bersamaan Alex pun keluar dari ruangannya dan berpapasan dengan.
Gadis itu tanpa ekspresi menunduk kepalanya. Melewatinya tanpa menoleh sedikitpun. Tanpa sadar kaki Alex pun mengikutinya. Nayra mengerjakan proyek dengan klien sambil makan siang. Usai pembicaraan yang berakhir dengan keberhasilan, dia hanya bisa duduk terdiam. Melirik jam di tangannya membuat gadis itu malas balik ke kantor.
Ponselnya berdering, dia merogoh tas dan melihat nama yang memanggilnya Gio.
"Uhm." Nayra mengangkat telponnya datar.
"Bisakah kau datang untuk makan malam hari ini?" suara Gio dari seberang telpon. Gadis itu tidak menjawab. Dia mematikan ponsel dan memasukkan kembali dalam tasnya.
Nayra berjalan malas menyusuri jalan, kakinya berbelok mampir membeli buah. Dia memberhentikan taksi dan menuju apartemen Gio. Alex terus mengikutinya dari kejauhan.
__ADS_1
Gadis itu duduk tertunduk menghadapi piring makannya, "Aku ingin jalan-jalan, sudah lama tidak keluar. Besok kau kan libur, maukah kau menemaniku?" Gio berkata menghentikan sesaat makannya, menarik wajahnya perlahan.
"Maaf, sepertinya aku akan sibuk seharian. Aku masih harus mencicil barang-barangku!" Nayra setengah beralasan karena dia malas menemaninya. Dia pun berencana akan mencari kado untuk Rasti.
"Bukankah Rasti minggu depan menikah? Aku ingin membelikan kado. Dan, kalau memang kau masih mencicil barang, aku bisa menunggu sampai kau benar-benar selesai," ucapnya tetap bersikeras tidak ingin penolakan dari Nayra.
Gio menjadi seorang yang pemaksa, apapun yang dia inginkan, dengan alasan apapun, dia tetap harus mendapatkannya.
"Baiklah." Nayra malas membuat pembicaraan mereka menjadi arena debat.
***
Nayra berjalan tertunduk melihat langkah kakinya sendiri. Dia, berjalan pelan kearah taman dimana biasanya Alex dan ketiga temannya bermain basket. Gadis itu duduk di bangku taman. Membuang semau nafas dan sesak dalam dadanya. Kini matanya sudah tak sanggup lagi membendung air mata yang sejak tadi ingin mengalir.
Dia menangis melepaskan semua luka dan kepedihannya. Membuang semua sesak didadanya. Alex hanya bisa memandangi wajah kekasihnya dari kejauhan. Hatinya pun sama terlukanya. Melihatnya menangis tersedu, menyayat dan merobek hatinya.
Pukul 7 pagi Nayra sudah berada di depan pintu apartemen Alex. Dia menatap kartu pas masuk apartemennya. Dia ingin sekali menggunakannya. Namun, gadis itu berpikir lagi, apakah dia masih pantas untuk memakainya? Akhirnya, dia memutuskan untuk menekan bel apartemennya. Bel berbunyi tiga kali. Alex bangun, menguap dan menggerutu sambil membuka pintu apartemennya.
"Siapa sih ... pagi-pagi sudah mengganggu tidur orang," umpatnya kesal.
"Ma-af, aku nggak tahu ka-mu masih tidur," ucapnya canggung. Nayra tak enak hati karena mendengar umpatannya barusan.
"Aku hanya ingin mengambil sisa barang-barangku yang masih di sini," ucapnya lagi berbalik menatap Alex, dia hanya mengangguk.
Saat masuk ruangan Alex mencium aroma parfum kesayangan gadis itu. Aroma Rosemary dan vanila menyeruak dihidungnya, membuat pikirannya tenang dan bahagia. Rasanya Alex benar-benar ingin melompat kedalam pelukannya. Memeluknya dengan erat dan membebaskan semua rasa gelisahnya saat kepergian gadis itu.
Aku merindukanmu sayang, sangat rindu kamu. Batin Alex berteriak. Namun, lagi-lagi tangannya tak berani untuk mengutarakan atau menyentuh Nayra lagi.
Nayra berjalan pelan memasuki ruangan yang terlihat sangat suram dan berantakan. Apartemen yang biasanya tersusun dengan sangat rapih.Tubuhnya masih bergetar hebat saat memasuki kamar Alex. Kamar dimana mereka sering memadu kasih bersama. Namun, sayang yang tersisa sekarang dihatinya hanyalah kepedihan.
Alex hanya mengikutinya pelan. Dia melewati tubuh gadis itu dan kembali menghempaskan tubuhnya di ranjang. Nayra menoleh, Alex membenamkan tubuhnya dalam posisi tengkurap. Rasanya masih sangat aneh melihat sikapnya yang kembali dingin. Sampai hari ini gadisitu masih belum mempercayai hati orang yang mencintaiinya itu berubah dengan cepat.
Nayra membuang perasaan dan nafas panjangnya jauh-jauh. Berjalan pelan menghampiri lemarinya, lemari mereka berdua. Dulu. Alex pun melirik punggung gadisnya saat sibuk menurunkan baju-bajunya.
Ayolah ... tinggalkan saja itu di situ, sayang ... jangan kau bawa semua. Hanya itu saja harapanku agar kau tetap selalu berada dihatiku. Kalau kau bawa pergi semua, bagaimana aku memelukmu disaat rinduku mengebu. Aku, bahkan sengaja tak mengingatkannya. Gemuruh hati Alex tak rela gadisnya membawa semua keluar barang-barangnya.
__ADS_1
Ponsel ditasnya berbunyi, dia menghentikan kegiatannya. Yang baru memasukan beberapa potong baju. Dia, duduk di pinggir ranjang dan membuka tasnya. Alex mode on telinga kelinga kelinci. Memasangnya tinggi agar bisa mendengar percakapan gadis itu.
"Iya, sus,” ucapnya saat tahu yang menelpon nomor suster yang menjaga Gio.
"Baik sust, saya akan segera ke sana." Nayra mematikan telpon dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.
Cih. dia sungguh kembali dengan si cacat itu. Benar-benar menjengkelkan. Pekik Alex mengepalkan tangannya, masih dalam posisi pura-pura tidurnya.
Gadis itu memasukkan kembali tasnya ke dalam lemari. Dia, tidak jadi membawa bajunya pergi. Lalu melayangkan tatapannya kepada Alex yang masih membelakanginya.
"Aku taruh kartu pas apartemen—mu disini, ya," ucap Nayra. Meletakkan kartu passnya diatas meja samping ranjang tidur Alex.
Alex membalikkan badannya. Dia tak lagi berpura-pura ketika gadis itu meletakkan kartu akses masuknya. Laki-laki itu menatap gadisnya yang bersiap pergi, "Tadinya aku mau titip di resepsionis depan kalau kau tidak ada," sambungnya mencoba menarik wajahnya agar tersimpul satu senyum di wajah kecutnya. Dia masih tak bergeming, menatapnya.
"Oya, barang-barangku belum selesai aku bereskan. Aku, titip dulu. Kalau aku akan mengambilnya akan kuberitahi.” Nayra beranjak dari duduknya dan meninggalkan kamar Alex.
Alex masih tak bergeming dengan kepergiannya. Sesaat, dirinya hanya memandangi kartu akses masuknya yang tergolek tak bernyawa itu. Alex meraihnya dan menggegam kartunya. Berlari keluar mengejar nayra yang sudah masuk ke dalam lift.
Alex terpaksa menunggu satu lift untuk turun. Saat dia di lobby, gadis itu sudah tidak ada. Laki-laki itu kembali mengejarnya dan dia melihat gadis itu sudah masuk ke taksi. Alex terus mengejarnya. Namun, tetap saja dia tak bisa menggapainya.
Dari dalam taksi Nayra menoleh ke belakang seolah ada yang menyuruhnya. Hati kecilnya pun berharap kalau laki-laki itu mencegah kepergiannya. Namun, ketika dia sadar itu tidak mungkin karena tak ada siapapun. Hatinya terasa perih dan sakit. Hujaman pedang itu berkali-kali lebih menyakitkan dibandingkan dengan perpisaahn pertamanya.
Dilubuk hati terdalamnya, dia enggan sekali mengembalikan kunci akses tadi. Karena dengan dia mengembalikannya, semua hubungan mereka benar-benar telah berakhir. Tapi, semuanya harus dia lepaskan, agar hatinya tak terlalu jauh terjerat racun yang mematikan itu.
Gadis itu menyentuh jari manisnya yang masih melingkar cincin pemberian Alex. Kalung berinisial A yang masih selalu dia kenakan. Lalu, saat dia memikirkan barang-barang itu harus secara terpaksa terampas dan dia kembalikan satu demi satu membuatnya tak kuasa menahan air matanya yang kembali berlinang.
Nayra harus segera menjauhkan hatinya dari semua duka. Dia pun ingin kembali menjalani hidupnya dengan nomal. Melewati semua patah hatinya dengan senyuman yang hangat.
Alex berjalan lemas kembali ke apartemennya. Dirinya baru menyadari rasa perih di kaki saat dia mengejar gadisnya tanpa alas kaki. Namun, perih itu tak sebanding dengan semua perih yang dia rasakan sekarang.
Taksi Nayra berhenti di sebuah rumah sakit. Dia bergegas dan bertanya ruangan yang dicarinya. Saat dia berbelok, Nayra melihat suster mendorongnya dengan wajahnya yang tertunduk lemah.
"Bagaimana kejadiannya, Sus?" tanya Nayra khawatir saat melihat pergelangan Gio sudah dibalut perban. Nayra ditelpon karena Gio melakukan percobaan bunuh diri dan dilarikan ke rumah sakit.
"Kau menghubunginya, Sus? Aku tidak menyuruhmu!” hardik Gio dengan wajah menahan marah pada suster yang menjaganya.
__ADS_1
“Terima kasih, Sus. Biar saya saja yang mendorongnya." Nayra memberi kode agar suster jaganya agar menyingkir. Dia mengangguk dan menggeserkan tubuhnya, memberikan posisinya tadi.
Gio tak bergeming ketika gadis itu bersuara. Dalam lubuk hatinya dia merasa bahagia karena Nayra masih sangat memperhatikannya.