PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
KEMBALI TERLUKA


__ADS_3

Sampai saat pulang kantor Nayra tidak melihat penampakan batang hidung Alex. Dia, hari ini tidak ke kantor, dan saat Nayra sampai di apartemennya pun, dia masih belum pulang.


"Kemana yaa? Seharian  ini dia tidak memberikan kabar. Telpon dan chatku pun belum dia balas," gumanya kembali di hati sambil masuk ke kamar mandi.


Setelah mandi dia  masih melirik jam dan pintu. Tetap  saja  kekasihnya itu belum menampakkan batang hidungnya.  seharian ini pun Nayra lelah dengan pekerjaan. akhirnya dia berbaring dan menarik selimutnya.


Nayra tidur dengan tidak tenang menunggu kepulangan Alex. Dia terbangun ketika bunyi pintu. Segera  membenarkan posisinya, dan melirik jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.


Gadis itu beranjak dari ranjang menghampiri Alex yang langsung roboh di sofa. Dia membalikkan tubuh kekasihnya. Tubuhnya, tercium bau yang menyengat, dan wajah Alex lusuh juga berantakan.


"Sayang ... kamu habis minum?" Dia berusaha membangunkannya. Namun, Alex tak mendengarnya sama sekali.


Nayra hanya menggeleng. Dia membantu melepaskan kemeja dan sepatunya. Kembali  ke ranjang mengambil bantal dan selimut, menyelimuti tubuh kekasihnya dan dia kembali tidur di ranjangnya.


Saat Nayra sudah benar-benar tertidur. Mata Alex terbuka.  Dia, menyibakkan selimut, berjalan tanpa suara ke ranjangnya. Menatap  wajah  gadisnya yang tertidur pulas membuat dadanya menyerinyit. Hatinya  terasa sakit, dia bahkan tak sampai tega melakukan ini semua.


Pagi hari, Nayra terbangun . kembali dia melihat sofanya sudah kosong. Bantal  dan selimut sudah terlipat diatasnya. Nayra menghela nafas panjang.


"Ada apa sih? Kenapa  sikapnya akhir-akhir ini berubah dingin? Apakah  aku membuat kesalahan?”


Hatinya berguma kembali. Berjalan malas masuk ke dalam kamar mandi dengan puluhan tanya yang bergejolak di dada dan otaknya. Aaarrgghhhhh!!!! Kau kenapa sayang???           


***


Satu minggu berlangsung cepat, Alex masih saja menghindarinya. Alex selelu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Bahkan, ketika makan siangpun Alex lebih memilih bergulat dengan pekerjaannya.


Gadis itu merasa perlu berbicara dengannya. Maka  untuk menempuh jalan perdamaian, Nayra menyempatkan mampir ke toko kue untuk membeli beberapa croisant dan ice vanila kesukaannya. Dia, berharap misinya kali ini berjalan dengan mulus.


Dalam otaknya telah tersusun begitu banyak perkataan yang akan dia ungkapan kepada kekasihnya. Bahkan, rayuan maut pun telah dia pikirkan untuk meluluhkan hatinya. Nayra berniat meminta maaf lebih dulu  jika dalam perundingan damainya mengalami kendala. Nayra akan meminta maaf dan merayunya sebisa mungkin.


Gadis itu sudah melihat mobilnya terparkir. Dia tersenyum menandakan usaha yang sedang dilaukan sekarang tidak akan sia-sia. Nayra membuka pintu apartemen. Sepi. Nayra melihat ke setiap ruangan, tapi tak menunjukkan keberadaannya.


Nayra mendengar suara dari kamar mereka. Dia, berjalan pelan mendekatinya. Pelahan membuka. Matanya  membulat tak percaya. Barang  yang dibwanya pun berserakan di kamar mereka.


Gadis itu melihat seorang wanita setangah telanjang sedang berada di ranjang mereka dan berada dalam pangkuan kekasihnya. Sejenak gadis itu mematung dengan pemandangan yang dilihatnya.


Alex tampak tidak terkejut, dia bersikap tenang sambil memeluk wanita tadi. Bayangan beberapa tahun lalu bergulir diingatannya. Ketika  pertama kali Nayra memergoki tunangannya—Gia berselingkuh dengan Mona—sahabat kecilnya.

__ADS_1


Tangannya mengepal dengan erat. Emosinya  naik ke ubun-ubun. Dia benar-benar marah dengan semuanya. Kakinya  melangkah maju menghampiri wanita tadi, dengan kuat Nayra menarik tubuh wanita yang sedang berada di atas tubuh kekasinya itu. Kali ini, Nayra tidak melarikan diri.


PPAAKKK!!! Satu tamparan keras bolak balik mndarat di wajah wanita tadi.


"Kau pikir aku, Nayra  yang dulu,hah. Nayra  yang akan menangis dan berlari ketika melihat tunangannya bersama wanita lain. Aku ini, Nayra Aletta bukan keledai bodoh. Mengapa? Mengapa kau melakukan ini kepadaku, apa salahku?  Apa, aku melakukan kesalahan? Katakanlah, jangan diam, aku bukan orang bodoh yang akan menerima perlakuanmu seperti perlakuan Gio dulu terhadapku. Aku tahu kamu, kamu nggak akan melakukan hal se—menjijikkan  ini.  Aku mengenalmu sayang ... kenapa kau melakukan hal bodoh seperti ini?” teriaknya histeris. Kini tak ada tangis sedikitpun. Gadis itu  tidak menunjukkan sisi terlemahnya lagi.


Wanita tadi terkejut hanya bisa menatap Nayra yang penuh amarah. Sedangkan Alex hanya tersenyum menyepelekan semua tindakannya barusan.


"Katakan padaku, kenapa kau melakukan hal ini, katakan!"  masih dia berteriak dengan lantang. Mengeluarkan emosinya yang membuncah. Menarik  dan meremas kaos Alex dengan kedua tangannya.


Alex menghentikan emosinya yang berkobar. Kedua tangannya mencengkaram erat. Menatap  wajah kekasihnya yang tanpa ekspresi dan tak bergeming sedikitpun, "Kenapa ... kenapa kau harus melakukan ini?" ucapnya melemah saat menatap wajah kekasihnya. Air matanya pecah seketika, tak kuasa lagi dia membendungnya...


"Aku sudah bosan padamu. Aku membenci sikap egoismu. Apa kau tahu alasanku memberikan—mu  izin untuk merawat Gio, hah? Kau, mahu tahu alasnnya?” Alex seperti bukan dia yang biasanya. Matanya mendelik tajam saat mengucapkan kata-kat yang menghujam jantungnya.


“Itu karena,  jika suatu hari aku sudah merasa bosan dan jenuh dengan hubungan kita, yaa ... seperti hari ini misalnya, aku bisa dengan mudah berkencan dengan wanita manapun. Kau mengerti!” kembali dia berteriak dan menghempaskan kedua tangannya.


Nayra bagai tersambar petir di sore hari. Membuatnya  tak bergeming dengan semua ucapan Alex barusan. Dia masih menggeleng kuat, tak percaya.


"Hahahaha ... alasan macam apa itu. Bosan dan jenuh kata-mu, semua tidak masuk akal. Tidak mungkin. Katakan, katakan padaku ... ada apa sebenarnya itu?" dia masih belum mengakui kekalahannya. Gadis itu membalikkan tubuh kekasihnya yang membelakangi. Alex  tak berani menatapnya.


Alex menatap geram, diapun tersulut emosi, "Dengar,  kau ini keledai. keledai bodoh ... yah... seperti inilah dirimu. Kau tetap—lah  bodoh. Kau masih saja berpikir, aku pria—mu  yang mencintai-mu dengan tulus. Cih, kau bercanda. Selama ini, aku sudah cukup bersabar melihat tingkahmu. Kau ingat ceritaku saat kau kehilangan ingatan. Berulang kali kau memaki, mengusir bahkan menamparku demi membela laki-laki brengsekk itu. Kau pikir, aku tidak sakit hati hah? Aku marah tapi, aku tidak mungkin melampiaskannya saat itu. Sekaranglah saatnya. Saat kesadaran-mu pulih dan kau pun bisa merasakan perasaan sakit ku itu." Alex menghujamkan kembali pedangnya berkali-kali menusuk jantungnya. Mengeluarkan semua kemarahannya yang terpendam dan menuntaskannya saat ini juga.


"Ya, aku ingin balas dendam dan sekaranglah waktu yang tepat!" sahutnya tak kalah tegas, dia berusaha menggoyahkan keteguhan hati Nayra padanya.


"Bohong, kau pasti berbohong padaku. Kau, tidak mungkin melakukan semua ini. Aku, tidak percaya." Nayra menutup kedua telinganya.


Menarik  kembali tubuh dan wajah kekasihnya yang mencoba terus berpaling darinya.  Dia, mencengkram kedua lengan Alex dengan erat. Namun, laki-laki itu menghempaskannya dengan kasar. Hingga  dia terjatuh di lantai, lalu Alex membawa wanita tadi keluar bersamanya.


Nayra  terpuruk, dia kembali patah hati. Hatinya kini hancur berkeping-keping. Nayra mengangkat wajahnya. Melihat  keseluruh ruang kamar mereka, kamar mereka yang penuh berisi cinta. Kini berubah menjadi badai yang menggulung tubuhnya.


Gadis itu berjalan pelan meraih tasnya. Mengijak  semua butiran penuh luka di dalam dirinya. Keluar  dari apartemen kekasihnya membawa semua sesak dalam dada. Membuatnya  tak bisa bernafas dan menghirup udara.


Bahkan hujan malam ini pun seolah mengerti semua isi hatinya yang penuh luka. Gadis itu tak sempat menghidar dari hujan. Dia, membiarkan tubuhnya terguyur oleh cucuran air hujan, sehingga tubuhnya mengigil pedih seperti luka yang kekasihnya goreskan tadi...


***


Di dalam mobil Alex, dia menjalankan mobilnya dan menghentikan mobil di pinggir jalan. Alex sangat menyesali semua perbuatannya kepada Nayra. Dia pun tak bisa menghirup udara dengan benar ketika berhadapan dengan gadisnya. Nafasnya masih menderu, jantungnya berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya. Aleh telah melanggar janjinya. Membuat gadisnya patah hati dan dirinya sekarang sudah sepenuhnya kehilangan Nayra.

__ADS_1


"Maafin gue, Gin." Alex  menoleh kearah Gina yang sedang tadi duduk dengan tenang. Wanita itu hanya bisa menatap wajahnya.


"Kenapa lo harus minta maaf?" ucap Gina terdengar getir. Dirinya tidak menyangka beberapa menit lalu menyaksikan pertunjukkan di luar nalarnya.


"Maaf, karena kemarin gue bilang kalau Nayra nggak akan berbuat kasar sama lo. Ternyata, pikiran gue meleset. Dia, bukan pergi malah ...," ucapnya masih terdengar getir saat berkata. Memnayangkan sikap kasarnya beberapa menit lalu.


"Itu sangatlah wajar, Lex. Mungkin, kalau itu gue nggak akan seberani dia tadi. Gue sendiri nggak bisa membayangkan perasaan terlukanya ketika dia mendapati orang yang sangat dia cintai sedang bercumbu mesra. Dan, itu di ranjang mereka," ucap Gina menatap wajah  Alex  yang begitu terluka dengan perbuatannya tadi.


Alex  tidak ingin membahasnya lebih jauh, itu hanya akan membuatnya lebih terluka. Dia, menarik lacinya mengeluarkan secarik cek yang sudah dia tanda tangani. Lalu, dia menuliskan beberapa nominal di dalamnya, "Lo, tenang aja, Gin, gue akan bertanggung jawab. Gue, bayar tiga kali lipat sesuai perjanjian kita." Alex menyerahkan selembar kertas tadi ke tangannya.


Gina menatap selembar kertas tadi, nominal yang sangat pantastis bahkan jika dia melayani tamu normal pun dia harus bersusah payah untuk mengumpulkan nominal tersebut. Gina tersenyum sambil menatap lembar kertas tadi dan wajahnya kembali mentap Alex yang terlihat putus asa.


"Kenapa? Kenapa lo ngelakuin hal yang membuat lo di benci? Gue tahu dan bisa melihat dari sorot mata kalian berdua, kalian saling mencintai, bagaimana lo bisa sampai setega ini melakukan hal seperti ini, Lex?" ucap Gina menatapnya,  seakan menyalahkan dirinya sendiri.


"Itu gue lakukan demi menolong seseorang dan sebagai balasan dia sudah menolong Nayra. Kalau gue nggak bersikap kejam seperti tadi, dia nggak akan pernah ninggalin gue. Bagaimana pun, sekokoh apapun hatinya, gue orang yang paling tahu kondisinya. Dia  pasti tidak akan bisa bertahan dengan laki-laki yang sudah bersikap kasar dan menghianatinya." Restu berkata penuh dengan luka yang bergejolak dalam dada.


"Hah! Alasan macam apa itu. Gue, nggak tahu kenapa lo sampai berpikir sejauh itu. Yang  gue tahu ... lo salah. Lo, salah kalau menganggap seseorang yang sudah jatuh cinta itu lemah, Lex. Lo, salah kalau lo ngerasa pilihan yang sekarang lo pilih adalah pilihan yang tepat.”


“Yang tepat buat lo, belum tentu tepat buatnya. Jangan menilai apapun hanya dari sudut pandang mata lo saja, Lex. Buatnya, lo itu hanya menjeremuskan. Mencintai bukan hanya sekedar melepas orang yang kita cintai. Buat  apa kita melepaskannya kalau dia sendiri jauh lebih menderita.”


“Dan kalian berdua terluka. Buat apa, Lex? Dari  matanya, gue melihat ketidak percayaan, dia sangat mencintai lo, Lex. Sebaiknya, jangan lo sia-siakan cinta yang begitu besar itu. Karena nggak semua orang bisa memiliki perasaan seperti ini," ucap Gina menohok tepat di jantungnya. Mulut Alex terkunci rapat, tak bisa membalas ucapan Gina. Dan rasa penyesalan langsung terbayang jelas di pelupuk matanya.


"Gue nggak bisa terima ini, karena dengan gue terima sama saja gue telah menghancurkan hubungan, Lo." Gina merobek lembar kertas tadi berkeping-keping dan keluar dari mobilnya.


"Gue harap, elo nggak menyesal. Seharusnya, lo bisa menjaga harta yang paling berharga di hadapan lo sekarang ini, Lex.” Kata-kata terakhir Gina sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Alex.


Alex masih merenungi setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Gina. Ya... bahkan seorang Gina yang di anggap sampah,  perusak hubungan masih bisa berbicara dengan tulus terhadapnya. Gina, masih menganggap Alex  sebagai temannya.  Perlu  diberi nasehat saat dirinya tersesat.


Alex segera memutar setirnya, kembali ke aparteman. Alex sudah berbelok kearah apartemennya. Matanya  melihat sosok Nayra basah kuyup, menggigil karena sempat hujan.


Laki-laki itu  melihat gadisnya keluar dari aparteman dengan membawa satu koper besar. Dia menariknya perlahan. Pandangan matanya lurus tak memperhatikan sekitar. Dia seperti kehilangan separuh jiwanya. Sesekali saat gadis itu berjalan, dia terantuk.  Namun, dia bangkit kembali, dengan kaki pincang, tanpa air mata sedikitpun.


Alex terus mengikutinya. Hati mereka berdua hancur lebur tanpa sisa. Nayra memberhentikan taksi yang dia tumpangi di depan apartemennya. turun  dengan tertatih sambil menarik kopernya, rasanya sangat berat begitu pun dengan hatinya yang berat melepaskan Alex yang dicintainya dari kehidupnya....


Nayra membuka pintu apartemennya. Berdiri  mematung di tengah ruangan yang terasa sepi. Sepertinya yang kehilangan jiwa untuk kedua kali. Dia, sudah tak sanggup untuk berdiri dengan tegak. Bahkan memandang dirinya pun tak sudi.  Begitu bodoh dan masih bisa terjerumus dalam kebohongan.


Dia  berteriak keras. Suaranya  menggema di seluruh ruangan kosong itu. Menyalahkan  setiap kebodohan yang dia lakukan selama ini. Meraung keras, dia kehabisan kata-kata. Jiwanya  lemah tertumpu pada lantai dingin. Memukulnya dengan keras, memukul dadanya berulang kali, menangis sekencangnya sampai suaranya habis tak tersisa.

__ADS_1


Dan dari ballik pintu apartemennya, Alex hanya bisa berdiri mematung. Menyalahkan  diri sendiri, bahkan sekarang dia tak berani untuk menghadapi wajah gadisnya....


 


__ADS_2