
“Apa maksud? Aku tidak mengerti!" ucap Nayra. Tapi, jantungnya tak kuasa dia kontrol. Wajah Nayra mulai memerah seperti udang rebus. Tanpa sadar dibenaknya mengingat peristiwa semalam saat dia mabuk.
"Aku bilang, kau tidak akan bisa keluar dari tempatku ini, sebelum semua urusanmu selesai denganku.” Alex memandangi wajahnya yang merah padam. Malu-malu tapi mau.
Sial, membuatku tambah gemas saja. Aku, sudah terlalu lama tidak memakannya sampai puas seperti semalam. Dan, sekarang hasilnya, setelah memakannya aku malah tak bisa berhenti sampai aku merasa puas.
"Biarkan aku pergi, Lex. Kau, jangan mempermainkanku. Aku ini bukan keledai bodoh!" teriaknya memukul dada Alex penuh kemarahan.
Alex menahan kedua tangannya, "Memang siapa yang menganggapmu keledai?” Alex menggengam erat kedua tangannya.
"Lepas, aku ingin pulang. Lepaskan!” ronta gadisnya ketus. Alex tersenyum geli. Rasanya hari-hari cerianya yang hilang sejak kepergian Nayra, kini mulai merekah kembali.
Tanpa ragu Alex mendorong tubuhnya. Menghimpitnya. Dia, mulai membara dengan semua penolakannya. Tanpa aba-aba, Alex mencium gadisnya dengan membara. Semakin gadis itu menolak, semakin dalam ciumannya hingga tubuh gadis itu tak bisa menolaknya lagi.
Gadis itu mulai tergoda dan terbawa suasana. Apalagi, Alex mulai mengabsen setiap jengkal dari tubuhnya. Membuat gadis itu makin menggila. Dia, sudah tak bisa menolaknya, hanya bisa menikmati dengan keluarkannya suara-suara penuh kenikmatan.
Satu jam berlalu, pakaian Nayra sudah berserakan di lantai kamar Alex. Dia, menarik selimut dan sesegukan menangis. Alex merengkuhnya dalam pelukan, mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Maaf, aku memaksamu. Sungguh, aku tak bisa menahannya. Siapa suruh kau menggodaku semalam." Alex berkata sambil mengusap rambutnya.
"Aku tidak menggoda-mu. Semalam, aku memang mabuk. Sudah tahu aku mabuk, kenapa kau ...," ucapnya berbicara terisak.
"Dengarkan aku, aku tidak ingin hal yang seperti semalam terulang. Kau mabuk, kalau aku yang bukan bersama denganmu? Kau, pikir laki-laki itu lebih baik, hah.” Alex menatap matanya dengan lembut.
"Aku bersama siapapun sekarang, bukan urusanmu. Bukankah kau juga sudah ada seseorang yang lebih baik dariku." Nayra cemberut, hatinya makin kesal. Alex hanya menanggapinya dengan senyuman smirk menyebalkannya.
"Sudah aku bilang, aku bukan wanita murahan!” teriaknya. Dia merasa dipermainkan oleh Alex. Nayra melepaskan pelukan Alex, menarik selimut untuk menurtupi tubuhnya.
"Aku mau pulang, aku harap ini tidak akan terjadi lagi. Aku anggap ini sebagai hutang yang harus kubayar karena kau sudah menyelematkanku semalam.” Nayra menghempaskan jauh tubuhnya.
Dia, membuang selimutnya. Dia, sudah tak perduli lagi tubuh polosnya terekspos. Menghampiri lemari dan memakai bajunya yang belum dia bawa pergi.
Alex pun berjalan ke lemari bajunya, "Aku tidak akan izinkan kau pulang. Sebelum kau berpikir jernih!" sambil memakai baju. Alex tidak ingin gadis itu pulang, dia tak ingin gadisnya melakukan hal bodoh kalau sendirian.
"Besok aku izinkan kau libur, lagipula aku tidak memaksamu untuk bekerja,” sambung Alex. Nayra tak menjawab, dia sibuk mengemasi sisa bajunya yang belum dia bawa keluar.
__ADS_1
"Terserah. Yang jelas sekarang, aku ingin pulang!” Nayra bersikeras. Dia keluar membawa sisa barangnya dengan kesal.
Alex mengekori dan melenggang masuk dapurnya. Dia, menghangatkan sesuatu. Nayra meliriknya, “Makan dulu, Nay. Aku tahu kau pasti sangat lapar dan tenaga kita tadi kan sedikit terkuras.” Alex menarik kursi makan untuk gadisnya.
Nayra tak bergeming. Kakinya masih tetap tak bergerak sambil menatap tajam kearah Alex, “Makanlah dulu, aku akan mengantarmu.” Setelah mendengar ucapan penegasan dari Alex, dia menggerakan kakinya dan duduk di kursi yang sudah dibuka oleh Alex.
Mereka makan malam tanpa suara. Nayra tak sedikitpun menatap Alex sekarang. Di pikirannya, dia hanya ingin segera pulang dan membenamkan wajah malunya di kasur.
"Kau tahu? Kenapa, aku mengganti semua kode akses masuk apartemenku?" Alex berkata sambil menatap gadisnya. Nayra menghentikan makannya sesaat dan menatapnya.
Yaa ... tahulah, masa aku sebegitu bodohnya. Sekarang, aku kan bukan orang yang penting di hatimu.
"Alasannya, aku mengganti semuanya agar apapun yang masuk hanya menjadi akses milikku. Hanya aku yang bisa membuka dan menutupnya. Jika ada yang kubawa masuk, hanya aku yang mengizinkan dia, tetap disini selamanya atau keluar. Dia hanya bisa ada dalam aksesku, tanpa seizin dariku, tidak akan bisa lagi jauh dariku! Hanya akan menjadi milik Alexander Gajendra
selamanya!” ucapnya terdengar seperti ultimatum. Tidak ada yang bisa menolak perintahnya.
“Uhuk. Uhuk.” Nayra tersedak saat mendengar ucapannya.
__ADS_1