PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
BERJALAN MULUS


__ADS_3

"Ya, ya. Aku kalah, ayo kita makan," ayah Alex mengajaknya mengikuti istri dan calon mantu yang lebih dulu ke meja makan. Ibu Alex mengambilkan sepiring penuh makanan untuk Nayra. Dia, benar-benar memanjakannya.


"Makan yang banyak ya, sayang. Kamu kurus sekali, bagaimana kamu bisa menghadapi Alex kalau kamu kurus begini. Pokoknya kamu harus sering kesini. Nanti kita akan berbelanja bareng."  ibunya memperlakuakan Nayra seperti anak kecil.


Alex dan ayahhanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ibu juga istrinya itu. Sedangkan Nayra hanya bisa takjub dan terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa.


 "Bagaimana? Masih kau ragu padaku?" ucap Alex saat mengantarkannya pulang.


"Tidak, terima kasih sayang, sambutan keluargamu tidak mungkin aku lupa, terutama mamamu."  Mereka berdua tertawa mengingat peristiwa di meja makann tadi.


"Syukurlah. Lalu, kapan kau akan memperkenalkanku dengan keluarga-mu?" Alex menagih keseriusannya.


"Kapan ya?"


"Minggu depan ya. Biar kita cepat meresmikannya. Kau tidak tahu kan, aku ini sudah menahannya terlalu lama," bisik Alex ditelinganya. Wajah Nayra kembali memerah.


"Apa sih? Kau ini pikirannya kotor terus!"


"Loh, nggak apa-apa dong, toh kamu nanti akan jadi istriku, cepat atau lambat," yakin Alex


"Tapi."


"Ssstt!" satu kecupan mendarat dibibirnya.


Satu minggu kemudian alex menagih janjinya. Pertemuan dua keluarga berlangsung mulus. Nayra disambut hangat oleh keluarga Alex, bahkan Nayra sudah dianggap seperti anak sendiri.

__ADS_1


Keluarga Alex demokratis. Walaupun mereka dari kalangan berada, mereka tidak memaksakan kehendak. Bagi mereka asalkan anaknya bahagia, mereka setuju. Sebagai bukti keseriusan dari keluarga Alex, mereka segera merencanakan pernikahan Alex dan Nayra. Mereka ingin keduanya segera menikah.


Rasa senang bercampur lega, bahkan Nayra sudah menghapus sedikit demi sedikit bayangan Giondra. Nayra sudah menurunkan semua barang-barang pemberian Giondra. Selama ini, dia menjaga seperti barang wasiat. Dia memasukkannya dalam satu kotak lalu menutupnya dengan rapat.


***


Hubungan keduanya terbuka di kantor. Namun, walaupun mereka sepasang kekasih tidak membuat mereka lupa diri. Mereka bersikap profesional saat di kantor. Tidak mencampur aduk pekerjaan dan hubungan pribadinya. Apalagi mereka sudah mengantongi izin dari kedua belah pihak untuk segera meresmikan hubungannya.


Perlahan tapi pasti Nayra membuka hatinya. Dia merasa pantas mendapatkan semua cinta dan kesempatan.


"Sayang, mama ingin bertemu denganmu. Bisakah nanti pulang kantor kamu ikut denganku pulang ke rumah," Alex berkata saat kekasihnya meminta tanda tangan untuk proyek baru.


"Mama ingin ketemu? Mau apa sayang? Dua hari lalu aku baru ketemu dengannya," jawabnya.


"Mama mengajak kita makan malam. Dan katanya ada yang ingin dia sampaikan. Lagipula besok kan kita libur, sesekali menginap di rumah mama kan nggak apa-apa," saran Alex. Ibu Alex selalu mencari alasan agar selalu bisa dekat dengan Nayra.


"Nay," sapa Rasti menghampiri mejanya.


"Hemmm,"


" Jadi, nanti kita mau nonton apa? Sudah lo putuskan belum?" Nayra melirik Rasti, nyenggir kuda, "Nggak jadi nontonnya, minggu depan, yaa," sahut Nayra.


"Weitss, ada apa lagi nih? Nonton kita di cancel terus. Minggu kemarin tidak jadi. Dua hari kemarin juga tidak jadi


karena lo ke rumah mertua lo. Nah kalau sekarang lo pakai alasan apa lagi?" cibir Rasti.

__ADS_1


"Sorry banget, Ras. Bukannya gue mau ingkar janji, tapi nyokapnya Alex ngajakin gue makan malam." Tangannya  masih sibuk dengan ketikan. Nayra ingin segera menyelesaikan agar Alex tak menunggunya terlalu lama.


"Roman, romannya ... mertua lo sudah nggak sabar pengen lo cepet punya junior. Hebat, gue salut. Gue senang banget akhirnya hubungan lo sama Alex berjalan lancar," Rasti menepuk-nepuk punggungnya.


"Thank's ya, Ras. Kalau bukan karena lo yang genjar nyomblangin gue, sampai sekarang mungkin gue masih terpuruk," Nayra bersyukur masih memiliki sahabat setia seperti Rasti.


"Ya sudah, kapan-kapan aja kita jalannya. Lo urus dulu prioritas utama lo, gue balik meja ya," pamit Rasti kembali ke meja kerjanya.


***


"Sayang, Mama kangenn berat," ibu Alex langsung memeluknya dan mengajak Nayra masuk.


"Iya, Mah. Nay, juga kangen!"


"Mama, sudah menyuruh koki memasakkan makanan kesukaan kamu, yuk ...," Alex hanya tersenyum melihat tingkah ibunya, papa Alex hanya bisa menggelengkan kepala.


"Malam ini kamu menginap di sini yaa, Nay. Besok kita shopping. Mama sudah lama banget nggak berbelanja,' ucap ibu Alex.


"Eheemm," papa Alex berdeham.


"Hiss, si Papa, kalau tadi kan itu belanja bulanan. Besok aku mau shopping sama anak mantu," liriknya pada suami.


"Tapi, Ma, Nay, nggak bawa baju!"


"Baju? Gampang, kamu bisa pakai baju Alex dulu. Di lemarinya banyak kok," tidak menginginkan penolakan dari Nayra.

__ADS_1


Akhirnya, mama membuka jalanku.  Begitu baru mama-ku. Tahu saja anaknya sudah menginginkan itu lama.


Alex tersenyum lebar saat mendengar ucapan ibunya, sedangkan Nayra seolah masuk perangkap yang Alex buat.


__ADS_2