
Mereka berdua sudah berbaikan. Persiapan pernikahan sudah 99%. Gaun pernikahan, undangan, tempat pesta, catering. Semuanya sudah terlihat sempurna.
Nayra tidak mengetahui Giondra selalu membuntutinya. Dia, sudah seperti paparazi yang mencari berita. Kemanapun gadis itu melangkah, Gio selalu berusaha mengingatkan tentang dirinya. Meneror gadis itu. Dia ingin
gadis itu goyah, tapi hatinya sudah tak bisa digoyahkan.
Bunyi bel apartemen Nayra, mereka sedang membersihkan apartemen yang hanya sesekali mereka kunjungi.
Nayra, sudah tinggal bersama dengan Alex semenjak malam itu.
"Kamu yang buka sayang, aku yang bereskan sisanya." ucap Alex.
Nayra membukakan pintu. Dia sempat terkejut dengan Giondra yang sudah berdiri dihadapannya. Gio belum menyerah akan cintanya.
Dia menatap laki-laki dihadapannya. Gio tampak berbeda, terlihat kurus dan penampilannya sangat tidak terurus.
"Siapa sayang? Diajak masuk dong, masa cuma didepan pintu," suara Alex menghampiri, memeluk gadisnya dari belakang.
Alex pun terkejut dengan kehadiran tamu tak di undangnya tersebut. Namun, dia berusaha menahan diri dan menyuruhnya masuk.
Mata Giondra berkeliaran di apartemennya. Sejenak bayangan-bayangan indah hadir diingatan. Saat mereka masih bersama. Dia duduk dengan pikirannya yang melayang. Alex memicingkan matanya dengan tajam.
__ADS_1
"Kau, temannya, Nayra?” Alex membuyarkan semua lamunannya.
"Ah, iya ... saya, Gio, tunang ... eh, maksudnya teman lama, Nayra.” Giondra mengulurkan tangan mengajak rivalnya berkenalan.
"Diminum, Gio." Nayra menaruh satu gelas air dan dia segera menghamburkan dirinya kepelukan sang kekasih. Sekaligus memberitahunya tentang kepemilikkan.
Giondra menatap frustasi Nayra. Dia cemburu. Tangannya mengepal geram melihat pertunjukan didepan matanya. Dirinya masih tidak rela Nayra dimiliki laki-laki lain.
Giondra meneguk perlahan minuman buatan Nayra, "Kau akan pindah?" tanya Gio pura-pura. Matanya kembali berkeliling. Alex menanggapi dengan tenang saat gadisnya yang lebih dulu melompat kepelukannya.
"Uhm." jawabnya singkat.
Giondra masih menatap Nayra dengan penuh penyesalan. Dia, melihat begitu banyak perubahan yang terjadi
"Baiklah, karena kalian juga sedang sibuk, aku pamit dulu!" Giondra meletakkan gelas dan berajak dari duduknya.
Nayra teringat undangan pernikahannya yang berada di atas meja. Dia mengambil satu untuknya.
"Gio, tunggu," ucap Nayra.
Gio sudah berada diujung pintu segera berbalik. Seberkas senyum muncul diwajahnya, "Ini undangan buat kamu. Kalau kau ada waktu datang ya. Maaf aku belum sempat mengantar dan kebetulan hari ini kamu datang," ucapnya berbicara santai penuh rasa bahagia.
__ADS_1
Gio menatap kembali wajahnya. Dia sempat melihat leher gadis itu sudah melingkar kalung berinisal A, dan jari manisnya pun sudah tersemat cincin berlian nan indah.
Walau terasa sangat pahit untuk Gio telan. Kenyataannya, dia salah. Selama ini telah membuang cinta tulus
Nayra yang begitu besar. Gio mengambil undangannya dan pergi tanpa satu katapun.
Alex tersenyum bangga. Dia merasa bahagia bisa memiliki gadisnya. Sikap tegar Nayra membuatnya benar-benar jatuh cinta.
***
Apartemen Giondra
Gio melihat kembali undangan yang diberikan Nayra. Tertera tanggal dalam undangan adalah satu minggu kedepan. Dia geram meremas undangan tadi dan membuangnya keperapian.
Gio tersenyum seperti orang gila. Berjalan limbung memasuki ruangannya. Dia, menatap semua ruangan apartemennya.
Terutama kamar tidurnya. Sudah terpasang berbagai macam foto Nayra. Dari ukuran terkecil sampai besar
memenuhi semua ruangannya.
Tak heran semua foto Nayra begitu indah dipandang mata. Tangan ahli seorang fotografer memang berbeda.
__ADS_1
Gio memegang salah satu foto Nayra. Dan tangan satunya memegang botol minuman. Mulutnya terus berbicara tidak jelas. Mengoceh sendiri. Dia berubah menjadi seorang peminum, setelah hatinya sadar akan kesalah meninggalkan Nayra.
“Maafkan aku, Nay, aku mohon maafkan aku. Jangan tinggalkan aku, Nay!” Giondra terisak dengan kehancuran hati yang dia rasakan.