
"E-nggak ... aku ngga mau dengar. Ternyata, kamu sama saja. Aku benar-benar tidak menyangka. Aku masih saja seperti keladai bodoh. Tertipu untuk kedua kalinya." Nayra menangis histeris.
Dia mengeluarkan semua air matanya. Memukuli tubuh Alex sekuatnya. Hatinya luluh lantah, kekecewaan menyelimuti hatinya lagi.
"Please, Nay, tatap mataku. Aku tidak sedang membohongimu. Katakan padaku, apakah selama dua tahun ini aku pernah membuatmu menangis? Please, percaya padaku, Nay, aku mohon!” Nayra hanya menggeleng kuat.
Dia sedang kehilangan akalnya. Menghempaskan Alex yang berusaha memeluknya.
Ketiga teman Alex keluar apartemannya. Menyusul Alex yang mengejar Nayra, "Lo gila, Lex! Ngapain juga sih lo pake bawa nenek sihir ke sini. Lo cari mati!" Bob emosi melihat tingkah bodoh temannya.
"Semua nggak seperti yang kalian bayangkan, ini di luar rencana gue. Gue, nggak sengaja ketemu dia di jalan. Dia, maksa buat ikut. Gue, pikir nggak ada kalian. Tadinya, gue berniat membuat dia menyerah pas dia melihat
Nayra. Eh, malah jadi seperti ini!” jelas Alex.
"You’re crazy, Lex! Bisa-bisanya cari musibah sendiri," Alan menimpali.
__ADS_1
"Iya,ya, semua salah gue. Harusnya, gue nggak bawa dia kemari." Alex bersiap akan pergi.
"Mau kemana lo?" tanya Thomas.
"Gue titip apartemen. Gue mau susul dia. Gue, mau jelasin. Gue, nggak mau dia berprasangka buruk tentang gue. Gue nggak mau, dia menyamakan gue seperti mantannya gila itu!”" Alex berlari ke mobilnya, dan menghilang dalam beberapa detik dalam pandangan mereka.
Lana yang menyaksikan kejadian barusan tersadar. Bahwa yang terjadi sekarang adalah karena ulahnya. Apalagi ketika Lana melihat Alex begitu panik dan khawatir setelah kepergian Nayra.
Apa aku sudah terlambat, Lex? Aku masih sangat mencintaimu.
"Nay, Nay ... please buka pintu, dengerkan penjelasan-ku. Nay, buka pintunya. Nay, please keluar kita harus bicara." Alex terus mengetuk pintu apartemen Nayla berulang kali.
Nayra yang berada di balik pintu, "Pergi! Aku nggak mau dengar, Lex. Kamu, pembohong, pergi!!" teriak Nayra histeris dibarengi dengan isak tangis yang terdengar jelas oleh Alex.
Tak berapa lama Alex mendengar suara barang dibanting dan pecah, "Nay, maafkan aku. Please, Nay, kamu keluar dulu ... kita bicara baik-baik ya, sayang. Aku bisa jelaskan semuanya, Nay, please," bujuk Alex.
__ADS_1
Namun, setiap kali Alex berusaha menjelaskan terdengar kembali barang pecah, "Kita bicara sayang, please buka pintunya. Kamu ngapain, Nay, tolong jangan buat aku khawatir. Cepat buka pintunya sayang!" Alex yang kehilangan kendali karena khawatir. Dia, lupa kalau dia punya kartu pass masuk kamar kekasihnya.
Tak terdengar lagi tangis atau barang yang dipecahkan. Membuat Alex makin panik dan dia berlari pada penjaga apartemen. Dia, meminta bantuan untuk membukakan pintu apartemen Nayra.
Alex takut terjadi hal yang dia tidak inginkan. Dia, takut sifat labil Nayra membuatnya melakukan hal bodoh.
Pintu apartemen Nayra dibuka. Mata Alex berkeliling ke seleruh ruangan. Namun, Nayra tidak ada.
Kemudian Alex mendengar suara gemerik air dari dalam kamar mandi. Dia, segera berlari kesana. Mata Alex membulat lebar ketika melihat Nayra sudah terkapar dilantai basah dan bersimbah darah.
"NAYRAAAA!"
Dia meraih tubuh kekasihnya dalam pelukan. Mengangkatnya sebelum terlambat, "Bodoh ... apa yang
kau lakukan, sayang!" Alex segera melarikan Nayra ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1