PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
MOJOK SENDIRIAN


__ADS_3

“Shut up!” Alex meradang menimpali ucapan temannya.


Sebelum jam pulang kantor, Alex membuat pengumuman untuk mentraktir makan malam sebagai salam perkenalan. Nayra menolak tawaran bos barunya di hadapan teman-temannya. Apalagi dia sangat tak nyaman


dengan baju yang dikenakannya.


"Jangan gitu dong, Nay. Ini kan hari pertama Pak Alex bergabung, masa elo nggak ikut merayakannya sih." Rasti


memaksa Nayra untuk ikut.


“Uhm, bukan gitu Ras, gu-e-“ Dia baru akan memberi kode kepada Rasti,"Apa kamu sudah ada janji? Atau  mungkin hal lain sehingga kamu menolak ajak-kan saya?" suara Alex selembut pantat bayi sambil menatapnya.


 What? Apa aku nggak salah dengar? Kok nada bicaranya beda banget.


"Sebenarnya tidak ada Pak, hanya saja-"


"Sudah ikut! Ayo Pak, kita berangkat!" Rasti menyambar tas di meja dan tangan  Nayra secara paksa.

__ADS_1


Alex sudah memesan makan malam di restoran mewah. Di sela makan malam, Alex mengeluarkan ide ronde


keduanya. Mengajak  ke karoeke.  Lagi-lagi Nayra menolak ikut, tapi Rasti tetap memaksanya untuk ikut. Akhirnya dengan terpaksa Nayra mengikutinya.


VIP Room di sewa Alex. Nayra terus menyendiri di sudut ruangan, hingga Rasti menghampiri.


"Nay, ayo kita nyanyi. Jangan mojok sendirian saja. Lihat  tuh yang lain ...," ujar Rasti menarik tangan Nayra lagi.


Namun, kali ini dia tidak berhasil. Dia tetap diam, tak bergerak dari tempat duduknya.


Sejak masuk karaoke Alex terus memperhatikannya. Bahkan ketika mereka mulai makan camilan dan mengobrol. Mata Alex tak sedikitpun luput memandangi gadis itu dalam diamnya.


Otak Nayra mulai penat. Gadis itu tak bisa berpikir apa pun. Hatinya gelisah tak menentu. Dadanya kembali sesak. Perasaan sakit terus menggelayuti. Dia ingin melupakan semua hal buruk yang dia alami kemarin.


Ketika seorang waiters mengantarkan minuman. Gadis itu meminta beberapa botol. Tanpa henti dia meminumnya. Dia hanya ingin melupakan segalanya.


Entah sudah berapa botol Nayra menenggak minuman. Rasti  menyadari perubahan anehnya segera menghampiri. Biasanya gadis itu ditawari satu gelas pun, dia tidak akan menyentuhnya.

__ADS_1


"Sudah Nay, itu sudah terlalu banyak. Lebih baik kita pulang!" Rasti  merangkul tubuh Nayra yang sempoyongan. Mengeluarkan ucapan-ucapan tidak jelas. Dia mendorong tubuh temannya itu hingga mereka berdua terjatuh.


Alex menyadari segera meninggalkan Lussy dan Diana, "Perlu bantuan, Ras?" Alex sigap mendirikan tubuh mereka.


"Terima kasih Pak, sepertinya kami pulang duluan. Maaf, pesta-nya kami buat berantakan," ujar Rasti.


"Don't worry, semua bisa di atur. Biar saya bantu papah ke-parkiran yaa." Alex tak ingin melepaskan gadis itu dari pelukannya.


"Sekali lagi maaf dan terima kasih banyak, Pak!" Rasti tidak menolak niat baik bosnya dan segera mengambil tangan satu Nayra agar menopang di tubuhnya.


Mereka memapah tubuhnya yang sempoyongan dan terus mengoceh. Kadang dia berteriak, marah marah dan tahu tahu sudah menangis. Rasti khawatir juga menebak suasana hati kalut temannya yang berubah-ubah.


Ketika mendekati mobil, ponsel di tas Rasti berbunyi. Dia, meminta bantuan bosnya untuk memegangi tubuh Nayra sendirian. Tentu saja dia sangat tak keberatan. Munggkin itulah yang dimaunya sejak tadi. Karena secara otomatis Alex hanya bisa mengalungkan kedua tangannya di pinggang gadis itu seperti mereka sedang berdansa.


Nayra sudah mabuk berat. Ketika berhadapan dengan wajah Alex.  Dia menghimpitkan tubuhnya.  Memeluknya dengan sangat erat.


Menangis sesegukan lalu memegangi wajah Alex.  Mengucapkan  kata kata yang tidak Alex mengerti.  Dia hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya saat mabuk.

__ADS_1


Oh, God.  Kau sungguh manis dan menggemaskan, ingin rasanya aku mencium-mu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melihat sisi manismu yang seperti ini.


__ADS_2