PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
TRAKTIR MAKAN


__ADS_3

"Oya, debunya pasti besar, sampai membuatmu menangis seperti ini," Alex menanggapi sandiwaranya dengan


santai.


"Bapak sendiri, sedang apa?" gadis itu mengulangi pertanyaannya. Mengalihkan pembicaraan.


"Saya bekerja, sambil berjalan-jalan melihat kota kelahiran." Alex  duduk disamping gadis itu yang terdiam.


Karena dia sudah di sini, lebih baik aku minta maaf saja deh. Pikiran Nayra berhamburan.


"Untuk masalah tempo hari-" gadis itu  masih sedikit ragu. Dia mengingat kembali kejadian saat dirinya di usir keluar ruangan tadi pagi.


 "Sa-ya mau minta maaf Pak. Sa-ya benar-benar tidak sengaja. Saya muntah dan mengotori baju Bapak, sekali lagi


maaf, Pak," lanjut gadis itu masih tertunduk. Malu.


Ah, sial didekatnya malah membuatku tak bisa menahan diri. Kenapa dia begitu menggemaskan. Ingin rasanya kumakan bibir kecilnya itu. Hah, benar-benar membuatku gila.

__ADS_1


Alex hanya diam. Dia, menatap gadis itu berbicara, sambil pikirannya kemana-mana.


"Baiklah, akan saya maafkan. Ta-pi dengan beberapa syarat," ujar Alex.


Lihat saja, kali ini aku tidak akan membuat kau lolos lagi. Kau harus menjadi milikku.


Nayra berbalik, menatap wajah atasannya yang terlihat serius.


"Iya, saya maafkan. Syarat pertama, kamu harus tersenyum," suara bariton yang selalu dia dengar saat membentaknya seakan hilang. Kini, yang terdengar suaranya selembut pantat bayi.


"Eh?" gadis itu menautkan kedua alisnya. Dia masih merasa gendang telinganya salah mendengar.


Gadis itu menatap ragu atasannya. Dia tidak menyangka akan semudah itu di maafkan. Sifatnya sangat berbeda saat di kantor, dia dingin dan cuek.


Hah? Semudah itu? Apa sungguh  aku sudah dimaafkan olehnya?


"Lho, Ba-pak belum makan?" Dia setengah tidak percaya karena jam makan malam sudah lewat dari setengah jam.

__ADS_1


"Entah kenapa ... perutku sekarang, sangat lapar. Sepertinya, aku ingin sekali menghabiskan semua makanan yang ada dihadapanku," Alex  menatap Nayra  penuh arti yang tidak di mengerti olehnya.


"Lagipula ... ada yang akan mentraktirku. Sungguh sayang sekali kalau dilewatkan," lelaki itu masih menatapnya tanpa berkedip. Dan, untuk beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di tempat makan. Nayra hanya tertunduk, serius, tidak bersemangat dengan makanannya.


“Apa begitu caramu menikmati makanan?” Bos dengan mulut ketus itu kembali menarik busur panahnya. Menghujam tepat di jantung gadis itu.


“Apa?” Nayra menarik wajahnya.


“Kau tidak suka dengan makanannya? Jika kau tidak suka, aku bisa meminta koki untuk menggantinya.” Cetus Max.


Jleb! Apa sih? Kok dia kayak lagi marah sama aku? Emang salahku apa? Gadis itu mendelikkan bola matanya.


“Ada apa? Kau tak suka dengan ucapanku barusan? Hingga  matamu itu mau keluar?” Lagi. Gadis itu kena semprot. Dia segera mengusap kedua matanya dengan tangan. Menyadari lawan bicara dihadapannya sekarang adalah atasannya.


“Ma-maaf Pak. Tidak perlu. Makanannya sangat enak kok.” Gadis itu segara menyantap makanannya dengan cepat. Dia ingin makan malamnya segera selesai.


Berani sekali dihadapanku masih memikirkan orang lain. Apa nyawamu sudah seperti seekor kucing. Alex  terus menatapnya. Dia sengaja membuat kesan yang tak mungkin dilupakam gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu menolak mentah mentah ketika bosnya akan mengantarnya pulang. Namun, bukan jawaban yang diberikan bos itu, melainkan menarik paksa masuk gadis itu ke dalam mobilnya.


Dia mengantarkannya pulang. Mereka hanya diam sambil menikmati lagu romantis. Entah mengapa hati gadis itu terasa lebih baik.  Di balik sikap ketus dan arogan bosnya, gadis itu dapat melupakan peristiwa memalukan sekaligus menyakitkannya tadi sore.


__ADS_2