
"Sepertinya kita hanya bisa menunggu keajaiban, Ras. Semoga keajaiban itu masih berpihak padaku. Pulang kantor aku akan mencoba menemuinya.” Alex yang terdengar pasrah dengan jalan takdirnya.
“Selain keajaiban, aku harus berusaha lebih keras. Aku pernah berjanji tidak akan pernah melepaskannya. Apapun yang terjadi, aku akan tetap disisinya dan terus menjaganya." Tekad Alex sudah bulat.
"Semangat. Aku hanya bisa membantu dengan doa. Semoga kau bisa tetap tegar dan sabar menghadapi cobaan ini," ucap Rasti.
Mobil Alex berjalan pelan ketika melihat Nayra dan Gio masuk ke apartemen gadis itu. Alex melihat Nayra dipapah Gio sambil memegangi kepalanya. Alex khawatir dan segera menghentikan mobilnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa dengannya?" Alex akan menyentuh tubuh gadisnya yang terlihat kesakitan.
"Dia tidak apa-apa!" sahut Gio ketus. Menghempaskan tangan Alex, tapi Nayra teus saja mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Kau gila, lihat wajahnya sudah pucat. Apa kau setega itu sampai membuatnya menderita seperti ini. Aku akan membawanya ke rumah sakit." Alex tidak sabaran. Hatinya tidak tega melihat kekasihnya kesakitan.
Alex mendorong tubuh Gio dan mengambil alih posisinya. Memapahnya kearah mobil. Wajah gadis itu sudah pucat pasi. Namun, Gio yang tak rela menarik kerah bajunya dengan kasar.
"Aku bilang, dia tidak apa-apa. Lebih baik kau pergi. Sekarang, dia urusanku," hardik Gio. Dan mereka berdua memulai pertengkarannya lagi ketika bertemu. Gio mendorong kasar tubuh Alex.
Nayra sudah tidak tahan. Menghadapi dua orang yang selalu saja bertengkar. Dia meninggalkan mereka sambil memegangi kepala.
Gadis itu tidak memperdulikan jalan saat sebuah mobil melaju kencang menghampirinya. Gio yang tengah adu tinju menyadarinya lebih dulu. Dia segera berlari kearahnya.
Tubuh Nayra terhempas ke tembok dan kepalanya terbentur tembok. Sedangkan Gio tak sempat menghindar dari tabrakan mobil itu.
Alex membulatkan matanya. Dia tak menyangka akan melihat secara langsung kecelakan tragis itu. Alex segera menghampiri tubuh gadisnya yang sudah tak sadarkan diri.
"Nay, Nayra ... bagun sayang, Nayra," teriak Alex histeris memanggil namanya berulang kali. Alex merengkuh tubuhnya dan segera melarikan mereka ke rumah sakit terdekat.
Untuk kedua kalinya kembali mereka berkumpul di rumah sakit. Menunggu dengan sangat cemas diluar ruangan IGD.
Beberapa jam berlalu Nayra membuka matanya dan mulai mengamati sekitar.
"Ma, aku dimana?" ucap gadis itu lirih ketika melihat orangtuanya.
"Di rumah sakit sayang, bagaimana kondisimu, kau baik-baik saja?" Ibu Nayra terlihat khawatir saat mendekati ranjangnya.
Alex tak ingin banyak berbicara. Namun, hatinya benar-benar menghawatirkan keselamatan gadisnya. Dia berada agak menjauh darinya, tak ingin membuatnya kesal ketika melihatnya.
"Lex, maafkan aku ya ... karena aku. Oya, gimana acara pernikahan kita? Pasti berantakan. Ini semua ulah Gio!" celotehnya. Alex melayangkan pandanggannya pada gadisnya. Menatapnya penuh haru dan segera memeluknya tanpa ragu. Alex menangis karena bahagia.
"Akhirnya ... kamu, sadar sayang." Alex lega. Megusap dan menciumi rambut gadisnya yang sudah lama sekali dia tak menyentuhnya.
__ADS_1
“Loh, memangnya aku kenapa, Lex?” Nayra menegadah wajah kekasihnya yang terlihat tak percaya.
Terima kasih, Tuhan. Keajaiban itu masih berpihak padaku.
Alex menatap dokter yang masih berdiri dihadapannya, "Sepertinya, akibat benturan dikepalanya, darah yang membeku di otak mencair," jelas Dokter menjelaskan tatapannya.
“Tidak apa-apa sayang. Terima kasih kamu sudah mengingatku. Aku benar-benar bahagia!” kembali Alex merengkuh gadisnya dalam pelukan dan tak lupa satu kecupan dikeningnya.
"Anak mantu mama sudah kembali. Mama senang sekali. Besok kita belanja.” Ibu Alex tak sabar memeluk tubuh Nayra bergantian dengan anaknya.
"Sayang ... ada apa, sih? Kenapa semua menangis?" Nayra menatap mereka bergantian. Mereka semua menghapus air matanya dan menggatinya dengan sebekas senyum kebahagiaan.
"Tidak ada apa-apa sayang. Kami semua disini sangat merindukanmu." Alex masih menenangkan gadisnya. Dia tak ingin dulu terlalu banyak bercerita soal kejadian pahit yang dia rasakan.
"Iya sayang, maafin aku yaa. Lalu bagaimana dengan pernikahan kita? Gimana kita lanjutkan besok saja. Tidak usah ramai-ramai. Sederhana saja.” Nayra berkata dalam pelukan kekasihnya.
"Apapun sayang asalkan kamu bahagia," sahut Alex.
"Oya, bagaimana dengan Gio? Aku benar-benar kesal dengannya. Dia sudah buat pernikahan kita menjadi berantakan!” sewot Nayra mengumpat kegilaan Gio beberapa bulan lalu yang tak disadarinya.
Semua terdiam ketika Nayra menyebutkan namanya, "Kabarnya tidak terlalu baik.” Dokter memberikan jawaban dari pertanyaan Nayra.
"Sebaiknya, kalian hubungi keluarganya, agar bisa mencari solusi yang tepat baginya," tambah Dokter, ucapannya terdengar serius.
"Ada keretakan pada tulang kakinya dan kemungkinan terbesarnya dia akan lumpuh," jelas Dokter kembali.
"Separah itu Dok? Tapi, tidak apa-apa-lah anggap saja itu sebagai hukuman karena dia sudah membuat pernikahanku berantakan," sahut Nayra ketus. Dalam ingatan Nayra kejadian kecelakan beberapa bulan lalu. Namun, bagi semua orang yang tahu, merasa terusik.
Nayra bersiap pulang. Karena dia tak mau berurusan kembali dengan gio, dia meminta Rasti untuk menghubungi orangtua Gio. Apalagi, Alex sudah menceritakan secara perlahan karena dia memaksanya.
Dia geram sendiri dan tak ingin bertemu muka kembali dengan orang itu.
"Kamu tidak mutusin hubungan kita kan, sayang? Aku benar-benar minta maaf." Nayra berkata sambil menggandeng tangan Alex. Meraka baru saja keluar dari kamar pasien Nayra.
"Tadinya sih aku sudah putus asa, mau aku putusin. Tapi, aku ingat ada seseorang yang bilang dan memohon padaku untuk tidak melepaskannya. jadi dengan terpaksa aku ..." Alex menggoda gadisnya.
"Iiihh ... jahat, jahat! Sebal. Sebal. Ternyata cinta kamu cuma segitunya doang!" Nayra menghemtakan kakinya. Menghempaskan pegangannya dan duduk di bangku tunggu pasien.
"Duh, yang lagi ngambek, kalau cemberut begini aku senang banget. Berarti kamu sudah kembali menjadi Nayra-ku sepenuhnya. Hanya milikku." Alex bersujud menarik hidungnya. Dia tersenyum geli melihat tingkah yang dirindukannya.
"Nayra!" suara seorang wanita memanggilnya.
__ADS_1
Nayra melepaskan pelukan Alex dan melihat kearah suara. Nayra melihat kedua orangtua Gio berdiri dihadapannya. Menatapnya bergantian, menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Alex.
"Mama." Nayra menghampiri mereka. Dia adalah ibunya Gio. Ibu Gio langsung memeluk Nayra dengan erat.
"Bagaimana kejadiannya? Kenapa Gio bisa seperti itu? Apa yang terjadi sayang?" Ibu Gio berkata denga tangisnya yang terisak.
Nayra merasa serba salah, dia tak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya sekarang kepada orangtua Gio.
"Ka-mi kecelakaan!" jelas Nayra singkat. Dia memang sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap Gio.
"Kecelakaan? Bagaimana dengan-mu? Kamu tidak apa-apa?” Ibu Gio memeriksa kondisi tubuhnya.
"Aku sudah tidak apa-apa, Ma." Nayra terdengar ragu sambil melirik kearah Alex. Ibu Gio melirik kearah Alex dengan sangat tidak bersahabat.
"Kamu sudah melihatnya sayang?" lagi ibu Gio berkata. Nayra menggeleng.
"Ayo kita lihat sama-sama," ucapnya menarik tangan Nayra. Nayra tak ingin pergi. Namun, Alex memberi isyarat mengizinkan.
"Ya, sudah kita lihat sama-sama!" Alex memecah ketegangan di antara mereka.
"Siapa dia, nay?" sahutnya ketus terhadap Alex.
"Dia ...,"
"Aku temannya, Gio, tante." Alex lebih dahulu berbicara membungkam gadisnya yang ingin berbicara jujur. Alex merasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu.
"Oh, baiklah, kita jenguk dia sama-sama," ucap Ibu Gio kembali menarik tangan Nayra.
Saat pintu pasien Gio di buka.
"Gio!!' teriak Ibu Gio histeris.
Dia melihat anaknya duduk lemah di atas kursi roda. Gio melihat kehadiran gadis yang dicintainya terus menggandeng tangan Alex. Tak sedikitpun Nayra menunjukkan rasa iba. Giondra menyadari, ingatannya sudah pulih.
Tatapan mata Gio kosong, tidak bersemangat. Seolah jiwa dan dunianya hancur.
"Nayra, Mama ingin kamu lebih memperhatikan Gio. Kamu, lihatkan kondisi Gio sekarang. Gio lumpuh. Dia, hanya memiliki kamu dan sangat butuh perhatian dari kamu. Mama, mohon perhatikan dia, bukan yang lain!" Ibu Gio menangkap Nayra meninggalkan anaknya karena dia lumpuh dan mengganti posisi anaknya dengan Alex.
"Mama tinggal dulu, mama akan berbicara dengan dokter, tolong kamu jaga Gio baik-baik." Lagi ibu Gio membebankan tanggung jawab itu padanya.
Nayra menunjukkan rasa tidak sukanya saat orangtua Gio pergi.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Apa kau tak bilang kepada mereka kalau kita sudah putus, hah!" teriak Nayra histeris dihadapannya. Gio hanya diam saja.
"Jawab, kenapa kau diam saja. Kau meninggalkanku pergi bersama Mona—sahabatku. Kau membuangku seperti sampah. Kau menghancurkan pesta pernikahanku. Kau memblokir akses Alex untukku dan sekarang kau lumpuh. Haruskah aku juga yang bertanggung jawab. Haruskah semua kesalahan yang kau lakukan aku juga yang menanggungnya." Nayra penuh emosi. Dia melampiaskan semua emosi yang dia pendam selama ini.