
Itu benar-benar dia. Jadi, aku memang tak salah melihat. Nayra yang kini sudah duduk di dalam taksi sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Giondra terlihat kecewa. Dia, terus memanggil dan mengejarnya. Namun, Nayra benar-benar tak memperdulikannya. Sampai didepan pintu apartement Alex, dia menekan bel tanpa berhenti. Alex membukakan pintu dan menyambutnya dengan senyuman.
"Hemm ... sepertinya istriku kangen berat," ucap Alex.
Nayra nyelonong masuk. Wajahnya pucat seperti habis melihat hantu. Alex mengambilkan segelas air, “Minum dulu!” Alex menatap wajah gadisnya. Sedetik kemudian gadisnya melompat kepelukan. Memeluknya dengan erat.
"Hei, ada apa sayang? Kamu beneran kangen aku? Ya sudah, lain kali kalau aku ke luar kota, kamu ikut saja!” Alex mengusap punggungnya. Mencoba menenangkan kegelisan yang terpancar dari mat gadisnya.
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku sendirian. Aku takut." Tubuhnya bergetar hebat.
"Kamu sakit? Aku antar ke dokter.” Alex menyadari Nayra dalam kondisi tidak baik.
Saat menatap matanya. Alex melihat kegelisahan dan ketakutan. Tapi, dia tidak ingin mengungkapkannya. Dia ingin gadisnya sendiri yang bercerita.
"Sayang ... tadi aku ...,” ucapannya terpotong dengan deringan ponsel ditas Nayra. Alex meliriknya.
"Angkat sayang, siapa tahu ada hal yang penting." Alex terus mendengar ponselnya tak berhenti berdering.
Nayra merogoh tasnya dengan malas. Melihat siapa yang menelponnya. Matanya membulat lebar dan dengan cepat Nayra menolak panggilan tadi.
"Kok di-matikan? Memang dari siapa?" Alex penasaran.
"Bukan hal penting. Kepalaku, sakit sayang..."
Nayra bangkit dari duduknya. Berjalan kearah ranjang mereka. Alex menyentuh keningnya memang terasa hangat. Dia beranjak mengambil obat pereda sakit kepala untuk gadisnya.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang."
"Tidurlah!" Alex mengusap kepala dan menyelimuti tubuhnya.
Alex masih penasaran, dia meraih ponsel gadisnya. Membuka dan memeriksa panggilan tadi. Tangannya mengepal dengan erat ketika melihat daftar nama panggilan terakhir tadi.
Berani sekali dia masih menghubungi gadisku.
***
Nayra terbangun. Dia, melihat sekitar dan mendapati secarik pesan dari Alex. Alex meminta jangan bekerja kalau dia masih belum sehat. Nayra bergegas mandi dan saat melihat meja makan, dia tersentuh. Alex sudah
menyiapkan semua untuknya.
Alex tamapk sibuk diruangannya. Tapi, dia tak bisa membohongi hatinya yang gelisah. Konsentrasinya terpecah, memikirkan gadisnya. Ada sedikit cemas dihatinya. Seperti perkataan gadisnya. Alex takut gadisnya
Nayra tetap bekerja. Matanya membulat lebar saat mendapati setangkai mawar putih dan sekotak coklat kesukaan. Sudah sangat lama dia tak melihatnya. Karena itu hanya akan mengenang masa kelamnya.
Tak berapa lama deringan telpon berbunyi. Nayra merogoh ponsel dan melihat orang yang menelponnya.
Tubuhnya bergetar lemas. Nayra meraih bunga dan coklat tadi. Berjalan kearah meja kerja Rasti dan menaruhnya disana.
"Apaan nih? Buat gue?" Nayra tak menjawab. Dia, bergegas pergi meninggalkannya.
Tepat ketika Alex keluar ruangan dan Rasti memanggilnya. Tapi, gadis itu sudah menghilang dari pandangan mata.
Alex merasakan sesuatu yang tidak beres langsung membuntutinya. Nayra menghentikan taksi. Kembali ke
__ADS_1
apartemennya. Dia, membawa serta sebuah kotak bersamanya. Pergi ke suatu tempat yang dijanjikan.
Nayra memasuki sebuah cafe. Dari sudut cafe seseorang berdiri dan melambaikan tangan kearahnya. Alex memandanginya dari mobil.
Alex melihat gadisnya berbicara dengan serius dengan seseorang laki-laki. Dia, meyakini bahwa laki-laki itu adalah Giondra.
Alex memutuskan untuk meninggalkan cafe tersebut. Pikirannya membuncah, melayang tak tentu arah. Dia, memutuskan menenangkan diri.
Dering ponselnya berbunyi. Alex mengabaikannya saat tahu telpon itu dari gadisnya. Dia, membutuhkan ketenangan.
Nayra merasa aneh. Alex tak pernah sekalipun mengabaikan telponnya. Bahkan ketika dapat chat pun dia pasti akan segera membalasnya. Tapi, disaat yang bersamaan pikirannya terbagi dengan kembalinya Gio. Dia takut, Gio
mengusik hidupnya.
Pertemuannya tadi, Giondra memang menyatakan bahwa dia kembali untuk Nayra. Dia, meminta gadis itu kembali. Menjalin hubungannya yang sempat terputus.
Dia menyadari kesalahannya. Dia merasa Nayra adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendampingnya. Dan Giondra bilang, Mona meninggalkannya demi laki-laki lain.
Nayra merasa karma itu benar adanya. Semua sakit hatinya pun terbalas. Tanpa dia sendiri yang melakukannya. Tuhan memang adil. Dengan tegas Nayra menolaknya.
Nayra seperti berada dalam permainan, permainan takdir. Takdir yang kejam sedang mempermainkan dirinya. Nayra sedih, disaat dia akan menggapai kebahagiaan, Giondra mengusik kembali hidupnya.
Gadis itu menunggu Alex di meja makan. Tanpa sadar dia malah ketiduran. Alex pulang, dia ingin seklai langsung beristirah. Namun, matanya teralihkan ketika dia melihatnya tertidur. Dengan makanan yang sudah dingin belum tersentuh sedikitpun.
Maafkan aku sayang, kamu pasti belum makan.
Rasa sesal mengalir dihatinya. Perlahan dia mengangkat tubuh gadisnya dan memindahkan ke ranjang mereka.
__ADS_1