
Ya ampun ... apa yang kulakukan semalam? Aku dan dia benar-benar? Nayra membekap mulut dan mengacak rambutnya dengan frustasi.
Bayangannya bergulir saat terakhir kali dirinya pulang dari apartemen Gio dan mampir ke pub. Hanya ingatan itu saja yang gadis itu ingat.
Nayra meraih ponselnya yang kembali berdering. Gadis itu mengangkatnya perlahan.
"Kau akan ke apartemen atau kita janjian di rumah sakit?" suara Gio dari seberang menyapanya. Mengingatkan soal janjinya.
"Maaf, aku sepertinya agak telat." Gadis itu gugup, dia lupa dengan janjinya.
"Kalau begitu kita janjiannya di rumah sakit , ya," sahut Gio.
"Baiklah kita bertemu di sana," ucapnya segera memutuskan telpon.
Nayra berjalan pelan memasuki kamar mandi. Dia melihat tubuhnya di cermin banyak tertinggal stempel kepemilikan Alex.
Nayra bodoh, apa yang kau lakukan. Bagaimana nanti dia menilaimu? Kau bahkan menikmatinya. Gadis itu terus merutuki dirinya akan kejadian semalam.
Dia melirik ponselnya lagi. Gadis itu tetap harus meminta izin dari Alex. Tapi, rasa malunya berselimut di hati. Akhirnya dengan berat hati, dia berniat menekan nomor telpon Alex. Namun, sebelum dia menekannya, Alex lebih dulu masuk dalam panggilan.
Nayra hampir saja melempar ponselnya saat melihat nomor Alex masuk dalam panggilan. Dia, ingin tak mengangkatnya, tapi getarannya tak juga berhenti. Dan janjinya terhadap Gio membuatnya tetap harus mengangkat telpon dari Alex.
"Ha-hallo," ucap gadis itu ragu-ragu saat berbicara.
"Apa kau ada tugas di luar hari ini?" Alex bertanya di luar ekspetasinya.
__ADS_1
"Ah, itu ... maaf, aku meminta izin tidak masuk hari ini," sahutnya dengan jantungnya yang terus berdebar kencang.
Alex terdiam sesaat. Yang gadis itu tidak tahu, Alex masih berada di depan pintu apartemannya.
"Kau sakit?" ucapnya menyelidik.
"Aku akan menemani , Gio terapi hari ini." Dia tak mendengar suara apapun. Alex termenung sesaat.
"Perlukah, kau menemani? Bukankah kau juga ada kejar date line hari ini?” Alex berkata ketus. Tidak rela kalau gadisnya mulai dekat kembali.
Apalagi, setelah peristiwa semalam, Alex bertekad akan membuat gadis itu kembali padanya. Bagaimanapun caranya.
"Besok, aku akan kerja lembur untuk menyelesaikannya." Nayra tetap bersikeras. Tak ada sahutan lagi. Ponselnya dia matikan.
Gadis itu tahu, Alex marah dan tak menyukainnya. Namun, saat ini dia tak punya hak itu. Dia, hanya seorang mantan sekarang. Alex pun tak mengungkit kejadian semalam.
Hatinya uring-uringan tak menentu.
Alex terus mengikutinya. Memantau dari kejauhan. Hingga taksi gadis itu berhenti di rumah sakit. Seperti paparazi yang sedang mengawasi artis incarannya. Alex mengintainya dan mengikuti kemana pun gadis itu melangkah.
Gio sudah menunggunya dengan Mona. Mona terlihat kesal dan tak sabaran. Nayra membuang jauh nafasnya. Dia, sebenarnya tak ingin terlalu jauh ikut dalam drama seri cinta mereka. Situasi yang menjengkelkan dan membuatnya muak.
"Kau dari mana? Kami sudah menunggu satu jam tahu!" ketus Mona menyemburkan lahar panasnya saat Nayra mendekati meraka.
Nayra tak menggubrisnya. Gio menyadari perubahan murungnya.
__ADS_1
"Aku sudah ambil nomor antrian. Kita bisa langsung masuk.” Gio menyentuh tangan gadis itu, membuyarkan segala lamunanaya.
"Ah, baiklah." Gadis itu mengekori mereka dari belakang.
Dua jam berlalu
"Sayang, kamu jadikan mengajakku berbelanja?" renggek Mona.
Dari kejauhan Alex menatap geram Gio. Cih, bisa-bisanya dia memohon padaku mengembalikan Nayra. Tapi, dia bersama dengan wanita penghianat itu. Alex mengepalkan tangannya dengan erat. Menyesali semua sandiwara yang dia lakukan bersama Gina.
"Sayang kita makan dulu.” Lagi Mona bersikap manja saat meraka sampai di pusat perbelanjaan.
Mona tak membiarkan Nayra menyentuh kursi rodanya. Hingga dia mendorong sengaja tubuh Nayra. Membuatnya terhempas ke tembok. Mata Alex benar-benar tak bisa menahannya. Namun, dia mencoba tetap menguasai emosinya.
Gadis itu hanya geleng-gelng kepala saat meladeni tingkah menyebalkan Mona. Dia, dengan sengaja menyuruh Nayra membawa semua belanjaannya. Setelah dia berusaha menahan kesabarannya.
Akhirnya dia memutuskan ke toilet untuk menenangkan diri. Mona mengikutinya, menatapnya seperti musuh.
Saat keluar toilet tanpa sadar Nayra menabrak seseorang. Lebih tepatnya orang itu memang sengaja menabraknya. Tas mackup yang belum sempat ditutup, berserakan di lantai.
Nayra memunguti satu demi satu isi dari tas mack up nya, sampai tangan orang tadi memberikan lipstiknya yang terjatuh tepat di kaki.
"Maaf, terima ka-sih!" mata mereka saling beradu.
Nayra terkejut orang yang menabraknya adalah Alex. Dan, dia benar-benar menyadari Alex masih memakai pakaian yang sama. Sekilas dari samar bayangannya.
__ADS_1
"Ka-kau?" tunjuk Nayra ingin berbicara lebih banyak. Namun, "Kalau sudah selesai, ayo kita pulang!"
Gio tiba-tiba berada dihadapan mereka. Menatap mereka dan membuyarkan semua.