PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
TIDAK MAU MINUM OBAT


__ADS_3

Alex menatap lepas beranda kamarnya. Mengingat semua ucapan Nayra siang tadi. Dadanya terasa sakit saat memikirkannya.


"Sayang." Nayra memeluknya dari belakang. Alex membalikan tubuhnya. Menatap wajah gadisnya yang terlihat segar setelah mandi.


"Kau sedang menggodaku, sayang?" Alex menarik wajahnya. Nayra malu. Hanya bisa membenamkan wajahnya ke dalam pelukan.


"Apa kau merindukanku sayang?" Alex bertanya kembali sambil mngecup rambutnya. Gadis itu hanya mengangguk pelan dalam pelukannya.


"Aku sudah kelaparan sangat lama. Bolehkah, aku makan sekarang sampai kenyang?" bisiknya di telinga gadis itu. Nayra tak menjawab. Namun, wajahnya sudah seperti udang rebus.


"Hah, kamu bikin aku gemas saja!" Alex mendaratkan kecupan hangat di bibir nya. Perlahan dia melepaskan kecupannya dan mengangkat gadis itu ke ranjang mereka.


Alex melepaskan semua rasa rindunya yang membara. Dia, tidak akan membiarkan gadis itu tidur dengan nyenyak. Satu jam berlalu, gadis itu masih dengan tubuh polosnya. Memeluk kekasihnya dengan sangat erat.


"Sayang, aku tidak apa-apa kok , kalau kau membantu merawatnya," ucapnya mengusap kepala Nayra dengan lembut.


"Aku tidak mau. Aku tidak mau berurusan lagi dengan orang itu. Pokoknya, aku tidak mau!" Nayra menolak bujukan Alex.


"Sayang, dengarkan aku dulu. Kamu bisa sembuh dan selamat seperti ini karena dia. Dia yang menolong mu. Aku tidak ingin ada hutang budi dengannya. Adai saja, aku bisa menggantikan untuk menjaganya." Alex menunjukan wajah sedihnya. Tetap berusaha membujuk kekasihnya.


"Kenapa sih dia harus menolongku. Seharusnya, dia biarkan saja aku yang tertabrak. Kenapa, kenapa sih harus dia yang menyelamatkanku. Aku sungguh membencinya sayang. Karena dia pernikahan kita masih tertunda." Gadis itu bangun dan menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih polos.


"Sabar sayang, andai saja bisa diulang. Aku, bersedia menggantikan posisinya," Alex ikut bangun dan menarik tubuhnya ke pelukan.


"Jangan bilang seperti itu sayang. Aku tidak akan sanggup kalau kamu yang seperti itu." Nayra terisak menatap wajah laki-laki yang sangat dicintainya. Memeluk tubuhnya lebih erat.


***


Alex mengajak Nayra mampir ke apartemen Gio, "Kok kita kesini sayang!" protes Nayra saat Alex menariknya masuk ke dalam lift.


"Sstt!"


Mereka berdua sudah berada di depan pintu apartenan Gio, "Aku tunggu di depan ya. Kamu, jenguk sebentar. Nih, aku sudah belikan buah." Alex memberikan kantong yang dibawanya.

__ADS_1


"Aku tidak mau sayang, tidak mau!" gadis itu menolak keras dan akan meninggalkannya.


"Sayang, jangan begitu. Aku, janji akan menunggu kamu." Alex tetap membujuk. Setengah kecut akhirnya gadis itu menyetujui.


"Janji, aku tidak akan ditinggakan. Kamu bakal menungguku," ucapnya.


Nayra menekan belnya sambil menoleh terus ke belakang. Seorang suster membukakan pintu. Nayra berjalan masuk melihat Gio yang duduk di kursi roda sambil menonton tv.


"Siapa, Sus?" Gia menolehkan wajahnya. Saat, dia melihat Nayra, dia mematikan tv dan menjalankan kursi roda menghampirinya.


"Nayra, aku senang kamu datang. Kemarilah. Sus, tolong buatkan minuman!" teriak Gio dan mempersilahkan Nayra duduk.


"Aku tidak akan lama. Tidak usah merepotkan. Aku mau antarkan ini saja.” Gadis itu meletakan kantong buah yang dibawanya ke meja. Suster datang dengan membawa minumannya.


"Setidaknya minum dulu, Nay,” ucapnya berusaha menahan kepergian gadis itu.


"Terima kasih. Buahnya di makan supaya kamu cepat sembuh dan sehat," ucapannya datar sedikit acuh tak acuh.


"Nayra, aku mohon maafkan aku. Aku terlalu bodoh dibutakan cinta. Aku mohon, Nay. maafkan aku," ucapnya terdengar sedih dan penuh penyesalan.


Giondra Pratama hanya bisa menatap kepergian gadis itu dengan rasa sedih.


Aku benar-benar minta maaf, Nayra. Sungguh, aku ingin kau memaafkanku.


Nayra mencari keberadaan kekasihnya. Saat turun di lobby gadis itu melihat Alex mondar mandir dengan perasaan gelisah yang tak bisa ditutupinya.


"Sayang!" panggil Nayra. Alex berbalik dan tersenyum.


"Sudah?" gadis itu mengangguk cepat. Alex segera meraih tangan gadisnya. Membawanya keluar. Tempat dimana mereka hampir kesulitan untuk bernafas.


Mereka kembali ke apartemen Alex. Menghabiskan waktu dengan makan dan menonton tv. Duduk di sofa, Alex tidak sedikitpun melepaskan pelukannya. Hingga membuat gadisnya tertidur.


***

__ADS_1


Hari ini Alex meninggalkannya sendiri di apartemen. Dalam sendirinya, Nayra memutuskan untuk berjalan keluar sendiri menghirup udara. Perasaan yang tidak nyaman terlintas.


Semua peristiwa yang terjadi. Tangisnya, saat Gio berkhianat dan meninggalkannya. Seolah menguap kepermukaan membuat gadis itu merasakan sesaknya lagi.


Lalu, Nayra mengingat ketika Alex mulai masuk dalam hidupnya. Kenangan manis, ketulusan cintanya membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Tanpa syarat apapun dan Alex pun mencintainya dengan tulus.


Lamunanya terganggu dengan deringan telpon yang berbunyi. Nayra merogoh tasnya dan mengangkatnya.


"Sayang ... kamu dimana? Tolong mama sayang, cepatlah kesini. Gio, mengamuk. Dia, menolak obat yang diberikan suster. Dia, bilang suadh tak mau hidup lagi. Tolong mama sayang, tolong." Suara isak tangis ibu Gio terdengar menyayat hatinya.


Nayra membuang pelan nafasnya, "Ba-baik, ma, aku segera kesana." Ucapnya bergegas pergi.


Pintu langsung dibuka ketika bel berbunyi, "Sayang, tolong mama. Dia, ada di dalam kamar bersama suster. Mama, takut sayang. Mama takut Gio melakukan hal yang tidak-tidak,” ibu Gio masih menangis dengan cemas saat gadis itu memasuki ruangan.


Nayra berjalan pelan mendekati kamarnya. terdengar dari luar kamar Gio memarahi suster yang membujuknya minum obat. Tak seberapa lama Nayra mendengar suara barang pecah. Dia, segera membuka pintu.


"Aku sudah bilang tidak lapar, Ma. Mama pergilah dan jangan ganggu aku lagi." Teriak Gio makin keras ketika Nayra memasuki kamar. Nayra tidak bersuara, memberikan kode pada suster untuk meninggalkannya.


"Tolong bawakan makan yang baru ya, Sus." Nayra berkata. Menatap sekeliling kamarnya yang sudah seperti kapal pecah, barang berserakan di mana-mana.


Gio menatap Nayra sudah berada dihadapannya. Tanpa banyak bicara gadis itu menaruh tasnya di sofa. Dia, mulai berjongkok dan membereskan satu persatu barang yang berserakan. Giondra Pratama tak bergeming .


Amarahnya seketika mereda saat melihat wajah gadis itu, "Kau seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Padahal, kamu sendiri yang telah membuangnya. Gio, Gio. Aku tidak menyangka kamu bisa seperti ini. Gio, yang kukenal dulu paling benci dengan sifat manja, eh ... sekarang dia sendiri yang bertingkah. " Nayra terus mengomelinya. Seperti anak kecil, Gio hanya tertunduk saat mendengar omelan gadis itu.


Suster kembali dengan makanan dan obat baru. Meletakkan di pinggir ranjang. Nayra menghampiri dan membenarkan posisi duduknya. Menaruh bantal di belakang punggungnya.


Nayra mengangkat piring dan mengambil satu sendok lalu dia dekatkan ke mulutnya. Gio membuang wajahnya, "Oh, baiklah kalau begitu. Pilihlah sendiri. Kau makan atau aku pulang!" ucap Nayra tegas menatap wajahnya yang berpaling.


Mendengar kata pulang. Gio langsung menoleh kearah, "Ayo. Pilihlah. " tantang Nayra.


Gio membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari Nayra. Makanan sampai habis dan meminum obatnya. Ibu Gio dan suster hanya bisa saling menatap.


Nayra selesai dengan tugasnya, dia segera bangkit, "Jangan pergi, jangan kemana-mana. Temani, aku disini."

__ADS_1


Gio menarik tangannya.


Menghentikan langkahnya yang akan pergi. Saat menatapnya ada perasaan berdesir dihati. Nayra tak tega saat melihat orang yang pernah dia cintai dan memohon dengan putus asa.


__ADS_2