
Di apartemennya, Nayra duduk di tepi ranjang. Menatap dua kotak kecil. Dia membuka kedua kotak tersebut.
Memandanginya penuh perasaan. Seolah hatinya sedang menegaskan mana yang harus dia pilih. Cincin pertunangan yang masih menyimpan semua kenangan Giondra Pratama atau kalung pemberian dari Alexander Gajendra.
Mereka berdua bertemu di lift yang sama. Namun, keduanya hanya diam. Alex keluar ruangan bersiap menemui klien. Nayra menghadang jalannya sambil membawa kotak bludru yang dia berikan.
Nayra mengembalikan kotak tadi ke tangan Alex. Membuat semua rekan kerja yang penasaran menatap mereka berdua. Alex menatap wajahnya yang tertunduk dihadapannya.
"Maaf, A-ku tidak bi-sa ...," bibir Nayra bergetar. Dia mengangkat kepalanya menatap Alex yang menarik nafasnya lemas mendengar kata-katanya barusan.
Dia sudah berjanji tidak akan memaksa gadis itu, tapi tidak menyangka akan menerima jawabannya dengan cepat.
"A—ku tidak bi-sa menolak untuk jatuh cinta pada-mu , Alex ...," lanjut Nayra berjalan mendekatinya.
Mendekati Alex yang masih menatap kotaknya. Nayra membuka kotak tadi, mengeluarkan kalung berinisial “N" dan berjinjit memakaikannya di lehernya. Alex terkejut apalagi gadis itu langsung memeluk tubuhnya.
"Benarkah? Aku tidak sedang bermimpi kan?" Nayra menggeleng dipelukannya. Alex membalas pelukannya lebih erat dan menciumi rambutnya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia," ucap Alex lembut berbisik di telinganya.
Membuat semua teman kerja yang menyaksikan bertepuk tangan, bersorak dan memberi selamat atas hubungan mereka. Hari ini mereka resmi memproklamirkan diri sebagai pasangan kekasih.
***
Alex tak ingin membuang waktunya. Dia mengajak gadis itu pulang ke rumah orangtuanya, "Sayangg, jangan hari ini yaa, besok saja,” Nayra merengek seperti anak kecil. Padahal ini bukan pertama kalinya dia berkenalan dengan keluarga kekasih. Sebelumnya, bersama Giondra, dia pun sudah pernah. Namun, tidak merasa gugup seperti ini.
"No, no! Kau terus saja mengulur waktu. Aku ingin segera menikah denganmu, sayang. Hanya ingin selalu bersama denganmu sepanjang waktu. Tidak seperti ini, kau selalu saja mengindari papa-ku saat kunjungan." Nayra
setelah pengumuman itu, dia selalu saja menghilang ketika ayah Alex datang. Walaupun dia datang hanya untuk sekedar mengecek kondisi perusahaan.
"Tapi."
"Ada aku, percayalah. Mereka tidak semengerikan yang kau bayangan, sayang," bujuk Alex. Berusaha menenangkan kepanikan kekasihnya yang tergambar jelas diwajahnya.
"Janji, kalau mereka tidak suka, kau ...,"
__ADS_1
"Sssttt!" Nayra terdiam seketika. Mengikuti langkah kakinya yang menarik masuk ke dalam rumah.
Kau ini kan anaknya, sedangkan aku ini kan hanya bawahan di kantor-mu. Bertemu bos besar di rumah, bukan untuk mengantarkan berkas, tapi untuk diperkenalkan sebagai kekasihnya. Kau benar-benar gila, Nay. Bagaimana kalau mereka menolak. Apa kau sudah mempersiapkan hati untuk terluka. Gejolak batin Nayra terus memaki diri sendiri.
Bos besar dan istrinya menatap kedatangan mereka dengan tajam. Tangan Nayra sudah bergetar dan dingin .
"Pah, Mah," sapa Alex menghampiri orangtuanya. Nayra mencoba tersenyum semanis mungkin dan menganggukkan kepala, gugup.
"Haduh, kalian lama sekali. Apa kabar sayang? Ternyata, kau manis sekali. Alex memang tidak salah pilih!" Ibu Alex tidak sabaran langsung menarik Nayra. Memeluk dan mengajak Nayra duduk di sofa. Nayra terkejut, tapi menghela nafas lega.
"Bagaimana dengan proyek di kantor apa ada kendala?" suara bos besar bergema keras saat mengintrogasi anaknya.
"Semua baik-baik Pah ...," sahut Alex.
"Hisss ... Papa ini, kita ini lagi menyambut anak mantu malahan membahas pekerjaan. Jangan bikin anak mantu-ku lari yah, Pah, awas saja kalau dia ketakutan!" ancam ibu Alex. Dia kesal karena suaminya membahas pekerjaan di pertemuan keluarga.
"Kau!” sahut bos Besar.
__ADS_1
"Aku bilang, jangan bahas apapun soal pekerjaan. Hari ini khusus untuk anak mantuku. Jangan buat dia lari dan tidak nyaman karena sambutanmu,” ketus ibu Alex. Nayra yang canggung hanya bisa diam saja saat melihat mereka adu mulut.
"Sayang ... kamu mau makan apa? Koki sudah menyiapkannya!" ibu Alex menarik tangan Nayra. mengandengnya ke meja makan. Nayra melirik Alex. Dia hanya tersenyum melihat kelakuan ibunya. Maklum Alex anak tunggal, dan ibunya ingin sekali anak perempuan.