Prince Of The Seventh Hell

Prince Of The Seventh Hell
bab 22 pelatihan dimulai


__ADS_3

"ini sudah sore, kapan master kembali?."tanya lion sambil melihat teman-temannya, tak lama kemudian orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Lion langsung mengarahkan anak laki-laki untuk segera berbaris.


"selamat datang kembali master."(teriak) mereka secara serempak sambil membungkuk. Melihat mereka Zero tersenyum puas. Sedangkan para gadis mereka sama sekali tidak berbaris dan langsung mengerumuni Zero. Melihat mereka yang langsung berkumpul disekelilingnya, Zero kemudian menasehati para gadis. yah itu hal yang wajar sih rata-rata umur murid laki-laki adalah 10-12 sedangkan untuk murid perempuan berkisar 7-11 tahun.


"astaga... kalian ini, lihat mereka (tunjuk kearah anak laki-laki) mereka langsung berbaris karena mereka tau itu untuk menghormati masternya (selagi Zero mengomel, Margaret mendekat ke Zero. Tanpa sadar Zero langsung menggendongnya) kalian juga seharusnya bersikap begitu."menggeleng kepala perlahan.


merasakan lengannya tiba-tiba berat dia menoleh ke lengan kirinya."hmm...kapan kamu sampai di sana Margaret?."tanya Zero dengan wajah bingung, bisa-bisa Zero lengah dengan keadaan sekitarnya. Tapi Margaret belum merespon Zero.


apa kekuatanku belum berfungsi sepenuhnya? bisa-bisanya Margaret langsung ada dalam gendonganku tanpa kusadari!, apa ini juga merupakan suatu bakat?.gumam Zero.


dia berhenti mengoceh dan mulai berpikir bagaimana cara Margaret langsung berada dalam gendongannya. Zero semakin penasaran. karena tidak tahan dengan keganjalan itu Zero kemudian bertanya kepada Margaret untuk kedua kalinya.


"Margaret! kapan kamu berada di sana? aku sama sekali tidak sadar kamu naik kesitu."mendengar itu Margaret memiringkan kepalanya.


"bukankah ayah sendiri yang menggendongku? kenapa ayah bertanya seperti itu?."jawab Margaret.


"apa!? aku sendiri yang menggendong mu?."


apa aku punya semacam kelainan, bisa-bisanya aku menggendong seseorang tanpa kusadari,


ini buruk, aku harus memastikannya nanti saat kembali ke kediaman ku dan bertanya ke sistem. gumam Zero dengan keringat dingin yang lumayan banyak.


melihat masternya yang cuma diam, Lia menatap Lion dan anak laki-laki lainnya, dan kemudian mulai mengambil barisan sendiri, tak lama berselang Lia diikuti anak gadis lain yang mulai berbaris rapi. Melihat mereka Zero mengangguk perlahan.


sedangkan untuk Margaret dia tetap berada dalam gendongan Zero, Zero menatap mereka dan kemudian bertanya"apa kalian telah selesai melakukan latihan yang aku suruh?."mereka semua mengangguk bersamaan, namun Margaret langsung berbicara.

__ADS_1


"cuman kak Lion dan kak Leo yang menyelesaikan apa yang ayah bilang sedangkan untuk kakak yang lain, mereka beberapa kali beristirahat."ucap Margaret dengan wajah polosnya.


mendengar penjelasan Margaret aura Zero keluar."hmm..apa itu benar?."dengan nada berat Zero bertanya kepada mereka semua. Anak-anak selain Lion dan Leo mengangguk dengan rasa takut diwajahnya.


"maafkan kami master! kami berjanji akan lebih rajin lagi, kumohon jangan buang kami."ucap Joy dengan lantang. Diantara semua anak Joy adalah anak yang paling kurus namun dia jugalah yang bernyali paling besar diantara semua murid Zero.


melihat muridnya ketakutan, aura Zero perlahan menghilang. Karena, sejak awal Zero hanya ingin melihat reaksi muridnya ketika zero marah dan ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Trauma yang ditimbulkan akibat hidup di tempat kumuh membuat mereka sering dimanfaatkan lalu dibuang sehingga membuat mereka mempunyai trauma yang tertanam di hati anak-anak ini.


tapi Margaret sepertinya berbeda, dia jujur seperti anak berusia 7 tahun pada umumnya, apa dia dibuang oleh keluarganya belum lama ini? atau keluarganya meninggal karena sebuah misi? sama seperti yang terjadi pada Lia dan adiknya .


karena mayoritas penduduk di daerah kumuh itu adalah anak yang kehilangan orang tua mereka. Hmm.. ah... lupakan.


melihat Joy yang masih gemetar ketakutan, Zero langsung berinisiatif untuk menenangkannya"tenang saja Joy(mengelus kepala Joy dengan lembut) aku tidak marah ko, tadi hanya bercanda jadi jangan dibawa ke hati, lagipula ini baru hari pertama jadi kalian pasti belum bisa beradaptasi. Yah walaupun Lion dan Leo sepertinya langsung bisa.


kalau begitu kalian semua masuklah kerumah kita akan makan terlebih dahulu sebelum berlatih mengontrol sihir."ucap Zero dengan nada santai.


"kalian tunggulah aku di ruang makan, aku ingin ke gudang lebih dulu. Dan bawa Margaret juga bersama kalian."


"baik master."


Zero berjalan menuju ke gudang yang berada di belakang rumah kayu itu,(membuka pintu)


"hmm.. sepertinya tempat ini cukup luas, baiklah 'skill space storage'." sebuah lubang muncul dan memuntahkan semua senjata yang Zero ambil di dungeon itu, sedangkan untuk daging dog wolf Zero berniat untuk membakarnya dan dimakan bersama anak-anak setelah Zero melatih murid-muridnya mengendalikan sihir.


setelah menyimpan semua senjata petualang itu, Zero kembali ke ruang makan dan sepertinya anak-anak itu sudah sangat kelaparan, mereka semua duduk di sebuah meja besar. Melihat master mereka kembali beberapa anak laki-laki begitu ambisius.

__ADS_1


"skill space storage!." semua makanan mulai dari ayam, nasi, sup dan lain-lain keluar dan langsung memenuhi meja besar itu. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang ingin menyentuh makanan yang Zero bawa. Itu membuat Zero bingung.


"bukankah kalian lapar! kenapa kalian tidak makan?."jelas Zero.


sekali lagi Joy maju dan berkata"apa kami bisa memakan semua makanan ini master?."tanya Joy dengan sedikit grogi.


"bukankah itu sudah jelas! kan aku membeli ini semua untuk kalian jadi kalian makanlah sepuas-puasnya."mendengar itu semua anak saling menatap satu sama lain dengan senyuman.


mereka semua mulai memakan makanan yang ada di atas meja besar itu dengan lahap nampak jelas bahwa ini pertama kalinya mereka memakan sesuatu yang seenak itu. Wajah mereka menunjukkan rasa yang sangat bahagia.


"ahhh....aku benar-benar kenyang."ucap Lion


"iya...aku juga."balas Leo


melihat mereka sudah selesai makan Zero berniat untuk melanjutkan latihan mereka."karena kalian sudah selesai makan bagaimana kalau kita langsung saja berlatih mengendalikan sihir?."


mereka perlahan berdiri"baik...master."melihat mereka telah siap, Zero mengangguk dan berjalan keluar menuju air terjun yang ada di samping rumah kayu itu.


bagus, karena malam sudah tiba ini waktunya untuk meningkatkan sihir mereka lalu mulai belajar mengkontrolnya, kurasa aku harus melatih anak laki-laki terlebih dahulu soalnya mereka sangat cepat memahami sesuatu dan itu sungguh memudahkan.


"Lion,Rhin,Joy, Leo dan Ken maju, buka baju kalian lalu duduk di bawah air terjun itu."


"tapi master dimana kami akan duduk?."tanya Ken.


sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menggunakan sihirku sekarang.

__ADS_1


zero melambaikan tangannya, dalam sekejap sebuah kayu muncul pas di bawah air terjun itu. Membuat anak-anak terkejut setengah mati. Entah bagaimana reaksi mereka jika melihat pertarungan Zero dengan pahlawan kirigaya izumi yang sangat dahsyat.


"kalau begitu pergilah kesana, kalian cukup duduk dan merasakan sihir masuk ke dalam tubuh kalian, semakin banyak kalian menyerap sihir semakin hangat pula tubuh kalian dan jika ada di antara kalian yang sudah tidak sanggup maka berhentilah karena masih ada hari esok."


__ADS_2