Prince Of The Seventh Hell

Prince Of The Seventh Hell
bab 25 sebuah kota di lantai dua dungeon


__ADS_3

hmm...ini perkembangan yang lumayan, jika dilihat dari stat mereka beberapa hari yang lalu yang rata-rata 3-5 saja, Ini juga baru hari kelima jadi ini sudah hebat.


melihat status muridnya Zero tersenyum puas, Kini mereka semua sudah setara dengan anak bangsawan berusia 11 tahun, yang telah dilatih sejak berumur 7 tahun.


"kalian telah berkembang cukup hebat dalam 5 hari terakhir, itu merupakan hal yang bagus untuk kalian,"jelas Zero yang memuji mereka


"tapi jika dibandingkan dengan anak bangsawan kalian bukankah apa-apa sekarang, oleh karena itu kalian harus berlatih lebih giat lagi."ujar Zero dengan tatapan tak acuh. yang langsung menjatuhkan kesenangan mereka


mendengar itu mereka cuma bisa mengangguk perlahan. Wajah Zero kini berubah menjadi serius, dia menatap semua muridnya, lalu berkata.


"mulai besok bukan aku yang akan mengajari kalian,"


"kenapa!," mereka sangat terkejut dengan pertanyataan master mereka


"itu karena aku punya urusan yang harus aku selesaikan, tapi kalian tak perlu khawatir karena orang yang akan mengajari kalian adalah murid pertamaku dan dia cukup hebat dalam sihir maupun pertarungan fisik." jawab Zero yang mencoba menenangkan para muridnya.


"...."


tempat itu seketika sunyi, semua anak-anak menunduk dengan tatapan suram. Mereka mungkin mengira bahwa Zero telah membuang mereka. Tapi mana mungkin Zero membuang muridnya. Zero kemudian duduk dan menjelaskan kepada murid-muridnya itu.


"dengarkan ini, aku tidak mungkin akan meninggalkan kalian,"memegang pundak Lion "aku pergi karena ini memang tugasku, Lion kumohon percayalah. Aku sungguh harus hadir di pertemuan itu. Bantu aku menyakinkan mereka," pikir Zero.


seakan-akan tahu apa yang dipikirkan Zero, Lion mengangguk santai.


"kalian tenang saja master tidak membuang kita dia hanya akan pergi sebentar karena mempunyai tugas lain."berbalik dan menjelaskan kepada anak-anak lain.


hah .... apa mereka berpikir aku akan membuang mereka!


Zero terkejut setengah mati mendengar perkataan Lion. Tak lama kemudian Margaret mendekat ke Zero lalu berkata


"apa ayah benar-benar tidak membuang kami?" sambil tersedu-sedu


"tentu saja, aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku cuma pergi selama beberapa bulan ko,"jawab Zero sambil mengelus-elus kepala Margaret.


mendengar itu Margaret langsung memeluk Zero.


"ayah, janji yah."ucap Margaret sambil meminta janji kelingking.


"baiklah, kurasa ini waktunya untuk memperkenalkan senior/guru baru kalian"sebuah lingkaran pemanggilan muncul disamping Zero, diikuti sosok perempuan berambut hitam panjang dengan pupil mata hitam. Sekali lagi Zero terkejut


bisa-bisanya dia membuat sebuah tubuh yang mirip dengan tubuh utama ku. Apalagi, kenapa dia merubah jenis kelaminnya menjadi seorang wanita? jujur saja aku terkejut karena dia sangat cantik, ehh maksudku aku sangat cantik. Ngomong-ngomong bagaimana reaksi anak-anak


mata mereka berkilauan seperti melihat seorang dewi yang turun dari langit. Melihat reaksi muridnya Zero cuma bisa membatu. sistem mendekat ke Zero lalu membungkuk dengan sopan


[tua-] sebelum kata itu selesai Zero dengan cepat menghentikannya


"jangan panggil aku tuan, panggil saja aku master."ucap Zero di dalam pikirannya

__ADS_1


[baik master] balas sistem


[saya hormat kepada master]


Zero dengan wajah tak acuh mengubah arah pandangannya. Dia kini melihat muridnya dan maju sambil menarik pergelangan tangan sistem.


"perkenalkan senior kalian, namanya adalah Yui kalian harus menghormatinya seperti kalian menghormati ku. Kalian mengerti"tanya Zero dengan tegas


mereka melupakan semua kesedihan mereka dan berkata dengan serempak"baik master."


"yap, kalau begitu aku pergi dulu."


[mohon tunggu sebentar master, kumohon terima hadiah kecil saya ini]


kotak? untuk apa dia memberikanku benda seperti ini. Ahh .... terima sajalah, ini juga hadiah dari sistem jadi tidak perlu memikirkannya


"baiklah, aku akan mengambilnya."


[terimakasih master]


Zero berbalik lalu berlari pergi. Wajah dinginnya perlahan kembali, dia kini terlihat seperti seorang yang sangat berwibawa. Tujuan Zero adalah menaklukan lantai dua dungeon yang ia temukan sebelum kembali, dan entah kenapa dia merasa sangat bersemangat tentang hal itu.


setelah perjalanan selama 10 menit dia sudah sampai di mulut dungeon. Sebelum masuk dia menyempatkan diri untuk melihat apa isi dari kotak pemberian sistem. Di dalam kotak itu terdapat sebuah papan kayu seukuran KTP dan yang terukir di sana adalah status Zero.


[profil pengguna]


level: 15 (1,600 exp untuk naik level)


{ HP 1500/1500 }


{ SIHIR. 505/505 }


{ E. Iblis 15/15 }


keterampilan: absorb,Api neraka lv 1,mata merah niat membunuh lv 1,mata biru penilaian lv 1,mata hijau pelumpuh lv 1, pengubah bentuk lv 1,ilusi lv 1,sabit lv 1,(170 skill iblis lv 1)[tidak dapat di tingkatkan] penangkal keterampilan lv 1(New)[dapat di tingkatkan]


ketahanan: 39


kecepatan: 34


kekuatan: 48


vitalitas: 295


poin yang belum digunakan: 20


hmm .... sebuah papan status! kenapa dia memberi ku sesuatu seperti ini? apa dia tau kalau aku tidak akan terlalu menggunakannya lagi? hah .... aku benar-benar tidak mau terlalu bergantung pada sistem, aku takut kejadian seperti di neraka terjadi lagi, di saat aku melawan hades sang penguasa underworld. sistem ku tiba-tiba tersegel dan semua skill ku terkunci itu membuat seperti orang idiot yang sengaja mencari mati

__ADS_1


Zero menunduk lalu menghela nafas panjang dia sungguh tidak ingin melakukan itu kepada sistem yang telah bersamanya selama 15 tahun di neraka.


tapi ini hanya untuk langkah pencegahan, bukan berarti aku akan benar-benar tidak menggunakan sistem lagi, gumam Zero


hmm .... apa aku mendapat skill baru! penangkal keterampilan "...." apa fungsinya? lah ... sudah kuduga sistem sangatlah penting. pikir Zero sambil menggaruk kepalanya dengan cepat.


ahh .... untuk sekarang lupakan saja, aku akan memikirkannya nanti


Zero mulai masuk ke dalam dungeon, tapi setelah beberapa langkah, bau menyengat mulai tercium membuat wajah Zero menjadi wajah yang jijik. Sambil menutup hidungnya Zero berjalan menuju pintu yang ada di ujung dungeon itu. lalu membukanya menggunakan kedua tangannya.


Zero melihat sekeliling. Tempat itu sungguh berbeda jika dibandingkan dengan lantai satu dungeon yang kotor dan menjijikan. Lantai dua itu lebih kearah perkotaan luas bagai dunia lain.


setelah lebih dari 1 jam mengamati kota itu Zero menarik kesimpulan.


di kota ini hanya hidup 3 jenis ras yaitu goblin, orc dan ogre, mereka menjalani kehidupan layaknya manusia yang menjalani kehidupan mereka. Pemimpin, penjaga, rakyat biasa, penjahat dan bangsawan. Kehidupan mereka sungguh persis seperti manusia di dunia tempat ku tinggal. Yang berbeda hanyalah ras dan budaya mereka. pikir Zero.


lantas kenapa! bukan berarti, mereka mirip seperti manusia dan aku tidak akan membunuh mereka karena merasa kasihan, mereka adalah ladang exp bagiku dan aku akan membunuh mereka tanpa mereka ketahui bahwa salah satu dari mereka telah mati.


saat ini di lantai dua dungeon seperti sudah malam dan itu akan memudahkan Zero dalam membunuh mereka tanpa diketahui oleh penjaga.


Zero kini berjalan dengan santai untuk masuk ke dalam kota, disana ia dihadang oleh dua Orc bertubuh kekar yang merupakan penjaga pintu masuk.


"π£¥£^ π€°¢¥"ucap orc itu


apa yang dikatakan orc ini? aku sama sekali tidak mengerti


......................


sudut pandang dua orc


"berhenti di sana,"ucap orc itu sambil menatap pria mantel hitam yang bahkan menutupi wajahnya di depan mereka. "apa ras mu dan apa tujuanmu kemari?."tanya orc itu kembali


" .... "


tidak ada jawaban dari orang yang ada di depan mereka, orc itu kembali bertanya


"hei aku bilang apa tujuanmu kemari!." tanya orc itu dengan wajah kesal. orang itu nampaknya berfikir sejenak lalu akhirnya membuka mulutnya.


"¢÷€|¥~£•¥¢×^€`√^|`•." ucap orang itu.


mendengar itu salah satu alis penjaga terangkat. "sudah cukup tahan saja dia."


"baik"


......................


salah satu orc maju dan ingin menahan Zero, tapi dalam sekejap kepala orc itu langsung menghilang. Melihat semburan darah yang keluar dari temannya itu. Orc lain membatu dengan ekspresi tidak percaya diwajahnya. Sebelum dia sempat beraksi tebasan pedang telah memenggal kepalanya.

__ADS_1


"baiklah, waktunya untuk farming!" ucap Zero diikuti senyuman iblisnya. dan mulai berjalan masuk ke kota itu.


__ADS_2