Prince Of The Seventh Hell

Prince Of The Seventh Hell
Bab 66. Pecahan


__ADS_3

"Hooh, aku tidak tahu kalau kamu mempunyai seorang putri. Jadi, Lia apa ada yang ingin kamu tanyakan? kakak ini akan menjawab semampu kakak." Ucapnya sambil menunduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, tidak lupa dia memasang senyuman indah yang ditunjukkannya kepada gadis yang ada di belakang pria tua itu.


Mendengar itu, Lia mengangkat tangannya, menunjuk ke dalam ruangan yang dapat ia lihat dengan jelas dari luar. Matanya tertuju pada seorang anak laki-laki dengan pakaian yang sudah basah karena keringat di bagian dalam ruangan.


"Siapa dia? dan kenapa dia berada dalam ruangan kaca itu?"


Kakak berpakaian putih bangun lalu menoleh ke arah Ar1. Dia kemudian mulai menjawab pertanyaan Lia dengan penuh semangat dan rasa bangga tentang Ar1.


"Dia adalah Ar1, manusia yang disempurnakan dengan berbagai cara yang bisa dipikirkan oleh kita! Manusia! ... Dan akhirnya! setelah 10 Tahun percobaan, puluhan manusia sempurna telah berhasil kami kembangkan. Namun, kami punya masalah yang sangat sulit kami atasi.


Dimana, diantara 28 orang anak yang kami kembangkan hanya ada 1 orang yang mencapai puncak kesempurnaan dan dia adalah Ar3. Untuk Ar1 sendiri dia juga sudah hampir mencapai tingkatan itu.


Namun, Emosi Ar1 bisa dibilang masih cukup kuat, jadi kami tidak punya pilihan lain selain menunggu emosinya perlahan menghilang dan mengurungnya dalam ruangan isolasi. Jadi, apa kamu sudah paham Lia?" Jawab kakak berpakaian putih.


Mendengar penjelasan yang terlalu panjang, membuat Lia bingung dia cuma bisa memberi respon bahwa dia tidak paham dengan penjelasan kakak berpakaian putih, dengan menggelengkan kepalanya.


"Itu bukanlah sesuatu yang bisa dipahami anak kecil sepertinya Eva." Ujar pria berjas hitam.


"Hmm ... begitukah? membosankan." Eva sedikit kecewa dengan perkataan Pria tua itu, dia dengan sengaja memalingkan wajahnya dari yang tadinya melihat ke Lia yang sekarang melihat ke Ar1.


"Jadi, kamu berniat menghapus emosi anak itu?"


"Ya, bukan hanya dirinya, tapi semua anak yang sudah di kembangkan. Oh, iya. Aku hampir lupa menanyakan hal ini. Apa yang ingin kamu beli kali ini? apa kamu butuh racun yang lebih mematikan dari yang terakhir kali?" Tanya Eva yang sekarang duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Pria tua itu berjalan ke tempat Eva duduk sambil menjawab.


"Tidak, racun yang terakhir kali sudah cukup. Kedatanganku kali ini adalah untuk itu." Pria tua itu duduk di samping Eva yang kemudian mengangkat tangannya lalu menunjuk ke arah Ar1.


".... Hmm ... itu sedikit mahal, apa kamu yakin ingin membelinya?"


"Memangnya berapa?"


"Cuma 20 Triliun untuknya, lagipula dia belum sempurna. Tapi ... kamu ingin menggunakannya untuk apa?" Tanya Eva dengan wajah sedikit penasaran.


"Yah, Aku ingin menjadikannya sebagai pewaris perusahaan ku di Inggris dan karena dia belum kehilangan emosinya sepenuhnya itu menjadi lebih baik lagi." Jawabnya dengan tatapan yang penuh iba.

__ADS_1


"Begitu, kah. Jadi apa kamu ingin mengambilnya?"


"Ya."


"Hehe baiklah kalau kamu bilang begitu. Tapi, sebagai teman yang sudah lama kenal aku akan memberimu sedikit saran. John, Jangan merasa iba pada sesuatu yang bisa menghancurkan mu nanti, soal penelitian ini kamu bukanlah orang pertama yang tahu tentangnya.


Jadi, apa kamu yakin akan hal ini?"


"Iya."


".... Baiklah."


...****************...


Seluruh tempat tiba-tiba berubah. Saat ini, didepan hadapan Ar1 Sebuah rumah sederhana terbakar hebat. Ar1 terdiam karena kaget dengan peristiwa yang ada di hadapannya, bahkan dia tidak mampu menggerakkan kakinya selangkah, pun dari tempatnya.


Tidak! tidak! ini mimpi! Ini sudah pasti mimpi!! Kumohon jangan perlihatkan mimpi ini lagi!!


Tapi, ada satu yang berubah dari mimpi itu, dimana dia tidak lagi bisa menyentuh apapun yang ada di sana bahkan tanah yang ada di bawahnya.


Tok..tok..tok...tok...


"tolong a..ku!."


Mendengar itu Rein bergegas ke arah suara itu, mengetahui Aulia terkunci di kamarnya. dia langsung menerobos masuk ke rumah yang telah terbakar untuk menolong Aulia.


"aaaaaaahhhhhhhggggggg." suara teriakan semakin terdengar jelas dan membuat Rein semakin panik dia mulai berfikir yang tidak tidak.


kumohon! bertahanlah Aulia. Jangan tinggalkan aku lagi! air mata kembali mengalir dari wajah Rein.


saat Rein membuka pintu itu dia melihat seorang mayat yang telah hangus terbakar Rein berlutut di samping kepala mayat dari teman baiknya itu. lalu dengan perlahan mengangkat kepalanya naik ke pangkuan Rein. lagi-lagi air mata Rein mengalir, dia menangis sambil memeluk tubuh teman baiknya itu.


Rein yang melihat dirinya yang lain cuma bisa diam. Air matanya terus mengalir setiap kali dia mengingat hari tragedi itu.


"Hai ari." Suara seorang gadis tiba-tiba terdengar. Rein yang berada dalam wujud tak terlihat memalingkan wajahnya. Dia ingat suara itu, tepat setelah melihat orang yang berada berdiri di sampingnya dia tidak lagi bisa menahan air matanya. Dia adalah Aulia.

__ADS_1


"... Maafkan aku, Maafkan aku Lia. Aku, aku, aku tidak bisa menyelamatkan hari itu. Aku sunggu-" Sebelum perkataan Rein selesai, Aulia mendekat, memeluknya dengan erat lalu berkata.


"Tidak apa-apa. Kamu sudah berusaha menolong ku, kok. Jadi, kamu tidak perlu lagi menyalahkan dirimu atas kematianku. Lagipula, aku senang bisa hidup selama itu. Oh iya, apa kamu sudah mempunyai teman? Jangan bilang kamu lupa tugas yang kuberikan padamu, kalau kamu sampai lupa, aku tidak akan memaafkanmu, loh."


"Tentu saja aku tidak lupa. Tapi, mencari teman benar-benar sulit, tidak seperti yang kubayangkan." Perlahan Rein bangkit lalu mengusap air matanya kemudian dia memaksa dirinya untuk tersenyum.


"Hahaha, senyuman macam apa itu? konyol sekali! ... Itu sulit karena sikapmu itu, cobalah untuk lebih terbuka dan percaya pada orang-orang di sekitar mu, aku yakin kamu pasti akan mendapatkan teman jika seperti itu."


"... Baiklah, akan kucoba untuk percaya pada orang lain."


"Oh, sepertinya waktuku sudah habis. Rein semoga kamu sehat selalu." secara perlahan tubuh Aulia menghilang menjadi serpihan cahaya. Dimulai dari kaki sampai kepala. Dan sebelum dirinya menghilang sepenuhnya dia bertanya.


"Hei Rein, Apa kamu sudah memiliki orang yang ingin kamu lindungi?"


Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba kepala Rein di isi oleh keseharian Irene, tunangannya di dunia yang baru, dengan senyuman dia menjawab."Ya."


Mendengar jawaban Rein, Aulia tersenyum hangat. "Begitu, ya. Baguslah." Dan akhirnya Aulia menghilang sepenuhnya dari pandangan Rein.


...****************...


Di dalam kereta kuda


Rein terbangun dengan air mata yang masih jelas di wajahnya. Jia Li yang melihat hal itu mendekat lalu bertanya.


"Apa anda baik-baik saja tuan?"


"...ya, menjauh lah."


"Baik." Jia Li mundur.


"Ngomong-ngomong apa kita sudah sampai?"


"Tinggal sehari lagi Tuan sebelum kita sampai di sekte bunga permata."


"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu."

__ADS_1


"Baik."


__ADS_2