Prince Of The Seventh Hell

Prince Of The Seventh Hell
Bab 45. Perang ( bagian 3 )


__ADS_3

BUM!


Ledakan terus terjadi di tempat pertarungan Elisa. Walaupun Elisa kuat tapi Lia sepertinya masih khawatir dengannya. Bagaimana pun lawannya adalah seorang komandan dari penjajah yang menyerang.


Aku harap Elisa bisa bertahan melawannya sampai kami menyelesaikan masalah yang ada di sini.


Lia melihat sekumpulan Dragon yang datang, diantaranya ada beberapa Dragon yang mempunyai aura sihir yang lumayan kuat. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Lia mulai merapal mantra Gravitasi miliknya.


"Sihir kegelapan tingkat 6, Gravitasi mutlak!" Ucap Lia dengan santai.


Dalam sekejap para Dragon yang awalnya berada di udara dipaksa untuk turun ke permukaan tanah. Mereka tidak punya pilihan lain selain berubah ke wujud mereka yang sebenarnya. Wujud yang sama seperti yang digunakan oleh Dex.


Melihat para Dragon telah


turun ke permukaan, Alger tidak ingin


Melewatkan kesempatan ini. Dia kemudian memerintahkan kepada para petualang untuk mulai menyerang secara langsung.


Sedangkan untuk penyihir, tanpa perintah dari Alger mereka sudah mulai merapal mantra sihir mereka, untuk penyihir biasanya mempunyai kemampuan atribut yang jauh lebih banyak dibandingkan seorang pengguna senjata atau biasa disebut petarung


( weapon user )


Untuk seorang petarung biasa mereka hanya mampu menguasai satu jenis atribut. Namun dalam hal perkembangan petarung jauh lebih baik. Soalnya seorang penyihir mempunyai batasan yang sudah jelas di hadapan mereka.


Misalkan, seorang petarung beratribut api dibandingkan dengan seorang penyihir yang biasanya menguasai lebih dari 3 atribut. Jika mereka bertarung kira-kira siapa yang akan menang?


Banyak dari kalian pasti berpikir jika penyihirlah yang akan menang. Tapi itu belum tentu benar. Menurutku pendapat ku, alasan aku mengatakan ini adalah.


Pertama, Dalam hal tingkat kekuatan, seorang petarung selama terus berusaha pasti mereka akan bisa mencapai tingkat tertinggi atau tingkat 10. Dan untuk penyihir, sekeras apapun mereka berusaha tingkat yang mereka bisa raih hanyalah tingkat 6 saja.


"Semuanya! ini kesempatan kita, habisi para naga itu!" Alger berteriak, memberikan perintahnya untuk para pasukan serta petualang yang ada di sana.

__ADS_1


Setelah para Dragon itu turun ke permukaan Margaret juga mulai menggerakkan Gigantoma. "Gigantoma habisi merek-" kedua lengan Gigantoma hancur. Membuat Margaret tidak sempat menyelesaikan perkataannya Karena terkejut.


Apa! Kenapa kedua lengan Gigantoma hancur?! apa ini karena serangan naga hitam itu? kalau begitu, apa Elisa mampu menahannya sebelum kami membereskan para naga yang ada di sini?!


"Gigantoma!, injak saja mereka," teriak Margaret. Yang kemudian meluncur ke tempat Elisa bertarung melawan Dex.


Lia yang melihat Margaret hendak pergi bertanya. "Margaret, mau kemana kamu?!"


"Aku akan pergi membantu kak Elisa, melihat betapa kuatnya serangan Naga hitam itu, kak Elisa pasti hanya bisa menahannya paling lama 10 menit. Gigantoma akan tetap di sini untuk membantu jadi aku pergi dulu kak Lia," jawab Margaret pergi.


Jika perkiraan ku benar, mereka akan tiba dalam 10 menit lagi. karena kemampuan teleportasi ku sangat terbatas pada jumlah jadi aku membawa orang-orang yang cocok saja untuk menahan para naga.


Bagaimanapun, kami harus mempertahankan kerajaan ini sebelum mereka tiba. Karena master lah yang memberikan perintah ini, jadi kami harus menyelesaikannya sebaik mungkin.


Jadi, bertahan Elisa.


Di sisi lain


Seorang gadis kini terlempar ke atas. Lalu seorang pria bertanduk muncul di atas kepala gadis itu. BUUK Pria itu memukul wanita yang tengah melayang tanpa rasa ragu sedikitpun.


Membuat tubuh lembutnya, terlihat dengan jelas. Gadis itu kembali bangkit, dengan kedua kaki yang sudah gemetar akibat rasa sakit yang ia terima.


Dia memasang kuda-kuda seorang Boxing, gadis itu menatap dengan tajam pria bertanduk yang ada di depannya dengan tatapan tajam. Untuk luka yang pria itu terima bisa di bilang tidak terlalu parah.


Dia hanya mengalami luka dalam pada dirinya, sejauh ini dia baru memuntahkan darah sekali selama pertarungan. Berbeda dengan gadis yang ia lawan setidaknya dia telah muntah darah sebanyak 4 kali.


Membuat wajahnya telah memucat akibat kekurangan darah. Dia beberapa kali hampir jatuh pingsan karena hal itu. Tapi pria didepannya sama sekali tidak prihatin, dia berjalan mendekati gadis itu sambil menelan saliva.


"Walaupun ras-mu, hanyalah manusia tapi kau punya kekuatan yang sangat hebat. Itu membuat ku ingin mencicipi mu," ucap Pria itu dengan nada yang menggelikan.


Pria itu menatap gadis di depannya dengan penuh nafsu. Dia beberapa kali menarik nafas panjang lalu membuangnya.

__ADS_1


pria itu semakin dekat dengan gadis yang sudah setengah sadar itu. Setelah tepat berada di depannya. Pria itu mengulurkan tangannya yang hendak menyentuh dada gadis yang masih berdiri itu. Rupanya gadis itu sudah pingsan sambil berdiri.


Hal itu, membuat Pria itu semakin ingin menodainya. Dan ketika tangannya sudah dekat dengan dada gadis itu. Seorang gadis datang lalu melancarkan tendangan keras ke wajah pria itu.


"Hei, Elisa! apa kamu masih Sadar!" ucap gadis itu sambil menggoyang-goyangkan bahu Elisa.


Perlahan mata Elisa terbuka. "Si-Sia, Aku baik-baik saja." ucap Elisa terbata-bata.


Mendengar itu Sia membesarkan suaranya. "Matamu, baik-baik saja! lihat seluruh luka yang ada di tubuhmu. Ini bukanlah yang namanya baik-baik saja." Ucap Sia agak kesal.


Sia berbalik perlahan, dengan niat membunuh yang sangat kejam dimatanya. Dia menatap Dex dengan penuh amarah. Tak lama setelah kedatangan Sia, Margaret juga telah sampai di sana bersamaan dengan datangnya Leo.


Melihat amarah Sia Leo dan Margaret yang baru datang terkejut, mereka berjalan perlahan mendekati Sia untuk menenangkannya. Tapi setelah mereka berdua melihat kondisi Elisa yang terluka parah. Amarah mereka berdua juga mulai melonjak.


"Wah-wah, sepertinya ada yang berani mengganggu Dragon yang perkasa ini saat ingin bermain. Apa kalian tidak menyayangi nyawa kalian hah!" ucap Dex tersandar di sebatang pohon.


Dex yang bangkit lumayan terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini, dua orang manusia memancarkan niat membunuh yang begitu kuat dari tubuh kecil mereka.


Margaret yang masih di lahap oleh amarah, tiba-tiba mengingat perkataan ayahnya( Zero )


"Ingatlah ini Margaret. Amarah memang membuat seseorang menjadi lebih kuat tapi amarah juga membuat seseorang bisa mendapatkan bahaya.


Jadi jika kamu sedang dalam keadaan amarah, berusaha lah untuk mengkontrolnya." ucap Zero sambil mengelus-elus kepala Margaret.


Margaret menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Amarah yang ada di kedua matanya perlahan menghilang. Lalu dengan tatapan dingin dia merapalkan mantra miliknya.


Dia kemudian menatap Leo yang masih marah di sampingnya. Dia memberi isyarat pada Leo untuk mulai menyerang. Melihat itu Leo menenangkan dirinya lalu mengangguk perlahan.


Leo meluncur maju ke arah Dex dengan cepat. Cepat! Dex terkejut. Dex dengan cepat menyilangkan kedua tangannya untuk menahan serangan Leo.


"Sihir tanah tingkat 6. The thorn of judgment!" ucap Margaret.

__ADS_1


Ratusan duri keluar dari tanah tepat di bawah Dex. Salah satu duri mengenai lengan Dex hingga meninggalkan lubang besar bersarang di lengan Dex.


Dex melompat mundur.


__ADS_2