
Pagi telah tiba, semua orang –eh maksudku semua monster telah mulai menjalani kehidupan sehari-hari mereka, Zero juga mulai berjalan beradaptasi dengan para monster. Dia berjalan menggunakan mantel hitam miliknya. Saat Zero melewati sebuah tempat berdoa para monster itu, ada puluhan goblin dan orc yang menangisi keluarga mereka yang tewas, karena kejadian semalam.
Mereka semua sangat menyedihkan itulah yang dipikirkan Zero. Kematian pasti akan datang kepada semua makhluk hidup tak terkecuali untuk monster, di mana hukum rimba berlaku yang kuatlah yang akan menjadi penguasa, sedangkan untuk yang lemah akan dipermainkan.
Zero melihat mereka sekilas. Namun, wajahnya sama sekali tidak berubah. Dari awal inilah sosok Zero yang sebenarnya seorang pria yang dingin dan kejam. Jika bukan karena anak-anak itu berbakat, mana mungkin Zero akan repot-repot mengubah mimik wajahnya.
Zero berjalan menuju tempat paling tinggi di sana. Tempat yang dikatakan sebagai kastil sang raja, sembari melempar jarum beracun miliknya.
Zero memegang dadanya sembari berkata dalam hati, "Aku sangat berharap orc itu masih hidup, aku ingin sekali membunuhnya dengan tanganku sendiri. Dia adalah monster pertama yang berhasil selamat dariku dan bisa memberikan luka yang cukup fatal untukku. Walaupun status kami tidak terlalu jauh."
Di sana terdapat luka tebasan yang seperti akan membelah badan Zero. Mulai dari pundak sampai ke pinggangnya, dengan lebar beberapa inci saja. Itu terjadi karena Zero mempunyai skill regenerasi walaupun hanya berada pada level 1 saja.
Awalnya luka itu adalah luka yang sangat fatal, namun setelah beberapa jam lukanya perlahan mengecil. Dia juga tidak bisa membeli pil penyembuh instan yang ada di shop. Karena kekurangan point skill. Jadi walaupun Zero telah memisahkan diri dari sistem, namun shop yang Zero baru dapatkan, telah tertanam di otaknya. Itu membuatnya bisa mengakses shop sesuka hati.
Papan status yang ada di kantong Zero mulai bergetar. Zero mengambil papan status itu. Disana, puluhan pesan masuk dan saat Zero melihat isi pesan tersebut.
...[anda mendapat 12 exp]...
"Haa .... Aku sudah membunuh monster lebih dari 300, tapi levelku masih belum naik. Ini sungguh merepotkan!" ucapnya kesal.
Zero tertawa kecil. kemudian ia merubah ritme jalannya menjadi berlari. Karena saat malam tiba, itu artinya dia akan segera berangkat menuju ibukota kerajaan.
Pada saat dia sudah hampir sampai di kastil, papan yang ada di saku Zero bergetar hebat, "Ehh, buset! Aku kira apaan," kagetnya. Mengambil papan status yang ada di sakunya. Ia berhenti berlari. "Ternyata pesan naik level rupanya."
[profil pengguna]
nama: Reinhard Al.Moonlight
level: 16 (3,200 exp untuk naik level)
{ HP 1500/1500 }
{ SIHIR. 505/505 }
{ E. Iblis 15/15 }
keterampilan: absorb, Api neraka lv.1, mata merah niat membunuh lv.1, mata biru penilaian lv.1, mata hijau pelumpuh lv.1, pengubah bentuk lv.1, ilusi lv.1, sabit lv.1, (170 skill iblis lv 1) [tidak dapat di tingkatkan] penangkal keterampilan lv.1
(New)
__ADS_1
[dapat di tingkatkan]
Ketahanan: 39
Kecepatan: 54
Kekuatan: 48
Vitalitas: 295
Poin yang belum digunakan: 20
Setiap kali naik level, maka akan mendapatkan 20 point skill. Sebelumnya Zero memasukkan semua point skill-nya di kecepatan supaya dapat bertarung seimbang melawan groktar.
Sebelumnya! aku benar-benar kalah dalam kekuatan melawan orc itu. Untuk melukainya saja sangat sulit, tapi kali ini akan berbeda, karena aku akan memasukkan semua poin skill ku ini ke kekuatan untuk melawannya
Zero menekan papan status tersebut. Saat ini stat kekuatan Zero telah mencapai 68. Walaupun levelnya naik bukan berarti dia akan berhenti membunuh, Zero terus berlari dengan puluhan jarum terlempar setiap detiknya.
Setelah 10 menit berlari, Zero akhirnya sampai di kastil itu. Dia memandangi kastil tersebut dengan wajah biasa saja.
"Aku kira ... kastil ini bagus, ternyata itu hanya menarik dari jauh dari dekat sama sekali tidak menarik," ejek Zero.
Pintu gerbang terbuka. Zero menyipitkan matanya.
Setelah gerbang itu terbuka sepenuhnya, seekor ogre keluar membawa senjata khas mereka, palu yang terbuat dari kayu.
Zero sama sekali tidak menatap Ogre itu karena perhatiannya lebih tertuju ke Orc yang ada jauh di belakang Ogre itu. Ogre itu meraung.
"Diam!!!" teriak Zero dalam sekejap tubuh Ogre itu tercabik-cabik dan akhirnya mati.
Pandangan Zero masih tertuju pada Orc yang telah membuat luka tebasan yang ada di dadanya. Hanya wajah dingin yang Zero pasang di wajahnya.
...----------------...
"Tuan groktar, apa monster itu benar-benar akan segera datang?" tanya salah satu orc yang ada di sana.
"Tenang saja, Raja telah memperkirakan itu, jadi cukup percaya dan tunggu, lah. Namun, sepertinya kau ingin sekali melawannya, ya, Taro!" jawab Groktar.
"Bukankah itu sudah jelas! Ada monster yang setara denganmu, aku sebagai rivalmu bukankah itu membuatku bersemangat!"
__ADS_1
Rupanya Taro adalah rival sekaligus sahabat Groktar, mereka telah bersama dalam segala jenis marabahaya yang menimpa mereka. Sekali-kali mereka bertarung untuk menentukan siapa yang lebih kuat diantara mereka.
Gerbang terbuka mereka semua mulai gugup, kecuali Groktar dan Taro mereka kini terlihat bersemangat.
"Lepaskan Ogre!" teriak Groktar.
Setelah gerbang terbuka sepenuhnya, mereka semua kini melihat sosok anak kecil yang berpakaian serba hitam. Pandangan sosok itu hanya tertuju pada satu Orc dan itu adalah groktar bahkan saat Ogre itu meraung dan hendak menyerangnya, hanya dengan satu kata Ogre itu langsung tercabik-cabik.
Melihat itu Orc yang ada di belakang groktar menelan saliva, mereka seperti tikus yang akan segera diterkam kucing.
Tanpa ragu Groktar berteriak, "Semuanya! serang!!!"
Puluhan Orc yang dianggap terkuat dikumpulkan untuk melawan monster dari pintu terlarang, mereka semua maju bersamaan, sedangkan untuk Groktar dan Taro masih belum mulai maju.
Mereka takut jika mereka langsung ikut dalam peperangan ini banyak korban yang akan jatuh di pihak mereka akibat ulah mereka sendiri.
"Senjata monster itu berubah!" ucap Groktar terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Saat anak itu melawanku dia memakai pedang bermata satu yang sangat tajam dan berbahaya. Tapi sekarang dia menggunakan senjata yang melengkung menyerupai sabit."
"Ciuh." Monster itu meludah. Dia membantai puluhan Orc terkuat hanya dalam beberapa menit. Kini giliran Groktar dan Taro yang akan melawannya.
Monster itu maju menerjang kearah groktar. "Cepat!" Groktar terkejut.
"Apa yang kau lakukan Groktar?" Taro menahan serangan dari monster itu dengan sangat sulit. Monster menatap Taro.
"Hehe, akhirnya kau menatapku juga. Aku kira aku tidak layak dimatamu, tapi ternyata aku belum tertinggal dengan rivalku, ya," ucap Taro terkekeh.
Monster itu mengganti senjatanya menjadi sebuah tombak tanpa basa-basi langsung menusuk kearah kepala Taro dan dengan cepat Groktar menahannya. Setelah serangan monster itu ditahan, Taro menyerang dari atas menggunakan pedang besarnya. Monster itu menghindar lalu men-counter serangan yang dilancarkan Taro.
Dia kembali mencoba menusuk Taro, tapi kali ini sasarannya adalah perut, dada, sekaligus kepala Taro. Groktar menahan serangan yang mengarah ke dada, sedangkan Taro memblokir serangan yang mengarah ke kepalanya. Alhasil perut berlubang.
Melihat kesempatan ini Groktar langsung mengarahkan serangannya, dia berhasil menggores pipi monster itu. Monster itu mengelap pipinya yang tengah berdarah.
Apa-apaan monster ini! Semalam aku masih bisa seimbang melawannya, tapi sekarang aku seperti anak kecil yang tengah dipermainkan olehnya. Keadaan Taro juga sudah kritis ... sial!!
Monster itu kembali menyerang tapi kali ini Groktar tidak menghindar dia sengaja membiarkan dirinya tertusuk tombak, saat tombak itu bersarang di perutnya dia memeluk erat monster itu berbalik melihat anaknya lalu tersenyum.
__ADS_1
"Selamat tinggal."
Ledakan dahsyat pun terjadi dan mayat kedua orang itu menghilang sepenuhnya.