Prince Of The Seventh Hell

Prince Of The Seventh Hell
BAB 28 Berangkat ke ibukota kerajaan Moonlight


__ADS_3

Menjelang pagi, suasana di sekitar kastil Rein sangat ramai. Para penduduk sepertinya tahu kalau Rein akan berangkat ke ibukota, mereka sepertinya ingin mengantar kepergiaan pangeran ketiga, padahal Rein masih akan kembali ke wilayah itu dan sesuatu seperti ini jelas tidak perlu.


"Apa-apaan mereka ini! aku hanya akan pergi beberapa minggu tapi lihat mereka, seperti aku akan mati saja."


Kini Rein telah kembali ke tubuh aslinya. Dia bertukar tubuh dengan sistem pada saat pemanggilan di tempat Rein melatih anak muridnya.


"Bukankah itu bagus tuan! itu artinya mereka senang karena tuan-lah yang menjadi pemimpin mereka!." Ucap Isabel dengan semangat.


Sekedar mengingatkan Isabel adalah pelayan pribadi milik Rein yang bertugas untuk berada di samping Rein setiap saat.


Rein menatap Isabel. Rein sepertinya penasaran tentang pakaian yang digunakan Isabel saat ini.


"Ngomong-ngomong kenapa kau berpakaian seperti itu? bukankah musim dingin masih jauh! apa kau tidak kepanasan memakainya?," tanya Rein dengan wajah datar.


Isabel berfikir sejenak."tidak panas sama sekali ko!,"menggelengkan kepalanya"ayahku yang memintaku untuk memakai pakaian ini pada saat ke ibukota dia bilang kalau baju ini sudah dilapisi oleh sihir jadi aku tidak perlu khawatir."


Jadi begitu yah, kalau itu Rowen maka dia pasti sudah benar-benar melapisi baju itu dengan sihir. Jujur saja awalnya aku terkejut Rowen memintaku untuk menerima Isabel sebagai pelayan pribadi. aku ingin menolaknya, namun melihat statusnya membuat ku terkejut dia setidaknya setara dengan penguasa neraka lapisan pertama dan demi membuat dia berhutang padaku, aku menerima Isabel sebagai pelayan pribadi ku.


Rein kemudian berjalan keluar dari kastil menggunakan pakaian yang rapi diikuti 20 prajurit yang akan menjaga perjalanan pangeran Rein tetap aman. Di depan gerbang besi kereta kuda telah siap pergi.


Seorang pelayan maju dia adalah orang yang akan mengendarai kuda itu. Membungkuk lalu berkata.


"Kereta kuda telah siap tuan, para prajurit juga telah siap berangkat, sekarang kami tinggal menunggu perintah anda."


"Kalau begitu ayo pergi sekarang," ucap Rein dengan wajah datar.


"Baik tuan!," berdiri lalu pergi.


Rein melangkah naik ke kereta. suara seruan para penduduk terdengar jelas sampai ke telinga Rein, kereta mulai bergerak dan mereka mulai berangkat, suara penduduk terdengar bahkan setelah keluar dari perbatasan.

__ADS_1


Setiap malam mereka akan berhenti untuk beristirahat, selama itu juga, Rein selalu mencari monster untuk diburu. Itu membuat perjalanan mereka tidak pernah diserang oleh satupun monster karena Rein sudah mencari mereka, Namun Rein kemudian memikirkan sesuatu


Monster-monster yang ada di sini hanya level rendah, tapi bisakah para prajurit ini melawan mereka?


Senyuman menyeramkan muncul di bibir Rein, itu membuat Isabel merinding, dia tidak pernah melihat tuannya sekalipun tersenyum tapi hari ini dia tersenyum tanpa ada satupun angin lewat. Isabel ingin menanyakan apa yang lucu kepada tuannya, namun dia takut akan ditegur jadi dia menahan rasa ingin tahunya yang besar dan menahan diri untuk bertanya.


Aku ingin melihat cara bertarung orang-orang yang ada di dunia ini jadi bagaimana kalau aku menguji kemampuan mereka saja!


senyuman Rein semakin menjadi-jadi. Dia memutar badan dan melihat jauh ke depan kemudian menyipitkan mata.


Bagus! 5 kilometer dari sini ada sekumpulan bandit, ini akan cocok untuk melihat kemampuan mereka, tapi kenapa Isabel diam saja biasanya dia akan terus berbicara dan bertanya kepada ku, tapi ini sudah beberapa menit dan dia belum membuka mulutnya! ini jelas aneh


Melihat Keanehan itu Rein bertanya,


"Kenapa kau diam saja Bel?"


Mendengar perkataan tuannya Isabel buru-buru berkata"Itu karena tuan sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang menyenangkan sampai-sampai anda tersenyum jadi saya pikir untuk tidak menggangu anda"


"Jadi begitu yah, kamu tidak perlu khawatir aku hanya memikirkan sesuatu yang tidak perlu, jadi tidak apa-apa."


"baik tuan."


Rein mengangguk. Seketika kereta kuda itu mulai berisik kembali, di sepanjang jalan Rein hanya mendengar cerita dari Isabel dengan pandangan keluar jendela.


Haa .... Mungkin lebih baik jika dia diam saja


Pikir Rein. Setelah melewati sebuah desa dan hendak masuk kedalam hutan. Puluhan orang melompat turun dari pohon, mereka semua membawa pedang di pinggang. Seorang pria dengan tubuh kekar maju dan mengarahkan pedangnya ke salah satu prajurit Rein.


Baiklah mari kita lihat, sekuat apa orang-orang dunia ini!

__ADS_1


Jim orang yang memimpin para prajurit maju dan bertanya."Siapa kalian dan untuk tujuan apa kalian melakukan ini?"tanyanya


Mendengar perkataan Jim pemimpin bandit itu mencibir"Bukankah itu sudah jelas kami adalah bandit dan kalian adalah mangsanya! kenapa kau bertanya seperti orang bodoh padahal kau seorang kesatria!"tunjuk pemimpin bandit


Dia benar kenapa aku bertindak bodoh didepan yang mulia, siall aku harus memperbaiki kesalahan ku sekarang


"PFFT .... " Rein langsung menahan mulutnya agar tidak tertawa


Siapa yang menduga kalau pemimpin bandit ini lebih cerdas dibandingkan pemimpin prajurit Jim, ayolah Rein tahan ketawamu. Awokawok ha ha ha


Rein tertawa dengan keras dalam hati, baru kali ini dia melihat seseorang yang begitu bodoh. Jim dengan kesal menarik pedangnya dia berteriak"Semuanya bersiap untuk bertarung!"


Para prajurit mengeluarkan pedang mereka, para bandit juga melakukan hal yang sama, kedua pihak kini telah bersiap untuk bertarung masing-masing dari mereka menunggu perintah dari pemimpin mereka.


"Serang!" Seru pemimpin bandit


"Habisi mereka semua!" teriak ketua prajurit


Rein dengan serius mulai melihat pertarungan mereka dia berharap pertempuran besar akan terjadi, namun itu semua hanya angan-angan hanya memerlukan beberapa menit untuk melibas habis mereka. Rein melihat itu hanya bisa memperlihatkan wajah kecewa pada para bandit.


haa .... aku kira ini akan menyenangkan, ternyata sangat membosankan, hmm, tunggu bagaimana kalau mereka bertarung dengan monster? he he mulai sekarang aku akan men-agro monster itu untuk menyerang mereka


senyuman kembali muncul di bibir Rein, dan dalam 3 hari terakhir, mereka terus melawan monster yang terus berdatangan tanpa henti.


"tuan! kita telah sampai di perbatasan ibukota, dalam satu jam kita akan tiba di kastil utama kerajaan" ucap pelayan yang mengendarai kuda.


"baiklah," balas Rein dengan wajah dingin


karena perang besar akan terjadi kembali, aku juga akan ikut dalam pemilihan raja berikutnya, bagaimana pun caraku berjuang pasti akan ada batasnya. Sewaktu di neraka itu bukanlah perang, aku hanya menunggu para iblis lengah lalu membunuhnya. Tapi karena kali ini adalah perang maka akan membutuhkan pasukan untuk bisa bertahan

__ADS_1


__ADS_2