
Akhirnya aku menceritakan kepada ibu tentang hari ini. Mulai dari kejadian di kantin sampai kondisi ku.
Ibu terdiam. Dan itu membuat ku tak tau apa yang ibu pikirkan.
" Mulai besok ibu antar kamu ke sekolah. Dan ibu usahakan pulang juga ibu jemput. " ucap ibu dengan cepat.
Mataku berkedip. Mulutku sedikit ternganga.
" Bukannya Laura gamau. Tapi kan ibu masuk kerja nya jam 8 dan ibu pulangnya juga sore. Jadi ga mungkin bisa---. " kataku dipotong ibu dengan mengangkat tangannya tanda untuk berhenti.
" Kalau untuk ngantar kamu ga masalah. Ibu bisa sampe duluan di kantor dan kerjain tugas ibu. Untuk jemput kamu, kamu pulang jam 2 kan? " tanya ibu. Dan kubalas dengan anggukan.
" Ibu bisa pulang duluan dan minta dispensasi untuk ngerjain tugas ibu di rumah. Sampai ibu pastiin kalo kamu udah baik-baik aja. " jelas ibu tanpa meminta pendapat ku.
" Okeh pertama Laura minta maaf ke inu karna udah berusaha nutupin. Kedua, Laura gabisa liat ibu tiap malam begadang karna ngerjain tugas ibu karna pulang cepat hanya untuj ngejemput Laura. Biasanya aja ibu begadang sampe jam 2 pagi. Ditambah ini lagi, mau bawa smua tugas ibu kerumah. Laura gabisa liat ibu ga tidur setiap hari. " jawabku dengan nada meyakinkan.
Ibu menatapku dalam-dalam.
" Okeh, biar adil. Ibu bakalan terapin red code ini hanya untuk 3 hari. Kalau dalam waktu 3 hari kamu baik-baik aja ibu gabakal maksa untuk anter-jemput kamu. Tapi, kalau dalam waktu 3 hari kejadian seperti hari ini terulang(ibu berhenti sejenak dan menatapku tajam). Jangan salahin ibu kalau terapin red code sampai batas waktu yang tak ditentukan. " jawab ibu dengan penjelasan yang membuatku merinding.
Aku hanya terdiam. Ibu kembali bersuara.
" Tapi, sekarang kamu beneran gakpapa? Apa kita harus check up lagi. Bulan lalu kita ga sempet check up karna urus pindahan. " tanya khawatir ibu sambil memegang lembut tanganku.
Aku membalas senyuman ibu.
" Pertama, Laura ikutin perkataan ibu. Tapi kalau dalam waktu 3 hari Laura beneran gakpapa, ibu harus ngurangin begadang ibu. Dan terakhir, Laura udah gakpapa. Tadi juga udah sempet tidur, dan untuk check up lebih baik gausah. Laura sering konsultasi dan ikutin semua yang dokter saranin tapi hasilnya(aku terhenti dan sedikit menghela nafas) Laura gamau nambah pengeluaran ibu untuk Laura. Mungkin Laura kurang olahraga dan pola hidup yang mageran. Mulai sekarang Laura bakal sering olahraga. " jawabku dengan pelan dan terus mengelus tangan ibu agar berhenti khawatir.
Ibu tersenyum dan kamipun memilih melanjutkan makan.
Esok paginya. Ibu benar-benar ngelakuin apa yang dibilang tadi malam. Mobil sudah siap untuk berangkat. Dan aku masuk dengan patuh tanpa berusaha menolak.
" Nanti ibu jemput jam setengah 3 an ya, soalnya tadi baru di chat ada rapat mendadak untuk bahas tugas bulanan. Dan kamu, kalau mau baju kamu ga ibu sumbangin lebih baik kamu tunggu ibu jemput dan jangan pulang sendiri. Oke?. " ucap ibu dengan tegas dan buat ku bergidik ngeri.
Aku hanya mengangguk pelan tanda pasrah dan setuju.
Akhirnya sampai di gerbang sekolah.
" Laura berangkat dulu ya. " pamitku kepada ibu dan dibalas dengan elusan di kepala.
Aku turun dengan pasti dan melambaikan tangan ke arah mobil ibu. Setelah aku berjalan memasuki gerbang ibu baru beranjak pergi.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang datang dan menggandeng tangan kananku. Aku kaget.
" Selamat pagi Ra. Lo hari ini dianter?. " tanya penasaran Sisi sambil menggandeng.
" Ya ampun Si. Hobi banget ngagetin orang. Masih pagi ini Si. " protesku kesal dengan kehadiran Sisi. Tapi, tak sepenuhnya kesal karna kehadiran Sisi setidaknya mengurangi pandangan tajam dari orang di sekeliling ku.
" Sorry Ra. Tadi gue manggil lo tapi lo ga denger. " jawab Sisi dengan rasa bersalah.
Aku tersenyum jahil.
Mengacak poninya dan menjawab,
" Iya tadi gue dianter. Dan nanti dijemput juga, jadi untuk hari ini lo pulangnya bakalan single. Sendirian. " godaku dengan senyum jahil.
Sembari terus berjalan menuju kelas kami pun terus mengobrol. Sisi protes karna harus jalan sendirian pulang nanti. Tapi aku hanya bisa mengikuti ritme dari ibu. Aku tak mau semua bajuku disumbangkan ibu.
Ketika masuk kelas aku bertekad seakan tak terjadi apa-apa semalam. Aku tak mau menggubris pandangan orang. Lebih memilih untuk membiarkan apa yang mau mereka lakukan.
Tapi sejak masuk kelas aku heran dengan satu anak yang tumben datang sepagi ini.
Rendra. Tumben dia jam segini udah datang.
Tapi yang kulihat dsri wajahnya seakan ia memiliki tumpukan beban tapi tak terucapkan. Aku memalingkan wajah dan sedikit menampar pipiku untuk segera sadar.
udah enakan?
Kata yang tertulis di kertas itu. Ni anak kenapa lagi? Semalam bilangnya gamau nanya gue kenapa dan skarang nanya beginian. Ambigu banget.
Aku memilih tak membalas. Dan kuletakkan kertas itu di laci.
Tiba-tiba kertas kecil lainnya kembali datang.
pulpen lo abis ya, jadi gabisa bales.
Lanjutan dari kertas yang pertama. Aku melihat sinis dan dia hanya menatap lurus kedepan. Kugenggam erat dan kuletakkan kembali ke laci.
Kertas lain kembali mendarat mulus.
apa tangan lo juga udah lupa gimana cara nulis
Mataku terbelalak dan menghembuskan nafas berat pertanda kepalaku sudah mulai beruap. Kuletakkan lagi kertas itu ke laci dengan kepala tertunduk di meja.
__ADS_1
Kertas lain menyusul tanpa jeda. Aku yang merasakan kertas di tanganku mulai mengangkat kepala dengan perlahan dan dengan tatapan kesal bukan main.
stok kertas gue banyak, gue bakal trus nulis sampe laci lo penuh dan akhirnya lo bales.
Sumpah, kesel setengah mati. Aku memilih untuk tak meledak sekarang, karna kondisinya masih belum kembali normal.
Kubalas dibalik kertas nya.
gpp
Tulisku singkat dan kulemparkan dengan cepat ke mejanya.
Diapun mengambil kertas itu dan membaca dengan senyuman di akhir.
Kertas lain datang. Aku sudah bersabar dan berusaha tak meledak.
satu kata dari lo ngebuat gue tenang.
Kata yang tertulis di kertas itu dan membuat aku sedikit heran bercampur bingung. Kulihat lagi kearahnya dan kudapati ia tersenyum singkat lalu mengambil buku di dalam tas nya.
Kenapa dia senyum? Senyumnya aneh.
Kertas itupun kuletak kembali ke laci dan mencoba untuk bersikap biasa. Akhirnya guru datang dan pelajaran pertama dimulai.
Jam istirahat pun datang. Aku memilih tak keluar dan hanya duduk di dalam kelas.
" Ra, lo yakin ga keluar. Kalau ga biar gue beliin makanan di kantin ya, lo mau apa? " tanya Sisi dari bangkunya.
" Gue lagi ga pengen apa-apa, lagian gue bawa roti. Kalo lo mau ke kantin yaudah gih. Ntar keburu bel masuk lo, makan lo kan lama. " jawabku ke Sisi sambil mengerjakan tugas di pelajaran sebelumnya.
Sisi menghela nafas. Dan buatku menatap nya lurus.
" Ke-kenapa? " tanyaku gagu.
" Gue udah gila semalam mau hubungin lo dan nanya kondisi lo. Tapi, pas lo bilang bakal ngasi tau saat waktunya tepat gue milih ga nelfon. Gue ngehargain privasi lo,Ra. Gue bakal nunggu saat lo bener-bener udah biss sharing ke gue. " ucap Sisi dengan senyum hangat di wajahnya.
Aku terharu mendapatkan teman seperti Sisi di sini. Baru dia yang bisa buat gue nyaman berteman.
Aku membalas senyum nya dan sedikit menganggukkan kepala.
" Yaudah kalsu gitu gue ke kantin dulu. Gue bakal beli roti buat lo. Biar roti lo ga sendirian. " jawabnya dengan nada mengejek dan langsung berlalu pergi.
__ADS_1
Aku tersenyum lihat tingkahnya. Dia ngebales perkataan ku tadi pagi.