
Karena ketidaktahuan Rendra perihal 'jadwal bulanan' bagi para perempuan, akhirnya Rendra pun tetap dalam posisi diamnya yang elegan.
Tiba-tiba suara yang lain ikut menyambung.
" Udahan ghibahnya? Atau mau dilanjut lagi nih. " ucap memelas Agus yang sedari tadi berdiri menunggu Rendra yang tak beranjak keluar juga.
Aku, Sisi dan Rendra spontan langsung melihat ke arah Agus yang memang berdiri menyandar di pintu kelas.
Rendra mengedipkan cepat kedua matanya yang baru menyadari kehadiran Agus di kelasnya.
Dengan secepat kilat Rendra menghampiri Agus sembari berkata, " Hayuuk. " ucapnya singkat sambil mengayunkan tangannya untuk segera pergi.
Agus yang terdiam sesaat lalu kembali melihat ke dalam kelas, " Loh, Naufal mana bruur. " tanya Agus sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Naufal yang tak kunjung terlihat juga.
Mendapati Rendra yang tak menjawabnya, akhirnya Agus melihat ke arah samping nya sambil mencari dimana Rendra saat itu. Dan, ternyata Rendra sudah berjalan lurus ke depan dan meningalkan Agus tanpa dosa.
Agus hanya pasrah sembari sedikit bergumam, " Udah Setia nungguin, eh malah ditinggalin. Bravoo. " ucapnya pasrah sembari bertepuk tangan dengan wajah ala kadarnya.
Aku dan Sisi pun hanya melihat kelakuan mereka yang terbilang rada nyeleneh.
Sisi pun kembali melihat ke arahku sembari mengambil kursi yang ada di sebelah nya, " Lo ga minum obat pereda nyeri atau apa gitu, Ra. " tanya Sisi sambil melipat kedua tangannya di meja ku.
Aku menggeleng perlahan, " Kalau masih bisa ditahan mending ditahan aja Si. Lagian ga Bagus jiga keseringan minum obat. Palingan sehari dua hari udah mendingan kok. " jawab ku sambil mengelus perlahan perutku agar tak terlalu rewel.
Sisi pun mengangguk perlahan. " Eh kalau gitu gue keluar bentar ya, udah ga tahan mau setoran nih. " sambil cengengesan ia pun beranjak keluar kelas. Tak lupa ia mengembalikan kursi yang telah ia geser.
Aku pun tersenyum melihat kelakuan Sisi.
Lalu aku mengambil buku Sejarah untuk sekedar membaca. Setiap ujian berlangsung aku tak belajar untuk sekedar mengulang nya. Cukup belajar penuh di hari sebelumnya.
Namun, aku hanya ingin mengalihkan rasa sakit ini untuk sementara waktu.
*****
Rendra dkk pun mengambil tempat duduk untuk memesan makanan mereka. Tempat duduk mereka sedikit berbeda daripada murid lainnya. Mereka punya tempat duduk tersendiri di kantin. Lebih tepatnya, ruangan tersendiri terkhusus untuk mereka.
Rendra yang bergabung dengan Jon, Rifan dan Jody pun mengambil sebotol minuman dingin untuk segera meminumnya.
Jon melihat di arah belakang Rendra, dan ia tak menemukan Agus disitu.
" Woy, Ren. Agus mana?. " tanya Jon sambil memakan keripik kentang favorit nya.
Rendra yang masih minum pun tak bergeming atas pertanyaan Jon.
" Dia keasikan ghibah sama para ciwi-ciwi. " sambung Agus yang tiba-tiba sudah berada disitu.
Mendengar itu Rendra pun tersedak dan menumpahkan air minumnya ke arah Jon, Rifan dan Jody yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri.
Seketika mereka yang terkena semburan maut Rendra pun langsung bergegas berdiri.
" Apaan ni woyy. Gue udah mandi. " keluh Rifan sambil mengangkat handphone nya.
Begitupun Jody, " Yaelah, gak usah pake tenaga dalem juga nyemburnya cuuy. " keluh Jody yang membersihkan wajah nya.
Jon hanya pasrah terkena semburan Rendra yang tepat di samping nya.
__ADS_1
Agus memancarkan wajah curiga yang teramat dalam pada Rendra.
" Sorry. Sorry, gue khilaf. " bela Rendra sembari membersihkan air yang masih berada di wajah Jon.
Agus pun melipat kedua tangannya.
" Kayaknya lo rada aneh hari ini Ren. " telaah Agus sambil melihat Rendra dengan sepenuh hati.
Jody, Rifan dan Jon pun langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Rendra sepenuhnya.
Rendra yang mulai panik meletakkan dengan keras botol minuman nya ke atas meja.
Membuat mereka spontan kaget dengan tindakan tiba-tiba Rendra.
Jon yang masih dalam wajah pasrah pun memegang dada sebelah kiri untuk memastikan jantungnya masih berdetak.
" A-aneh apaan sih. Gue biasa aja. " jawab Rendra yang membela diri.
Agus yang masih dalam mode detektif nya pun terus menelaah Rendra.
Rendra yang melihat gelagat aneh Agus oun langsung melotot ke arah Agus saat itu.
Dengan sigap Agus pun menurunkan kedua tangannya.
" Tadi gue liat lo akrab banget sama Laura and temennya. Ghibahin apa hayoo. " ucap Agus dengan nada mengejek.
Rendra yang memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya pun kembali bersuara. " Eh, gue tuh ga tukang ghibah kayak lo ya. Gue tuh tadiii.... tadiii. " memutarkan tangan kirinya di udara untuk mencari pencerahan agar bisa menjawab pertanyaan Agus.
Tiba-tiba handphone Jody pun berdering ditengah perdebatan sengit antara Rendra dan Agus.
Radith CEO
" Halo, selamat pagi CEO Radith. Ada yang bisa saya bantu" jawab Jody dengan santainya.
Rendra yang mendengar nama Radith disebut pun mengalihkan pandangannya ke arah Jody.
Jody yabg mendengar kan dengan seksama pun hanya melihat Rendra dengan sekilas lalu langsung mengiyakan nya.
Seketika panggilan itu pun berakhir.
" Ada apa. " tanya serius Rendra.
Jody pun menyimpan kembali handphone nya ke dalam saku jas nya.
" Kak Radith ngajak kita dinner bareng. Katanya udah lama ga ketemu. " jelas Jody sembari membuka jajanan yang ada di depan matanya.
Rendra tak merespon. Ia hanya melihat ke sembarang arah sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Rifan yang menyadari sesuatu pun melihat sekeliling. Jon yang melihat Rifan pun melihatnya kebingungan.
" Woy, Fan. Lo ngeliatin apaan, nyari cewek cantik lo ya. " tanya iseng Jon.
" Bukan, kalo itu nanti. Ehh, maksud gue tuh daritadi ga ngeliat Naufal. Gue kira bareng Agus sama Rendra. Ini malah gaada. " jelas Rifan yang masih sibuk mencari keberadaan Naufal di kantin.
Jon, Jody dan Agus pun juga menyadari ke tidak ada an Naufal disini. Dan ikut melihat sekeliling.
__ADS_1
Sedangkan Rendra yang masih melihat ke sisi lain ruangan tak mendengar kan apa yang mereka bahas barusan.
*****
Aku yang masih merasakan nyeri di perut akibat hari pertama ini masih menyiksaku.
" Duuh, kok makin sakit ya. Masa iya sih gue harus minum obat segala. " keluhku yang masih memegang perut.
Tiba-tiba sebotol minuman mendarat di mejaku dengan pelan.
Kulihat minuman itu sekilas, dan itu adalah minuman pereda nyeri untuk datang bulan.
Pasti Sisi. Pikirku.
" Tengkyuu Si---. " ucapan ku terhenti.
Kulihat tak ada kehadiran Sisi di kelas. Dan semua anak-anak berada di luar. Hanya ada satu orang yang ada di kelas ini selain aku.
Naufal.
jangan bilang dia yang ngasih gue minuman ini. beneran? Pikiranku yang berkecamuk.
Kulihat Naufal tanpa berkedip.
Tiba-tiba ia memandang ku. Akupun sedikit terkejut atas tindakan tiba-tiba nya itu.
" Gue salah beli. " ucap Naufal enteng.
Aku tetap tak berhenti memandang ke arahnya.
Naufal yang tak fokus karena pandangan ku yang tak berpaling pun mulai gelisah.
Segera ia tutup bukunya saat itu.
" Kenapa lagi. " tanyanya kesal.
" Lo salah beli? Ini?. " tanyaku heran sambil memegang botol minuman yang ia berikan.
" Iya. Ga bisa dibalikin. " jelasnya sambil melipat kedua tangan.
Aku melihat sekilas ke arah botol minuman itu.
" Ga mungkin gue yang minum kan. Temen gue juga cowok semua, mending buat lo daripada dibuang. " ucapnya tegas sambil membuka kembali bukunya.
Aku yang mendengar penjelasan nya pun berpikir keras untuk berterima kasih atau sebaliknya.
apa? daripada dibuang mending buat gue? niat ngasih ga sih ni anak. Pikirku kesal sambil menatapnya sinis.
Tapi, nyeri di perut ini tak kunjung reda. Dan sementara lagi bel masuk, tak sempat untukku beli lagi di kantin.
Tanpa pikir panjang akupun langsung membuka tutup botol nya dan segera meminumnya sampai habis.
Naufal melirik ke arahku sambil tetap memegang bukunya.
Dia memancarkan senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
" Akhirnya diminum juga. " ucapnya pelan.
Masih melihat ke arahku yang masih menghabiskan minuman sampai tetes terakhir.