
Setelah pulang sekolah tiba-tiba ibu mengabari kalau udah ada di depan sekolah. Aku langsung buru-buru ke luar dan benar, ibu sudah ada disana.
" Bu, kok jemput Laura?. " tanyaku sambil membenarkan posisi tas yang sedikit miring.
" Iya, ibu mau ngajak kamu ke kantor. Ibu gabisa biarin kamu sendirian di rumah lagi, lagian juga ga lama kok. Sebelum makan malam kita udah balik. " jelas ibu sambil membenarkan jasnya.
" Tumben ibu ngajak ke kantor?. " tanyaku bingung.
" Apa kamu mau ibu titipin ke Rendra lagi?. " goda ibu sambil menunjukkan senyum khasnya.
Aku menaikkan sebelah alisku dan berkata, " Emangnya Laura apaan pake dititipin segala. " jawabku sambil melihat kearah lain.
Membayangkan nya aja udah bikin merinding. Cukup sekali seumur hidup deh. Gak lagi lagi.
" Yaudah yuk, makan siangnya di kantor ibu aja ya. " ajak ibu sambil berjalan masuk ke mobil.
Aku pun mengikuti untuk masuk ke dalam mobil juga. Sesampainya di kantor ibu aku terkagum karna interior kantor nya yang nyaman dan kekinian banget. Pantesan ibu semakin kekinian juga. Sambil ngelirik ke ibu yang berjalan di samping.
Selama diperjalanan menuju ruangan ibu, semua karyawan saling menyapa satu sama lain dan sudah saling kenal. Begitupun dengan ibu, selalu menyapa teman-teman nya yang ia jumpai.
" Ti, berkas yang udah kita revisi udah ada di meja lo ya. Tinggal lo analisa lagi sebelum di kasih ke dirut. " ucap salah satu teman kantor ibu yang mendatangi ibu dan memberhentikan ibu sejenak.
Aku hanya bisa diam. Ti? Sambil melirik ke ibu.
" Okeey. Oiya, untuk rapat ntar kayaknya dirut gabakal hadir. Katanya sih ada keperluan lain, paling ntar revisiannya gue kirim lewat e-mail aja. " jawab ibu.
Temannya mengangguk dan melihat keberadaan ku disebelah ibu. Lalu melirik penasaran.
" Ehh, btw ini siapa ni?." tanya nya penasaran.
Aku memberi senyuman perkenalan.
" Kenalin, ini anak gue namanya Laura. Gue culik dia kemari soalnya dia gamau dititipin ke seseorang. " jawab ibu sambil sedikit menggoda ku kala itu.
Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban ibu untuk memperkenalkan ku ke temannya.
" Wuaah, sejak kerja disini baru ini gue liat lo bawa anak lo. Cantik banget. Oh iyaa, tante ada anak seumuran kamu siapa tau bisa kenalan yaa. " goda sang teman ibu sambil terkekeh.
Ibu terkekeh dan aku hanya bisa senyum ala kadarnya.
" Seumuran dari mana, anak lo aja baru masuk teka. Palingan jadi adek nya anak gue. " jawab ibu sambil merangkulku.
" Ayo ra, kenalan sama temen ibu. Dia ga gigit kok. " pinta ibu.
" Salam kenal tante. " jawabku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan teman ibu.
Teman ibu menyambut ramah. " Eh, kenapa kita nge gosip disini. Lo kan harus buru-buru. " teman ibu yang mengingat kan.
Ibu langsung menyadari dan cepat melihat jam nya.
" Ya ampun, lo si pake berhentiin gue gini. Jiwa nge ghibah gue ka jadi muncul. Yaudah, gue duluan. Baayy. " jawab ibu sambil menarikku untuk berjalan cepat.
__ADS_1
Aku hanya memberikan senyum singkat ke teman ibu sebelum pergi berlalu.
Sampai di ruangan ibu, walaupun ruangan ibu ga besar tapi ibu dapat ruangan sendiri karna sudah naik jabatan sejak beberapa bulan lalu. Sejujurnya aku gatau pasti ibu kerja dibagian apa. Karna nama-nama kerjaan di kantor beraneka ragam, jadi aku yang mengucapkan nya pun juga pusing.
Yang penting ibu senang dalam menjalani kerjaan nya dan bisa mencukupi kebutuhan kami berdua. Itu sudah cukup. Menurutku.
Tiba-tiba handphone ku pun berdering, aku bergegas mengambilnya. Dan mendapati Sisi yang menelepon. Kulihat ibu yang tengah sibuk mengerjakan laporan di mejanya, akupun memilih untuk tak mengganggu ibu.
Kuambil kertas memo dan menuliskan
bu, laura keluar sebentar ya. jalan-jalan di kantor ibu tulisku.
Setelah itu kutempel di tempat yang mudah dilihat ibu dan akupun keluar dengan pelan. Kuangkat panggilan dari Sisi.
"Halo. " ucapku pertama.
" Ya ampun raaaa, lama amat udah mau deringan trakhir baru lo angkat. " teriak Sisi sambil mengomel.
Dengan spontan aku menjauhkan handphone ku saat Sisi berteriak dengan omelannya.
" Sorry ini gue lagi di kantor nyokap. Jadi gue keluar dulu baru bisa angkat telfon nya. Gausah teriak juga kali neng, kuping gue gaada tanda-tanda budeg. " ocehku sambil berjalan kearah luar kantor ibu. Dan kudapati taman kecil di luar kantor ibu. Kantor yang menyenangkan, tamannya juga simpel tapi tetap kekinian.
Aku duduk di salah satu bangku tamannya.
" Iya dehh. Oiyaa, lo lagi di kantor nyokap lo. Kantornya dimana? Siapa tau deket dari rumah gue. " tanya penasaran Sisi.
Aku melihat kesana kemari dan jujur ini juga tempat asing bagiku. Baru pertama kali kesini dan gatau alamatnya.
" Ya gue juga baru sekali kesini jadi gatau alamat nya dimana. Paling gue bisa share loc ke lo sih. Ehh lo mau kesini? Ngapain?. " jawabku heran.
" Gue bosen dirumah. Lagian rumah untuk gue tuh gada artinya. Kalo dari pagi ke pagi lagi gaada kehidupan didalamnya. " jawab berat Sisi.
Aku membenarkan posisi dudukku, baru ini Sisi ngomong serius.
" Si, lo kenapa?. " tanyaku lagi dengan nada lebih serius.
" Ntar ajadeh gue crita ke lo ra. Yang penting skarang lo share loc ke gue ya, biar gue otw. "jawab Sisi yang terdengar bergegas bangkit dan bersiap untuk pergi.
Setelah mematikan panggilan nya akupun mengirimkan lokasi ku pada Sisi. 10 menit kemudian Sisi kembali menelepon dan berkata dia udah ada di depan kantor. Aku bergegas ke luar kantor dan mendapati Sisi berdiri di pintu masuk kantor.
" Si. " teriakku memanggilnya.
Sisi berbalik dan berlari kecil menghampiri ku.
" Ra, ini kantor nyokap lo?. " tanya Sisi sambil melirik kesana kemari.
" Bukan kantor ibu gue, tapi ibu gue kerja disini. " jawabku sambil merangkul Sisi.
Kamipun berjalan masuk, tapi kami dihalangi petugas disitu.
" Maaf dek, kamu ada keperluan apa disini?. " tanya petugas itu.
__ADS_1
Kamipun berhenti sejenak. Aku bingung mau jawab apa. Aku lupa, kalo ini kantor, pasti ada sistem nya tersendiri untuk kedatangan orang luar selain para pegawai nya.
" Maaf pak, saya anak dari salah satu pegawai disini. Namanya bu Mirnawati, dan ini temen saya. " jawabku sambil merangkul Sisi.
Petugas dengan wajah sangar itupun melihat kami berdua.
" Kamu gabisa ngaku sebagai anak pegawai disini, kalo semua orang ngaku anak pegawai disini semua orang luar bisa masuk dengan seenaknya. " ucap tegas petugas itu dengan badan tegapnya.
Sisi memundurkan badannya ke belakangku. Aku hanya melihat nya sekilas.
" O-oke, gini aja. Saya telfon ibu saya untuk keluar dan jemput saya ya biar bapak percaya. " saranku sambil mengeluarkan handphone dari dalam jas.
Petugas itu tak memberikan reaksi apapun. Aku menelepon ibu tapi tak dijawab ibu. Aku telepon lagi dan tetap tak diangkat ibu. Handphone ibu sering dibuat tak ada nada panggil dan hanya di mode getar saja. Karna itu mengganggu kalau ada di kantor. Setelah berkali-kali menelepon dan tak ada jawaban akupun mematikan panggilan ku ke ibu.
Petugas itu hanya menatap tegas kearah kami.
Aku melirik sekilas. " Ga diangkat ibu saya pak. Tapi benar kok pak, ibu saya tuh kerja disini. Saya ga bohong. " sambil mengangkat jari tanda kalau ini benar adanya.
" Kalau tanpa tanda pengenal dilarang masuk kesini apapun alasannya. Kecuali rekan bisnis tidak boleh masuk. " jawab tegas nya.
Seseorang pun berhenti berjalan setelah melihat siswa yang memakai seragam sekolah seperti milik adiknya. Dia pun melihat keadaan dimana mereka dilarang masuk oleh petugas disana.
Dia pun melangkah maju menuju kearah mereka. " Ada apa ini. " tanyanya tiba-tiba.
Mengagetkan mereka kala itu.
Aku sontak kaget mendengar suara dari arah belakang kami dan kudapati seseorang yang menggunakan setelan jas rapi menghampiri kami.
Petugas itu langsung turun dan menghampiri orang tersebut dengan sopannya.
" Direktur. Maaf pak, ini ada anak sekolahan yang mau masuk ke kantor. Dan ngaku kalau ibunya salah satu pegawai disini. " jawab sopan petugas itu.
Tadi sama gue ga sesopan itu deh.
Dia pun melihat kearah kami dan kembali bersuara.
" Mereka teman adik saya, jadi biarkan mereka masuk. " jawab santai nya.
Aku menatap bingung dan diikuti Sisi yang menatapku juga.
Petugas itupun kebingungan.
Lalu dia menghampiri kami, " Benar kalau ibu kamu kerja di kantor ini?. " tanyanya sambil berdiri di depan kami.
Akupun mulai menjawab, " Benar pak. Ibu saya kerja disini walau saya gatau kerja di bagian apa. Nama ibu saya Mirnawati. " jawabku untuk meyakinkan kembali.
" Mirnawati? Dia memang salah satu pegawai disini." jawab nya mengiyakan.
Lalu mengarahkan pandangannya kearah petugas tadi.
" Lain kali kalau untuk memastikan datangi receptionist dan minta untuk hubungi orang yang bersangkutan. Jadi bisa lebih jelas, kalau mereka ini bohong atau tidak. " ucapnya tegas kearah petugas tersebut.
__ADS_1
Petugas itupun menganggukkan kepalanya dan meminta maaf.
Akhirnya kamipun diizinkan masuk karna pertolongan Direktur ini. Aku masih belum tau siapa nama nya. Tapi dengan bantuannya kami bisa terlepas dari interogasi sang petugas.