
Setelah sekian banyak melodrama yang terjadi, akhirnya hari ini akan berlalu. Cucian pun juga akan berakhir. Pembagian tugas antara aku dan dia. Dia? Apa aku bilang dia? Astaga, pikiranku juga sudah mulai kacau pemirsa.. (raut wajah berpikir namun tak mengeluarkan satu katapun).
Rendra yang melihat pun sedikit memiringkan wajahnya agar dapat melihat sepenuhnya kearahku. Aku masih belum tersadar sepenuhnya akan lamunanku sembari memegang gelas yang masih kujunjung tinggi.
(tatapan intens penuh kebingungan)
Aku menyadari ada aura aneh disekitar ku (pikirku).
Setelah ku palingkan wajahku ke arah nya, kudapati wajahnya hanya beberapa centimeter jaraknya denganku. Aku sedikit memundurkan wajahku agar tak terlampau melebihi batas antara aku dengan nya.
" Lo mikirin apaan? Mikirin undang-undang? Serius amat, " tanya heran Rendra dengan tangan yang sudah bersih.
Aku berkedip secepat kilat dengan situasi saat ini.
" Ha??, " ucapku bingung layaknya orang yang baru saja terkena hipnotis.
Tak lama kemudian Ibu berjalan ke arah dapur untuk meletakkan sisa cemilan yang tertinggal di mobil.
Setelah melihat pemandangan antara aku dan Rendra. Dengan gerakan slow-motion nya ibu meletakkan cemian tanpa terdengar suara sedikitpun. Dengan senyuman yang mengembang layaknya diberi baking powder, ibu pun berjalan perlahan meninggalkan area dapur sembari bergumam, " jangan kasih kendor Rendra. " sembari terkekeh perlahan agar tak terdengar.
Setelah mengatur posisi ku dengan berdiri sempurna akupun mulai tersadar. " Enggak, lagi mikirin pr yang belum dikerjain. Lo dah selesai blom, gue udah mau siap-siap ngerjain tugas ni. " celotehku yang tetap memegang gelas di tangan kanan.
Rendra pun menegakkan badannya dan dengan perlahan mengambil gelas yang masih kupegang.
Akupun terkaget karna gerakan tiba-tiba anak ini.
Sembari mengambil gelas dari tanganku, dia pun bersuara, " Besok gaada pr. Karena besok tuh hari minggu, " ucapnya setelah meletakkan gelas di tempat asalnya.
Akupun terdiam terpaku. Tak mengerti apa yang terjadi padaku hari ini. Setelah ucapan tadi sore. Aku menyalahkan diriku yang terlalu melewati batas diantara kami.
Rendra pun menyandarkan badannya di wastafel sambil melipat kedua tangannya.
Aku mulai bersuara kembali.
" Ya... em... eemmm.. Gue ada tugas yang belom dikerjain, jadi ya mau di selesain malam ini, " ucapku sedikit berbelit.
Rendra tersenyum tipis. " Tunggu dulu (ucap ku cepat), kenapa harus gue jelasin apa yang mau gue lakuin ke lo. Emang lo sape, ibu aja ga pernah kepo. kenapa lo yang kepo, " belaku tegas.
__ADS_1
Rendra mengambil sikap berdiri sempurna namun tetap melipat kedua tangannya. " Pertama, gue ga ada nanya apa yang bakalan lo lakuin setelah ini. Kedua, lo ga perlu buat alasan kalau mau bohong. Terakhir, gue gaada alasan buat kepo, " ucapnya dengan nada santai namun menyayat hati.
Akupun sedikit cemberut dengan ucapannya. Emang benar adanya, dia gaada ngomong apapun dan nanya apapun. Dasar aku.
Rendra yang melihat wajah cemberut ku lun tersenyum gemas. Namun, raut wajahnya kembali serius kembali.
akhir nya aku mulai memasuki kehidupan mu. semoga langkah berikutnya aku bisa bertambah dekat denganmu.
*******
Setelah berpamitan dengan ibu Rendra pun berjalan ke arah mobil. Tapi, langkah nya terhenti karena panggilan ibu.
"Rendraa, tunggu sebentar.. " berjalan perlahan kearah nya.
Rendra berhenti sambil memegang pintu mobil yang setengah terbuka. Aku hanya memantau dari teras
" Ini, untuk cemilan malam (sambil menyodorkan tupperware berisi udang sambal tadi) kamu kan suka banget udang sambalnya, jadi tante sisihkan sedikit untuk kamu." tangan ibu yang menyodorkan tupperware ke arah Rendra yang hanya diam tak berkutik.
***-***
Ibu Laura terkejut akan respon yang kuberikan. " Makasi tante, makasi, makasi, " hanya itu kata yang bisa kuucapkan saat itu.
Terimakasih
***-***
Apa-apaan ni? Main meluk aja. Ow, jangan-jangan Rendra mulai kesemsem sama ibu ni.
Akupun berjalan cepat untuk memisahkan pelukan antara mereka berdua. Tangan ibu yang menyambut pelukan Rendra dan pelukan Rendra yang makin dalam menandakan kenyamanan diantara nya.
" Apa-apaan sih main peluk-pelukan. Emang ada yang tereliminasi apa, jadi melow banget. Emang lo ga pernah liat tupperware ya, terharu banget. "ucapku sambil memegang erat ibu, tak mau ibu direbut olehnya.
Rendra sedikit memundurkan badannya. Ibu pun memukul tanganku pelan. "Hussh, apaan sii. Ini tuh pelukan antara ibu dan anak. "singkat ibu.
Mataku melotot dengan jawaban ibu.
" Ehh, bukan anak deng " sambung ibu. Akupun tersenyum mendengar ucapan ibu. Rendra hanya terdiam tak berkutik.
__ADS_1
" Yang bener itu, calon menantu. Kejauhan ya kayaknya, calon pacar anak ibu tersayang. " ralatan ucapan ibu yang makin membuat mataku menjadi lebih besar dari sebelumnya.
Rendra tersenyum tipis namun senyuman nya menandakan dia senang atas apa yang ia dengar.
" Makasi tante atas oleh-oleh nya, nanti tupperware nya saya titipin ke Laura ya tan, " jawab Rendra sembari menyambut uluran tangan ibu yang masih memegang tupperware nya.
Ibu membalas senyuman hangat Rendra sambil sesekali menoleh ke arahku.
" Kalau gitu saya pulang dulu ya tan, nanti lain waktu saya mampir lagi ke rumah tante. " balas Rendra yang masih memancarkan senyumnya.
" Haa,mau kesini lagi? ini tuh bukan mall yang bisa lo datengin tiap saat. " protes ku padanya.
Ibu sedikit mencubit tanganku menghasilkan teriakan singkat karna sakit yang berbekas.
" Ibu malah seneng kalau nak Rendra sering dateng kesini. Yang penting kalau kamu mau dateng, pastikan ibu ada dirumah ya. Jangan cuma berdua sama Laura, ntar tiba-tiba digrebek sama pak RT kan ga enak. Kalian mau kayak di film film, abis di grebek langsung dinikahin saat itu juga. Kan ga enak juga ya. Perjalanan kalian masih jauh, kalian ma--. "belum selesai menyelesaikan ucapannya.
Akupun memotong perkataan ibu, sebelum makin mengarah tak tentu arah.
" Wooaa, ibu. Ini udah malem, ntar bahaya kalo Rendra nyampe rumah kemaleman. Jadi alangkah baiknya, kalau nak Rendra segera berangkat pulang ya bu. " sahutku sambil menekankan kata pulang ke arah Rendra.
" Iya tante, udah malem juga. Kalau gitu saya pulang ya tan. Ntar saya dateng lagi kesini kalau ada tante juga di rumah. " ucap Rendra sambil melihat kembali ke arahku.
Ibu tersenyum melihat interaksi kecil antara aku dan Rendra.
" Yaudah, kalau gitu kamu hati-hati di jalan ya, jangan ngebut. Ntar polisi tidurnya bangun lagi karna kamu ngebut. " humor receh ibuku.
Rendra tertawa ringan mendengar humor ibu. Aku hanya memalingkan wajah.
Setelah memasuki mobil, Rendra pun membuka kaca mobilnya untuk melambaikan tangan kearahku dan ibu menandakan dia akan benar-benar pulang.
Ibu membalas lambaian tangan nya. Namun tidak denganku, aku memilih melihat ke arah lain dan tak menghiraukan nya.
Rendra tersenyum singkat melihat respon ku kala itu. Lalu ia benar-benar menancap gas tanda ia akan pergi.
Akhirnya malam yang gaduh ini akan berakhir.
Aku menghembuskan nafas lega.
__ADS_1