
Setelah bergelut dengan kejadian yang diluar dugaan akhirnya kami pun pergi dengan tujuan melepaskan penat setelah ujian selesai.
Sisi yang tengah sibuk membenarkan letak tas ranselnya pun bertanya,” Ra, gue penasaran gimana lo minta ijin ke nyokap.” Belum selesai menyelesaikan permasalahan dengan barang bawaanya. “Lo pake mantra apa sampe dikasih ijin,” ucap Sisi yang akhirnya selesai dengan keriwehannya.
“Dia bareng gue,” ucap santai seseorang yang baru saja sampai dengan santainya.
Mata Sisi secara otomatis terbelalak atas siapa yang baru saja bicara menjawab pertanyannya. RENDRA?
Aku yang hendak menjawab pun memasang wajah datar layaknya jalan tol. “Ntar gue jelasin,” ucapku sambil menarik tangan Sisi untuk segera pergi.
Dari kendaraan pun di akomodasi dan ditanggung oleh Bima yang mensponsori perjalanan kali ini. Tak disangka Naufal pun benar-benar hadir hari ini begitu juga Rizky yang sudah semangat sejak sejam yang lalu. Dikarenakan ada Sisi hari ini.
“Oke, kita udah bisa masuk mobil ya.” ucap Bima yang mengingatkan kami untuk segera masuk mobil dan akan segera berangkat.
Bima pun melirik ku sekilas. Rendra yang melihat pun memasang tatapan tajam bak silet.
Akhirnya kami benar-benar berangkat hari ini. Aku yang sudah tak tahan dengan gangguan Sisi yang sangat ingin tahu tentang alasan ibu memberiku ijin untuk ikut pergi hari ini.
“Oke. Oke. Oke, gue ceritain. So, stop liatin gue dong. Ga pegel apa mata lo melotot gitu dari tadi,” keluhku atas tatapan meresahkan Sisi sejak berangkat 10 menit yang lalu.
Sisi pun membenarkan letak kacamatanya dan menyeka matanya yang sudah berair bak sungai yang sedang meluap karena sejak tadi menatapku tanpa henti.
Aku pun membenarkan posisi dudukku dan melihat ke belakang dimana Rendra duduk yang sedang menatap ke luar jendela mobil.
Aman.
__ADS_1
*****
Satu malam sebelum keberangkatan yang dadakan itu. Aku mondar mandir di kamar apakah ikut atau tidak.
“Kalau gue ga ikut ga mungkin Sisi sendirian, dia udah semangat 45 gitu. Tapi bilang ke ibu gimana coba,” kugigit jari jempol ku tanda bingung harus seperti apa.
Sontak aku pun terkaget karena deringan telepon yang tiba-tiba.
Dengan segera akupun mencari keberadaan handphone yang tersembunyi entah dimana.
Setelah membongkar tumpukan bantal akhirnya ketemu sumber suara panggilan.
BOSS BESAR nama yang tertera di panggilan itu. Mata ku pun melotot layaknya ikatan batin itu memang benar adanya.
“Halo bu,” sahutku gagu.
“Kamu besok mau pergi liburan ya?,” ucap ibu tanpa bernada seperti biasanya.
Seketika akupun mengangkat kepala ku dan masih loading untuk memahami perkataan tiba-tiba ibu.
Kudengar helaan nafas ibu di ujung panggilan itu.
“I-ibu tau darimana? Kan Laura belum bilang apa-apa,” tanyaku heran. Apakah ikatan batin juga bisa melakukan telepati secara bersamaan?
“Rendra tadi nelpon ibu buat minta ijin wakilin kamu. Ya, awalnya ibu ga ijinin karena ingat kondisi kamu belakangan ini, tapi karena Rendra sendiri yang janji untuk ngejaga kamu dan yaah akhirny ibu ijinin kamu pergi besok,” jelas ibu.
“Tu-tunggu dulu,bu. Pertama, Rendra tau darimana nomor telepon ibu. Kedua, tujuan dia minta ijin ke ibu apa coba? Pake bilang wakilin aku segala,” ocehku yang tak habis pikir karena sikap Rendra belakangan ini.
__ADS_1
Ibu pun menghembuskan nafasnya dan sambal melipat tangan kanannya. Ibu pun menjelaskan secara singkat.
“Rendra ga sengaja dengerin pembicaraan kamu sama Sisi,” jawab ibu.
*Rendra scene*
Langkah yang terhenti karena mendengar pembicaraan Laura dengan Sisi.
“ Gue pasti ga diijinin sama ibu. Jangankan nginap berhari-hari, pulang telat aja udah di teleponin puluhan kali. Pesimis gue dikasih ijin Si.”Jelasku ke Sisi.
Sisi pun cemberut,” Yaaah.. Bilang perginya sama gue gitu,Ra. Orang tua gue juga lagi ga dirumah, lagian libur juga Ra. Ayoo dong,”rengek Sisi sembari mengayunkan kedua tanganku.
Akupun memalingkan wajah dan memasang wajah tak tega.
Rendra pun menatap sebentar ke arah mereka sebelum melanjutkan perjalanan pulangnya.
Sesampainya di mobil dengan segera Rendra pun mengambil handphone nya dan menghubungi seseorang sembari memasang seat belt dengan satu tangan.
‘Sore tante,” panggil ramah Rendra.
“Sore juga nak Rendra, ada apa ni tiba-tiba telepon tante?,” Tanya ibu dengan riang.
Rendra pun mengatur posisi duduk dan mengulum bibirnya.
Gue tanya atau gak ya?
Ibu yang melihat ke ponselnya memastikan apakah panggilang itu terputus atau tidak.
__ADS_1
“Nak Rendra?,” panggil ibu yang memecahkan lamunan Rendra.
Rendra pun terperanjak. “Laura boleh ikut liburan bareng saya?,” ucap spontan nya.