
Akhirnya setelah banyak drama yang dilalui kami pun bisa makan malam dengan tenang.
Aku di bagian makanan penutup.
" Si, buah yang kita beli tadi mana?, "tanyaku sembari menuangkan jus jeruk di masing-masing gelas. Sisi yang menoleh sambil memegang tusuk sate nya pun dengan mulut penuh pun menjawab, "masih di kulkas Ra, lupa gue ambil. "diiringi senyuman manisnya.
Aku menghembuskan nafas melihat temanku satu ini. " Yaudah, gue ambil, tolong ini dilanjut tuangin dulu ya. "pintaku pada Sisi.
Aku pun berdiri lalu berjalan kedalam rumah menuju kulkas untuk mengambil buah untuk pencuci mulut kami. Sisi dan Rizky hanya fokus dengan tusuk sate mereka.
Setelah aku sampai di dapur kudapati rendra tengah menelepon dengan serius nya hingga tak menyadari ada orang yang baru saja tiba.
Spontan aku pun membuka kulkas dengan perlahan walaupun itu tak mempengaruhi apapun.
" Nanti biar saya yang urus kalau sudah dirumah. nanti saya kabari lagi, "diapun memutuskan panggilannya.
Aku yang selesai mengambil buah pun langsung berdiri dan bergegas menutup kulkas segera.
Tanpa kusadari rendra sudah berdiri manis tepat dibelakangku.
"Omooooooo. "ucapku kaget sehingga buah jeruk menggelinding indah di bawah.
__ADS_1
Rendra pun ikut spontan kaget dengan teriakan ku. Dia pun melihat jeruk yang menggelinding di bawah.
"Gue masih manusia Ra, belum berubah jadi vampir." ejek Rendra.
Setelah menghembuskan nafas dan mengatur dadaku yang kaget akibat ulahnya akupun membalas.
" Lo kan bisa sih ngasih tanda kalau lo berdiri di belakang gue, atau apa gitu. Gue cuma kebagian jantung 1 gaada cadangannya. "balasku sambil menempelkan badan ku ke kulkas agar memberikan sedikit jarak pada kami berdua.
Rendra yang melihat aku memundurkan badanku pun dengan otomatis malah memajukan badannya semakin dekat ke arahku.
Mataku terbelalak dengan hebatnya. Dia berjalan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Posisiku sudah tak bisa mundur ke belakang lagi.
ra, gue udah gabisa ngulur waktu lagi. udah terlalu lama ra
Kedua mataku lebih besar dari sebelumnya. Spontan aku memegang erat apel yang kupegang di tanganku.
ciuman ini adalah awal dari langkah aku mendekatimu secara resmi.
Sisi yang menyadari aku yang tak kunjung kembali pun segera berdiri dan menyusul ke dalam villa.
"Naufal? Ngapain dia berdiri di situ. Gue jadi ngeri mau lewat sana. Cek di kamar aja deh. "ucap Sisi pelan sembari pergi mencari ku di tempat lain.
akhirnya ciuman nya pun selesai. dia memundurkan badannya sedikit. mataku yang masih terbuka lebar pun masih belum berkedip.
__ADS_1
" Ekheeem, Ra. " panggil pelan Rendra. Aku masih belum bereaksi , masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi.
' Haa. Ekheeem, ya-saya. " balasku yang belum sadar 100%.
Dengan santainya Rendra tersenyum tanpa beban apapun.
Aku yang melihat senyumannya dengan otomatis menendang kaki kanannya denagn cepat.
Arrghhhhh.
Rendra pun kesakitan sambil memegang kakinya dan sedikit terhuyung hingga hampir terjatuh.
" Dasar mesum, lo pelecehan tau ga(dengan tangan kiriku aku menghapus jejak-jejak bibir Rendra di keningku. "kesalku tak terbendung.
Rendra yang masih kesakitan pun mencoba berdiri kembali walau masih terasa nyeri.
" Ini langkah pertama yang gue ambil, Ra. " ucapnya pelan.
Aku yang masih mengoceh lalu kembali menatap nya dengan mau tak mau.
Rendra menghembuskan nafas dan berjalan sedikit mendekat.
" Waktu itu gue peluk lo dan sekarang gue nyium kening lo, itu diluar kuasa gue, Ra. Gue udah coba tahan, tapi gabisa. Langkah gue untuk lebih dekat ke lo terlalu lama. " ucapnya dengan raut wajah serius.
__ADS_1
Aku yang melihatnya pun meyakini kalau itu adalah ucapan yang serius. Tatapan mata tak pernah bohong.