
Melaju cepat dan aku hanya bisa pasrah ikut karna tak mau malam ini tidur pake seragam sekolah. Kamipun sampai dirumahnya. Pikirku.
Benar ini rumahnya Rendra. Setibanya dirumah dia pun langsung turun dari mobil. Aku mengikuti nya turun dari mobil.
" Oya, ini rumah gue. " ucapnya santai dan sebelum dia bilang pun aku udah tau.
Pelayan pun menyambut kedatangan nya dengan membukakan pintu dan sedikit membungkuk. Aku yang dibelakang hanya berjalan saja.
Aku memasuki kedalam rumahnya dan sedikit terpukau dengan interior diruangan utama, terdapat lampu gantung mewah disana.
Dia terus berjalan dan langkahnya pun berhenti mendadak buatku kaget karna aku tak fokus yang dari tadi melihat sekeliling.
" Udah pulang. Tumben kamu cepat pulang. " yang tak lain ialah mamanya.
Rendra terdiam. Dia bisu ya, mamanya lagi nanya juga. Aku langsung tau itu mamanya karna pakaiannya mewah dan berperawakan layaknya nyonya besar.
" Mau pulang cepat atau enggak itu bukan sesuatu yang harus saya lapor. " jawabnya ketus.
Aku kaget atas ucapannya. Inginku mencubit sekeras-kerasnya, tapi aku lagi dirumah nya bukan di kelas.
Inggid pun hanya tersenyum miris mendengar jawaban dari Rendra. Lalu menatap kembali dengan senyuman hangat.
Mamanya baik kok. Pikirku.
" Mama dengar kamu bawa temen ya. " tanya lagi Inggid. Sambil melirik kearahku.
Akupun langsung sedikit maju kedepan dan menyapa mamanya.
" Selamat siang tante. Nama saya Laura. " dengan sedikit membungkuk kan badan dan menjulurkan tangan kananku kearah mamanya untuk menyalami.
Inggid pun kaget dengan sapaanku dan langsung menyambut tanganku. Aku mencium tangan mamanya dengan sopan, tanda sopan santun kepada yang lebih tua.
Rendra menatap kaget dan mengedipkan mata berulang kali. Begitu juga mamanya.
Setelah itu aku kembali mundur.
Mama Rendra tersenyum ramah. Kubalas juga dengan senyuman ramah. Rendra masih menatapku, aku yang baru sadar ditatap olehnya tak menggubris.
" Kamu anak yang ramah juga cantik. Salam kenal ya, saya mamanya Rendra. " sapa ramah Inggid.
Rendra mulai bersuara lagi.
" Lo beda banget dari yang tadi. Kayaknya barusan lo takut banget gue bawa, sekarang lo senyum gini. Aneh. " protes ga nyangka Rendra.
" Ini sama kayak yang ibu gue lakuin ke lo tadi. " jawabku pelan sambil memiringkan badan kearah nya.
Inggid tersenyum melihat reaksiku dengan Rendra yang menurutnya imut.
" Udah jam segini, pasti kalian belum makan. Sebelum pergi makan siang disini dulu ya. " pinta ramah Inggid sambil menatap ku.
Saat aku ingin menjawab Rendra pun memotong.
__ADS_1
" Laura disuru pulang cepat, lagian saya juga cuma mampir. " jawab ketus Rendra.
Aku menatap sinis.
" Maaf ya tante. Kalau untuk sekarang kayaknya gabisa, soalnya Laura udah disuru ibu pulang cepat. " tolakku dengan halus.
Raut kecewa terukir di wajah Inggid.
" Yaudah, gakpapa. Tapi lain kali ya. " sambung Inggid.
Aku hanya mengangguk perlahan.
" Udah yuk, ntar kalo kelamaan baju lo tinggal kenangan doang. " ucap Rendra yang langsung menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Aku berpamitan sekali lagi ke mamanya lalu langsung menyusulnya dari belakang.
Inggid yang melihat hanya tersenyum tipis. Dia masih dingin.
Tapi Laura anak yang manis. Teman perempuan pertama yang dibawa ke rumah.
Ketika Rendra membuka pintu kamarnya akupun berhenti sejenak.
" Tu-tunggu. Ini kita mau kemana. " tanyaku gagu.
" Ke kamar gue. " jawabnya santai.
"A-apa. Gue ga salah denger. Kamar lo?. " jawabku kaget.
Rendra menatap bingung.
" Gue pi-pikir apa. Kalo gitu gue tunggu di luar aja. Lo aja yang kedalem. " ucapku sambil melipat tangan di dada.
Rendra melangkah maju perlahan.
" Kalo lo nunggu di depan, ntar dikira maling. Mata-mata disini tuh ada banyak, tempat aman dirumah ini ya cuma kamar gue. Kalo lo mau diteriakin maling ya silahkan tunggu diluar. " ucapnya yang langsung berjalan menuju kamar.
Aku terdiam.
iya juga sih, rumah besar kayak gini ga mungkin gaada cctv ato penjaga. gue berdiri disini ntar dikira ngapain lagi. aiisshh mending gue jalan kaki deh pulangnya.
"Okee, gue ikut. " ucapku kesal.
Rendra yang mendengar tak menjawab dan terus berjalan masuk ke kamarnya.
Aku masuk ke kamar cowok tengil. Omaygattt, kejadian tak disangka. Aku berdiri sementara Rendra berjalan ke sisi lain kamarnya untuk mencari berkas yang diminta.
Dasar holkay(holang kaya) kamarnya udah sebesar ruang tamu ku. Aku memilih duduk di sofa sambil menunggu dia mencari berkasnya.
Aku hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong.
Rendra ke sisi lain kamarnya dan masih mencari berkas yang diperlukan. Kemudian suara nyaring pun terdengar.
__ADS_1
" Raaa. Lauraaaaaa. " panggilnya dari sisi lain ruangan.
Aku memilih diam.
" Raaaaaa.. Sini dulu bentar. " teriaknya lagi.
Dengan cepat aku pun melepaskan tas ku dengan kesal.
" Apaan sih, udah kayak anak paud aja teriak-teriak. " omelku sambil berjalan menuju sumber suara.
Ketika memasuki pintu yang lain, kudapati ruangan dengan salah satu lemari dengan tumpukan buku dan punya ruang tersendiri didalamnya.
Sebenarnya seberapa luas sih kamar si Rendra. Luas banget perasaan. Aku tak dengar apa yang dia katakan, aku hanya fokus ke lemari dan melihat buku-buku disana.
Rendra yang menatap ku hanya terdiam.
***-***
Dia beneran ada di kamar gue beneran disini. Ga nyangka bakal secepat ini. Tapi dia masih belum tau.
Rendra pun meletakkan kembali berkas yang ia pegang dan menghampiri ku yang sibuk dengan tumpukan buku di lemari.
Kemudian Rendra mendorong salah satu pintu lemari itu, dan pintu itupun terbuka sehingga menunjukkan ruangan baru didalamnya.
Aku terdiam kaget tanpa bersuara. Karna rasa penasaran ku tinggi akupun dengan spontan masuk kedalam tanpa pikir panjang.
Rendra melihat aku masuk dengan senyum khasnya.
" Ini salah satu tempat favorit gue. Dan tempat ini gaboleh dimasukin siapapun selain gue. " ucapnya dengan bersandar di dinding lemari.
Aku yang mendengar pun spontan membalikkan badan menatapnya bingung.
" Siapapun? Pelayan? Nyokap lo?. " jawabku bingung.
Dia hanya membalas dengan gelengan. Kemudian melangkah maju mendekat.
Aku hanya berdiri diam lalu berpikir sejenak.
" Trus kenapa lo biarin gue masuk?." tanyaku dan baru menyadari karna Rendra sudah berdiri tepat didepanku.
Rendra hanya berdiri diam tak menjawab.
" Kalo lo beda. " jawabnya singkat sambil menatap intens.
Aku berkedip cepat tanda bingung.
" Mak-maksudnya?. " ucapku kaku.
" Mungkin sekarang lo belum inget, tapi gue akan ngasi tau lo sedikit demi sedikit. Sampe akhirnya lo tau. " jawabnya santai.
Aku makin bingung.
__ADS_1
" Yaudah yuk. Udah kelar, gue anter lo pulang. " ucapnya sambil berjalan keluar.
Aku yang masih bingung atas apa yang ia katakan ikut berjalan menyusulnya keluar.