Protective Man

Protective Man
13. Pertama Kali


__ADS_3

menatap ku dengan tatapan hangatnya. Itulah menurutku.


" Jadi,Laura anak ibu?." tanya Rendra yang masih menatap ku. Tak berkedip.


Ibu yang melihat Rendra pun tersenyum sekilas.


" Iya, Laura anak ibu." jawab ibu singkat dan masih dengan senyumnya.


Aku hanya diam dan tak merespon. Tiba-tiba handphone ibu berdering dan ibu bergegas mengangkat nya.


" Iya, gimana Ti. Udah mulai? Loh, kok cepat banget. Ini masih di sekolah Laura. " ucap ibu sambil memegang handphone.


Aku yang melihat ibu sedikit bingung.


" Trus yang anter Laura siapa coba? Ga mungkin naik angkutan umum. " jawab resah ibu.


Seketika ibu langsung melirik ke arah Rendra yang tepat di depannya. Ntah kenapa, perasaan ku tak enak dengan tatapan ibu ini.


" Okeh, ni langsung otw kesana ya. " tutup ibu degan cepat.


Aku berdiri tegak menatap ibu. Menunggu penjelasan ibu. " Ra, ibu baru dikabarin kalo rapatnya dipercepat. Dan ibu disuruh cepat balik." ucap ibu sambil memegang tangan bahuku.


" Yaudah, ibu balik ke kantor aja. Ntar Laura balik naik bis kayak biasa. " jawabku santai.


Dengan cepat ibu mengangkat tangannya tanda tak setuju. Ibupun menggeleng. " Ibu gabakal tenang kalo kamu naik angkutan umum. " jawab ibu sambil berkacak pinggang.


" Ya terus Laura gimana. Ikut ibu ke kantor? Mending Laura di rumah daripada nungguin ibu di kantor. " protesku.


Ibu menatap kearah Rendra kemudian tak sengaja menatap intens Rendra sehingga membuatnya tersenyum bingung. Aku melihat pandangan ibu.


Seakan aku mengerti apa maksud dari pandangan itu.


" No no no. Mending Laura naik angkutan umum bu. " ucapku cepat sebelum ibu mengeluarkan titahnya.


" Kamu mau liat baju kamu ibu open order di olshop atau kamu ngikutin saran dari ibu. " ucap ibu tegas walaupun diiringi dengan senyum.


Mendengar itu Agus dan Jon pun terkekeh sekilas. Aku menatap mereka sinis. Mereka langsung terdiam karna tatapan ku.


Rendra tersenyum melihat interaksi singkat ku dengan teman-teman nya.


" Kalau gitu biar saya aja yang anter Laura bu. " saran Rendra dengan santainya.


Mendengar itu akupun menatapnya cepat.


Masih ingin memberontak tak setuju ibu langsung menjawab cepat, seakan gayung bersambut.


" Itu lebih baik daripada Laura naik angkutan umum. Tapi, ga ngerepotin nak Rendra kan?. " tanya ibu senangnya.


Aku tak dihiraukan. Sebenarnya yang anak ibu siapa sih.


Rendra menggeleng perlahan. " Lagian Laura juga temen sekelas saya, jadi itu sama sekali ga ngerepotin. " jawab Rendra sambil melirik ku sekilas dengan senyumnya.


Aku menatap kesal. Lebih kesal setelah mendengar sarannya. Ibu menghembuskan nafas lega.


" Oke, Laura. Ibu titipin kamu ke Rendra. Dan kamu harus diantar pulang sama dia, kalau kamu tetap bandel naik angkutan umum(ibu mendekati wajahku) nanti malam kamu bakal tidur pake seragam sekolah. " ancam ibu dan diakhiri dengan senyum singkatnya.


Agus dan Jon kembali terkekeh mendengar ocehan ibuku. Aku tak menjawab, demi melindungi lemari bajuku. Aku membeku.


Ibu pamit dan berjalan meninggalkan aku. Ya, aku ditinggalkan.


Aku melirik kearah ibu. Benar-benar ditinggalin. Ibu lebih percaya sama Rendra yang baru dikenal daripada sama anaknya. Ibuku unik.


Aku menatap kearah Rendra dengan kesal.

__ADS_1


" Kenapa lo ngusulin nganterin gue sih. " protesku ke Rendra.


Rendra hanya diam tak menjawab. Dia berbalik menatap Agus dan Jon yang masih terkekeh pelan sambil memegang keripik kentang nya.


" Hey, kalian duluan aja ntar gue nyusul. Bilang Naufal langsung ke basecamp. " ucap Rendra singkat yang disambut lambaian tangan Agus dan Jon yang sambil berjalan menjauh.


Dia juga menghiraukan ku. Aku dikacangin dua kali. Aku cemberut.


Rendra berjalan menuju mobil nya. Dan berhenti karena menyadari aku tak mengikutinya.


" Mau pulang bareng gue atau kehilangan lemari pakaian lo. " titah Rendra dingin melihatku tak bergeming. Memilih pergi menuju mobilnya namun sambil tersenyum tipis.


Dengan terpaksa dan berats hati akupun mengikuti langkahnya perlahan. Terpaksa.


Setela sampai di depan mobilnya aku terdiam perlahan.


" I-ini mobil lo?. " tanyaku penasaran.


Rendra membalikkan badannya sambil membuka pintu mobil.


" Iya. Kenapa. " balasnya singkat.


Ini mobil yang semalam gue liat.



Aku terdiam sebentar. Ternyata.


Rendra masuk duluan dan mengklakson mobilnya dan membuat lamunanku buyar.


Aku menatap kesal. Dia tertawa kecil.


Aku masuk mobil nya dengan langkah berat. Mimpi apa semalam bisa dianter sama si cowok tengil ini.


Agus dan Jon menghampiri Naufal yang berdiri terdiam.


" Eyy Fal. Lama amat lo keluarnya." ucap Jon sambil mengunyah.


Agus melirik kearah pandangan Naufal .


" Oww, Rendra. Dia nganterin Laura. Dijajah sama nyokapnya Laura. Gokil juga nyokapnya Laura. " ucap cekikikan Agus.


" Gue balik duluan. " ucap Naufal langsung menuju tempat mobilnya terparkir.


" Okeh, baayy.. Gaada ngajak pulang bareng, okey udah biasa. Tihati bro. " balas pasrah Agus, yang daritadi menunggu Naufal untuk pulang bareng. Ehh, ini malah ditinggal.


Mereka udah biasa. Agus dan Jon juga pergi menuju mobil mereka.


***-***


Didalam mobilnya aku hanya diam. Menatap lurus kearah jalan.


Rendra melirik sekilas dan mulai bersuara.


" Gue nyelametin baju-baju lo ni. Ucap apa gitu. " rengek Rendra.


Tak ada jawaban.


Diapun menghela nafas. " Gue gabisa nolak permintaan nyokap lo. Yang dibilang nyokap lo bener, ga mungkin lo naik angkutan umum. Keadaan lo belum sehat bener. " jelasnya yang terus menatap kearah jalan.


Aku meliriknya sekilas.


" Bukan berarti dengan nganterin gue juga kan. Lagian gue gakpapa. " balasku kesal.

__ADS_1


Gantian dia yang diam.


Mobil berhenti karna lampu merah. Keadaan mobil hening.


" Seenggaknya nyokap lo khawatir sama kondisi lo sekarang. Jadi lebih baik ngikutin apa yang nyokap lo mau daripada bikin rasa khawatir nya 2x lipat. " jawab Rendra yang menatap lurus kedepan.


Aku melirik nya. Ada benernya juga apa yang dia bilang. Aku memilih mengalihkan pandanganku ke arah jendela.


Rendra menatapku dan tak berkedip. Lampu hijau pun menyala. Mobil kembali melaju.


" Gue ga mesti kasih tau jalan kerumah kan. Lagian lo juga udah tau. " ucapku yang masih menatap ke luar jendela.


Rendra tersenyum singkat. Dia tak menjawab.


Tiba-tiba handphone Rendra pun berdering. Dia segera memakai earphone dan menjawab panggilan itu.


" Kenapa. "tanyanya singkat.


" Sekarang? (melirikku sekilas) Okeh tunggu sebentar. " ucapnya sambil memarkir kan mobil dipinggir jalan.


Aku bingung atas apa yang ia lakukan.


" Kenapa? Btw, rumah gue bukan disini. " tanyaku cepat.


Rendra mengatur posisi badannya sehingga menghadapku dengan sepenuhnya.


Aku bergidik ngeri.


" Lo. Lo jangan macem-macem ya. Teriakan gue kayak ibu gue. Cetar membahana. " ucapku sambil memundurkan badanku merapat kearah pintu mobil.


Rendra heran dengan sikapku.


" Ehh, mikirnya jangan kejauhan. Gue cuma mau bilang, kayaknya gue gabisa nganter lo sekarang, karna--. " belum selesai bicara akupun memotong.


" Lo mau gue turun disini. Yaudah gakpapa. " ucapku lega.


" Gak mungkin gue turunin lo disini. Ntar malem lo mau tidur pake seragam sekolah?. " ucapnya yang menghancurkan senyuman ku.


Rendra berpikir sebentar dengan menundukkan kepala dan dengan cepat melihat kearahku.


Aku terdiam melihat tatapannya.


" Ke-kenapa lo ngeliat gue gitu. Daging gue ga enak. " ucapku yang kembali merapat kan diri kearah pintu mobil.


" Lo ikut gue aja ya. Abis itu gue anter pulang. " ucap santainya.


Aku merespon cepat. " Apa?? Ogah, mending gue naik angkot aja. Lagian juga udah deket. " tolakku cepat.


Rendra menyandarkan badannya ke tempat duduk mobil sambil melihatku kesal.


" Kan gue tadi bilang. Lo mau tidur malemni pake baju seragam, trus mulai besok nyokap lo ngawasin dari pergi sampe pulang sekolah karna lo ga ngikutin perintah nya. Mau?. " jawab Rendra cepat.


Aku memikirkan apa yang dia bilang barusan. Aku langsung cemberut dan menggeleng.


kok imut banget sih reaksinya. Pikir Rendra.


" Yaudah, lo ikut gue sebentar aja, ga lama. Abis itu gue langsung anter lo pulang. Janji. " sambil mengangkat tangannya bukti bahwa ia akan menepati perkataan nya.


Aku kembali menundukkan kepala dan berpikir keras. Kalo dia macem-macem gue bisa langsung kabur dan itu bakal buat ibu ga percaya lagi sama dia. Kalo itu terjadi.


Aku menatap ke arah Rendra.


" Yaudah. Gue ngikut sama lo. Tapi jangan lama-lama. " jawabku yang sambil mengatur posisi badan kembali menghadap kearah jalan di depan.

__ADS_1


Rendra tersenyum singkat dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat.


__ADS_2