
Setelah awal pagi yang menjengkelkan, aku langsung menuju atap sekolah untuk sejenak mengisi ketenangan di dalam jiwa dan raga. Hari ini guru sedang mengadakan rapat bulanan dan juga membicarakan tentang Uts yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
" Haaaaaahhhhh. Awali lah pagi mu dengan damai Laura, damaaaaaaiiii. " teriakku yang membuat dada semakin sesak tak karuan.
Terdengar grasak grusuk di balik dinding. Dengan cepat aku berbalik, mencari asal suara itu.
" Siapaa? kalau manusia tolong bersuara, kalau bukan tolong pergi dengan damai. " ucapku sedikit mulai horor.
Suara grasak grusuk nya semakin keras. Aku mulai mundur secara spontan.
Dan..............................
braaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk.
" aaarrrrrghhhhhh. " teriakku pecah sesaat.
" Suara lo cukup melengking juga. " ejek seseorang yang baru saja lompat dari atas sana.
Jalan dengan santai setelah membuat kegaduhan dan seakan tak berdosa atas apa yang ia lakukan pada jantung ku yang tak bersalah ini.
" Nau-naufal? Astagaaa, lo ngapain deh sumpah duduk diatas sana. Ngeliat bintang jatuh apa. "tanyaku kesal sambil memegang jantung yang masih lari marathon.
Naufal jalan dengan damai. Akupun kembali membalikkan badanku ke arah depan.
" Lo yang udah gangu gue sebenarnya. " ucap singkat Naufal sambil mengambil posisi di sebelah kiri ku dengan posisi tangan menyilang.
Aku memandang sinis.
" Tunggu, ya gue mana tau lo ada disini. Emang ada lo tulis di pintu masuk, NAUFAL ADA DISINI. Gaada kan, ya mana gue tau. " jawabku kesal karena dia juga menjadi salah satu penyebab kejengkelan ku bertambah hari ini.
Naufal memandang singkat. " Kayaknya lo bermasalah banget di sekolah ini, padahal masih murid baru. " sambung Naufal yang masih berwajah datar.
Aku menghembuskan nafas kesal.
" Bermasalah? maksud lo. " ucapku sambil menghadapkan badan ku sepenuhnya ke arah Naufal.
Angin berhembus perlahan dan menjadikan rambutku yang kugerai menjadi mengikuti hembusan angin.
Yaa, aku membuka ikat rambut ku agar aku merasakan aliran darah mengalir ke otakku.
Naufal memperhatikan dengan seksama tanpa berkedip.
Hembusan angin yang membuat rambutku tergerai mengikuti arah anginnya. Akupun sedikit merapikannya dengan menyelipkan rambutku ke telinga agar tak terlalu mengganggu penglihatan ku saat itu. Mataku terus berkedip karena hembusan angin yang membuat rambutku sedikit menghalangi arah pandang.
Secara spontan Naufal membantu merapikan rambutku dengan menyelipkan rambutku ke telinga kanan. Aku kaget bukan main sehingga aku mundur secara tiba-tiba dan sedikit tersandung, sesaat hampir jatuh Naufal dengan sigap menangkap tubuhku saat itu.
Aku dan dia saling bertatapan tanpa sengaja.
__ADS_1
Mataku terbelalak atas apa yang terjadi saat ini. Naufal? Ni anak kenapa yak?
" Gue ga pernah bilang lo sumber masalah nya. Tapi, lo terlalu mudah kepancing untuk buat orang bisa nge-bully lo. " ucapnya yang masih memegang tubuhku agar tak jatuh.
" Seenggaknya gue ga pernah lari dari masalah. Dan satu hal, dari awal bukan gue yang buat masalah-masalah yang lo anggap itu bermula dari gue. Dan tolong lepasin gue. " ucapku sambil dengan cepat melepaskan pegangan Naufal.
Aku berjalan mundur. " Lo ga bisa bilang seseorang bermasalah dengan hanya ngeliat apa yang lo liat. Banyak hal yang lo gatau dan jangan pura-pura seakan lo tau semuanya dengan hanya sekali liat. " balasku sambil berjalan pergi meninggalkan nya terdiam sebelum ada kesempatan menjawab.
Naufal terdiam tak berkutik. Dia menghembuskan nafas beratnya. Lalu melihat kepergian ku dengan tatapan menyesal.
Dia membalikkan pandangannya ke arah depan sambil mengepal kan kedua tangannya.
Aku menuruni anak tangga dengan cepat.
" Gue kesini tuh buat cari udara segar, bukan cari tambahan hal yang ngejengkelin. Apaan sih tu anak. " ucapku jengkel lalu melanjutkan langkahku untuk turun.
Di dalam kelas.
Sisi sedang mendengarkan lagu favoritnya sampai tak menyadari kehadiranku.
Sambil menutup mata dan menggoyang kan badannya dengan santai dia pun terperanjak kaget karena aku merebahkan badanku dengan keras di belakangnya.
Dengan cepat menoleh ke belakang. " Ra? Lo kenapa deh, baru dateng udah ga mood gitu. " tanya Sisi sambil membalikkan badan ke arahku yang meletakkan kepala ku di meja.
Aku menghembuskan nafas berat.
Aku dengan cepat mengangkat kepala ku yang membuat Sisi kaget atas tindakan ku yang tiba-tiba.
" Gue gamau denger nama itu lagi pliiiiiiiisss. " ucapku kesal.
Sisi menghembuskan nafas perlahan.
Tiba-tiba hp ku berdering, dan segera aku mengangkat nya. Nomor tak dikenal. Siapa ni? Pikirku.
Sisi melihat sekilas, " Siapa?. " tanya penasaran nya.
Aku mengernyit kan keningku. Kubiarkan saja, pasti panggilan iseng.
Dering yang kedua kali. Masih kubiarkan. Ini sudah dering yang keempat kalinya.
Niat banget sih sumpah.
Lalu kuangkat dengan jengkel.
" Halo, maaf pemilik hp ini sedang dalam kondisi yang tidak bisa diganggu untuk sementara waktu, ja-... " sebelum kuselesaikan perkatannku suara yang terdengar tak asing pun kudengar.
" Haii, saudara ku tercintaaaa. " perkataan yang terdengar menjengkelkan.
__ADS_1
Raut wajahku berubah seketika atas apa yang baru saja kudengar.
" Shifa?. " tanyaku datar.
Senyuman Shifa mulai mengembang.
" Lo masih inget suara gue ternyata. Gimana kabar lo, masih stres ga?. " tanya Shifa sambil memakan cemilan nya saat itu.
Shifa sedang bersantai di pinggir kolam renang nya.
Aku mulai berubah raut wajah menjadi serius, dan membuat Sisi sedikit heran atas perubahan ku yang tiba-tiba.
" Gue ga butuh perhatian lo. " ucapanku ketus.
Terdengar suara tawa Shifa yang paling kubenci.
Shifa pun bangun dari tidur nya lalu berjalan santai di pinggir kolam renang.
" Gue sebenarnya penasaran gimana kehidupan lo sama nyokap lo setelah keluar dari keluarga Adiwiguna. Gimana? masih bisa makan kan. " tanyanya santai.
Aku mengepalkan tangan kiri ku sambil menghembuskan nafas beratku. " Gue ga pernah sekalipun anggap itu rumah. Itu hanya tempat yang didalamnya orang yang menjijikan yang pernah gue temui. Dan gue bersyukur bisa keluar dari tempat sekotor itu. " ucapku dengan santai dan mengintimidasi.
Langkah Shifa terhenti. " Apa? Barusan lo bilang apa? Kotor. " Shifa mulai menggertakkan giginya tanda dia jengkel bukan main.
Aku duduk bersandar.
" Iya. K-O-T-O-R. " ucapku dengan mengeja kata yang ia benci.
Shifa mulai tak tahan. Dia pun teriak.
" Heeeeee, lo sama nyokap ga guna lo yang buat tempat ini kotor. LO TAAAUUUU LO YA-....... " perkataan Shifa yang belum selesai namun aku langsung menutup panggilan itu secara sepihak. Menjadikannya histeris sejadi-jadinya.
Aku pun bangkit dengan kesal yang bertumpuk-tumpuk, lalu berjalan ke arah pintu kelas bagian belakang. Kudapati Rendra yang baru saja masuk kelas. Aku beradu pandang sekilas. Dengan wajah kesal, tanpa pikir panjang aku langsung melangkah kan kaki ku keluar dengan cepat.
Meninggalkan tatapan bingung Rendra atas apa yang ia lihat. Begitu pula Sisi yang ikutan berdiri dengan niat mengikuti ku.
Aku berjalan menjauh. Meninggalkan semuanya di belakang sana.
Aku juga tak bisa ke atap sekolah. Tak bisa duduk di lapangan basket.Tak bisa duduk diam di kelas. Tak bisa kemana-mana. Tak ada tempat tujuan. Sampai tiba-tiba langkahku terhenti dengan genggaman tangan yang menghentikan langkah ku untuk terus berjalan tak tentu arah.
Rendra?
Dia menahanku untuk pergi tak tentu arah? Dia?
Dengan tatapan khawatir yang ia pancarkan membuat pikiranku makin kacau tak tentu arah lagi.
Kenapa harus dia?
__ADS_1