
Martha berjalan cepat dengan langkah kaki yang dihentakkan keras ke lantai. Dia kesal. Seakan ingin menghantam tangannya ke dinding.
Dia berhenti dan membuat teman-teman di belakang nya pun ikut berhenti mendadak.
" Gue gaakan biarin dia semena-mena sama gue. Baru kali ini ada orang yang giniin gue. Gaakan gue biarin, " ucapnya dengan nada amarah dan tangan terkepal keras.
Salah satu temannya berusaha mendekati,
" Tha, setau gue ya si anak baru itu udah ketiga kalinya pindah sekolah. Gimana kalo kita buat rumor tentang itu aja. " usulnya dengan alis setengah terangkat.
Martha melirik dengan senyuman.
"Bolak-balik pindah yaa.. (menampakkan senyum devil) Dengan ini bisa jadi bahan gue berikutnya. Liat aja, dia masih bisa ngomong apa lagi setelah ini. " mengakhiri percakapan dengan senyum bahagia dan bergegas berjalan ke kelas.
Setelah pelajaran usai, jam istirahat pun datang. Aku menulis di meja yang sedikit terasa aroma susu dan berbagai coretan diatasnya.
Aku melirik ke sebelah kiriku dan mendapati Naufal sedang asik menulis. Aku mulai berbicara pelan.
" Ekheemm, " berdeham pelan kearahnya.
Naufal menoleh kearah asal suara. Dia melihatku.
"Saputangan lo ntar gue cuci dulu ya. Baru gue balikin lagi ke lo. Btw, tengkyuu udah minjemin, " ucapku dengan nada sedikit agak malu dengan tangan yang terus memegang pulpen.
Naufal melihat sekilas dan meletakkan pulpennya, " Terserah lo. " balasnya santai.
Mataku melotot penuh kebingungan.
" Gimana?. " tanyaku heran dan jujur aku bingung.
Naufal merapikan bukunya dan berdiri dengan gaya pasti.
" Mau lo balikin atau enggak, terserah lo. Gue punya lusinan saputangan dirumah. " sambungnya santai dan pergi meninggalkan ku dengan tatapan tak mampu berkata-kata.
Aku terdiam.
Sisi membalikkan badannya ke belakang dan membuat ku tersentak kaget karna tingkahnya.
" Oh maayyy, ngangetin aja lo Si, " protesku dengan wajah masih syok.
"Ra, Naufal itu kayak gunung Everest. Puncaknya tinggi dan dinginnya menusuk hati, jadi kita udah biasa liat dia dingin kaya barusan. " jelas Sisi dengan wajah serius sembari memegang pulpen yang masih belum ditutup. Sedikit tercoret di bawah bibirnya tanpa ia sadar.
Aku yang melihatnya, perlahan menurunkan pulpennya selama ia berkhayal tentang Naufal.
Akupun mengangguk.
Rendra yang mendengar obrolan kami pun mulai menimpali.
" Bener kata si kacamata. Tuh anak sedingin es kutub Utara. Kalo gue kebalikannya, sehangat matahari pagi. " timpalnya dengan bergaya dengan merapikan jas.
Aku menatap aneh dan mulai mengarahkan badan ke arahnya. " Kayaknya lo punya masalah ya dengan orang yang pake kacamata, " jawabku dengan tangan menyandar ke bangku.
Rendra bergidik. " Haaa, maksud lo apa?." tanyanya dengan wajah yang tak mengerti perkataanku.
Aku menggeleng.
__ADS_1
Akupun merapikan buku dan memegang tangan Sisi pertanda ingin keluar.
Sisi hanya mengikuti.
"Heeyyy, lo belum jelasin tadi maksudnya apa. Heeyyy,, Lauraaaaa. " protesnya dengan nada tinggi dan kesal sejadi-jadinya.
Harus gue kejar. Pikirnya.
Akupun berjalan melewati lorong untuk menuju ke kantin. Tapi ada yang berbeda. Tatapan sekitar yang menjadikan auranya berbeda. Sisi juga merasakan hal yang sama dengan keadaan sekeliling nya.
Sesampainya di kantin semua tatapan tertuju pada kehadiran ku.
Dengan Rendra yang terus berjalan mengejar ku dari belakang.
"Katanya dia udah pindah berulang kali. Pasti masalah nya berat bangett, " omongan seseorang yang menjadikan tatapan ku tertuju padanya.
" Apa jangan-jangan dia ketauan nyolong kali ya makanya diusir. " sambung yang lain.
" Atau ngegodain guru biar dapet nilai tinggi supaya bisa jadi juara " sambung yang lain dengan tawa mengejek.
" Gue kira anak baik-baik, ehh ternyata sama aja. Sampah masyarakat "
" Pindah sekali mah masih wajar, ini udah ketiga kali. Mungkin skarang lagi nyari sekolah biar bisa pindah lagi "
" Ehh, atau jangan-jangan dia pindah sekolah biar bisa ngegaet cowok-cowok di skolah biar bisa dideketin "
" Kemaren juga gue liat dia jalan sama Rizky, tau aja murid dengan kualitas Bagus "
Omongan mereka terasa menumpuk dan terus berputar di kepalaku.
Seperti kejadian dulu. Aku tak bisa berontak dan hanya bisa diam. Omongan yang tiada henti yang buat dadaku terasa sesak.
Aku memegang erat dadaku yang berasa panas dan seakan aliran darah terhenti seketika. Aku tak bisa merasakan adanya udara disekeliling ku..
Sisi yang melihat ku mulai panik.
" Ra, lo kenapa? Ra? Laura, lo gakpapa?. " tanya khawatir Sisi disebelah ku sembari memegang erat tanganku agar aku tak jatuh.
Yang kulihat wajah Sisi mulai terbalik. Semua orang disekitar seperti tumpang tindih. Semua tak berbentuk.
Aku sesak. Aku tak bisa bernafas.
Kulepaskan pegangan Sisi dengan cepat dan berjalan menjauh untuk mencari dimana udara berada. Sembari memegang dadaku yang terasa tak terkendali akupun menjauh dengan pasti.
Meninggalkan semua ocehan dan tatapan mata yang intens.
" Ra, mau kemana?. " teriak sisi dan mulai mengejar.
Tapi Rendra menghalangi.
" Biar gue aja, " ucapnya dan langsung berlari menyusul.
Di tempat lain, Martha memantau dengan seksama dan dengan senyuman puasnya atas apa yang ia lihat.
" Akhirnya, kita tau kelemahan si cewek bar-bar apa, " menampakkan wajah puas.
__ADS_1
Martha melihat Rendra yang mengejar Laura dengan cepat. Matanya memancarkan amarah.
Dadaku seakan mau meledak. Sungguh sesak. Aku tak tahan menahannya. Kenapa masih begini, apakah masih terulang?
Aku tak tau kemana tujuanku. Aku hanya mengikuti jalan dan menaiki anak tangga.
Tiba-tiba aku sampai di salah satu tempat yang cukup tinggi dan dengan hembusan angin yang cukup kuat.
Akhirnya aku menemukan lokasi dimana udara berada.
Aku melepaskan jas ku dengan cepat dan melonggarkan dasi untuk mendapat udara dengan leluasa.
Aku bernafas sekuat tenaga.
Berjalan lunglai dan menjatuhkan badanku kesalah satu dinding untuk melemaskan tubuh yang sedari tadi berguncang hebat.
"Aaahhhh, aaaahhhh, haaaahhhh. " hembusan nafas yang terengah-engah. Seakan nafas sudah diujung tanduk.
Rendra berlari sekuat tenaga mencari lokasi ku dimana. Dia tak menemukan dimanapun.
Dia melihat satu pintu terbuka, yang mengarah ke rooftop atas. Dia berlari kearah pintu itu dan menaiki tangga dengan cepat.
Dan akhirnya mendapati ku yang terduduk lemas.
"Haaahh, haaahh. Akhirnya ketemu. " ucapnya puas dengan nafas terengah-engah karna terus-menerus berlari.
Dia melihat kondisiku tak memungkinkan.
Laura?
Aku tak jelas melihat siapa yang datang. Yang kulihat hanya langkah kaki berjalan lurus kearah ku. Penglihatan ku buram. Masih belum fokus.
Rendra mengambil jas ku yang kulepaskan dengan sembarangan dan berjongkok didepanku.
" Maaf, lari gue ga secepat para atlet, " ucapnya dengan pelan.
Aku tak terlalu mendengar. Aku berkeringat dingin.
Rendra duduk disebelahku dan menyandarkan kepalaku di bahunya dengan pelan. Aku tak berkutik. Aku terlalu lemah untuk merespon.
Kututup sebentar mataku dan mengatur pernapasan dengan seksama.
" Lo ngeliat semuanya. " kata pertama yang kuucapkan masih dengan mata tertutup.
Rendra yang mendengar, melihat ku sekilas dan tak mau bersuara. Dia menarik nafas pelan.
Aku mulai mengangkat kepalaku yang sejujurnya masih terasa berat dengan perlahan. Aku tak mau berlama-lama bersandar di bahu cowok belagu ini. Pikirku.
Namun tangan Rendra dengan cepat menahan kepalaku dengan memposisikan kembali ke bahunya.
"Jangan diangkat dulu, lo masih pusing kan? Jangan sok kuat untuk semua keadaan. Adakalanya kita butuh sandaran untuk sekedar ngurangin beban yang bertumpuk. " protesnya pelan dengan nada pasti.
Ntah kenapa, aku hanya bisa mengikuti apa yang ia sarankan.
__ADS_1
Sial, aku jadi berhutang ke cowok belagu ini.