Protective Man

Protective Man
34. Hangout


__ADS_3

Setelah hampir setengah hari aku berada di tempat yang isinya para murid kelas kakap di sekolah ku, akupun mulai terbiasa dengan aura saat bersama mereka. Karena, pada dasarnya aku adalah anak perempuan yang haus akan rasa penasaran. Akupun memilih home tour sendiri tanpa didampingi sang pemilik rumah.


Tak tahu langkah kaki melangkah kemana, tapi yang kutahu aku masih berada di bangunan ini.


Meninggalkan para lelaki itu dengan dunianya, nge-game, baca buku, bermain panahan, main gitar, telfonan dengan para perempuan dll.


Yaa, Naufal juga ikut menyusul ke basecamp dengan membawa tas yabg berisi para buku tercintanya. Sedangkan yang lain juga sibuk dengan dunianya masing-masing.


Karena, hanya aku satu-satunya perempuan disini dan sudah mulai merasa gejala rasa bosan.


Akupun memilih berjalan kearah belakang rumah dan menemukan tempat peristirahatan yang nyaman.


"Wuaah, mungkin halaman belakang gue cuma secuil dari ukuran halaman yang disini kali ya. Kalo ini mah muat dibangun 2 mini market. " sambil melihat sekeliling halaman yang luasnya tak masuk akal.


Akupun menarik nafas dalam-dalam selayaknya orang yang sedang yoga. " Tapi apa gue aman ya? Disini tuh isinya cowok yang bar bar smua. Gue tuh kayak lagi disenengin sehari tapi abis itu innalillahi. " mengakhiri dengan hembusan nafas berat.


Tiba-tiba handphone ku pun berbunyi dan kudapati nama Sisi yang ada di layar.


Langsung kuterima panggilan itu dan ku dekatkan handphone ke telinga kanan ku.


" Hola sistaa. " jawabku ringan.


" Ra, gue mau nanya nih. Sebentar lagi kan kita Uts tuh, tapi gue belum menunjukkan tanda-tanda untuk memulai belajar dengan sungguh-sungguh. Jadi, gue pengen minta wejangan sama lo ini untuk mulai belajar. " curhat Sisi yang saat itu sedang menonton tontonan favoritnya.


Sebelum menjawab akupun menghembuskan nafas sambil meletakkan tangan kiriku di kursi.


" Sebelum gue memberi kan wejangan kepada anda, apakah saya boleh menanyakan sesuatu?. " ucapku dengan wajah serius.


Sisi pun menjawab iya dengan santai.


" Lo sekarang lagi nge drakor ya Si?. " tanyaku spontan.


Sisi pun dengan tiba-tiba menjatuhkan cemilan yang sedang ia pegang di tangan kirinya dan tanpa disengaja dia pun cegukan.


Aku memegang kepala ku sebagai bentuk pusing memiliki teman yang mulai meresahkan.


Setelah minum untuk menghilangkan cegukannya Sisi pun mengambil kembali hp nya yang tak sengaja ia jatuhkan.

__ADS_1


" Siapa yang nge drakor? Gue la-lagi megang buku kok. " jawab Sisi gagap.


Akupun mulai kembali dengan duduk dengan sikap sempurna.


" Lagi nonton Goblin?. " ucapku cepat.


" Goblin? Ya ampun, itukan drama tahun 2016 Ra. Sekarang tuh lagi rame drama True Beauty yang ceritanya tuh dsri cewek buruk rupa jadi yang super duper cantik. Gue jadi pengen beli alat-alat make up tau ga abis nonton itu, ntar temenin gue ya. " dengan semangat 45' nya Sisi menjawab.


Beberapa detik kemudian dia pun tersadar kembali. Dengan memukul keningnya ia pun menutup mata dan mengumpat dalam hati. Keceplosan.


" Wuaahh, coba aja lo selancar ini pas jawab soal Uts nanti. Gue yakin peringkat lo pasti diatas gue. " meratapi keunikan temanku yang satu ini.


" Iya. Iyaa, maaf. Gue gabut banget ga bisa fokus belajar. Daripada otak gue berasap gara-gara belajar yang sama sekali ga bikin gue paham, mending gue nge drakor yang bikin mood gue balik lagi. Sorry Ra. " jawab Sisi sedih sambil menundukkan kepalanya.


" Sisi? Si?. " panggilku lembut.


Sisi hanya menjawab dengan dehaman.


" Gue gaada hak buat ngatur apa yang harus lo lakuin dan apa yang ga seharusnya lo lakuin. Semua itu ada di tangan lo sendiri. Lo yang putusin apa yang akan lo jalani, tanpa ada paksaan dari siapapun dan dengan alasan apapun. " jawabku sambil terus menatap kedepan dan dengan senyuman yang kalau Sisi lihat pasti dia juga akan ikut tersenyum.


Sisi mulai mengangkat kepala nya kembali dan membenarkan posisi duduknya.


" Gue cuma bisa beri masukan buat lo Si. Ga salah kalau hobby nge drakor lo itu nge buat mood lo naik lagi dan bahkan jadi dampak baik buat keseharian lo. Tapi, semua itu juga ada porsinya masing-masing. Karena kita masih anak sekolahan yang tugasnya itu belajar, jadi juga ada waktu dimana kita laksanain tugas kita sebagai anak sekolahan. Gue bukan ceramahin lo Si, justru kebalikan nya. Gue sayang sama lo, gue gamau sahabat gue jauh tertinggal sementara gue maju sendirian. Gue mau kita maju sama-sama. Karena lo sahabat yang paling berarti buat gue. " curhatku pada Sisi. Mungkin sangat lebay karena aku mengungkapkan seperti ini. Tapi inilah yang kurasakan pada Sisi saat ini.


Kudengar suara isakan tangis Sisi. Akupun cemas apa yang terjadi pada Sisi sampai menangis seperti itu.


" Si? Sisi? Lo nangis? Ma-maaf kalau kata-kata gue nyakitin lo Si. Gu-.. " belum kuselesaikan ucapan ku Sisi pun menjawab.


" Makasih Ra(diiringi isakan tangis yang mulai mereda). Lo satu-satunya yang ngomong kayak gini ke gue selama ini. Ga nge-judge gue dengan hobby gue, dan support gue untuk maju. Makasih Laura. Makasih. Makasih udah jadi sahabat gue sampe sekarang. " tangisnya pecah. Sisi pun melepas kacamata nya untuk menyeka air matanya yang membasahi pipinya.


Akupun tersenyum melihat tingkah lucu sahabat ku yang satu ini.


" Apaan sih. Gini-gini gue juga suka drakor kok, tapi ga se-profesional lo Si. Gue butuh banyak belajar buat kenal dengan para oppa. " ledekku untuk meredakan tangisannya.


Sisi pun mulai membalas ledekanku. Kami pun mengakhiri panggilan sore itu dengan canda tawa yang diiringi tangisan penuh haru.


Di salah satu sudut halaman berdiri seseorang yang ternyata sudah berada disana sejak Sisi menelepon ku.

__ADS_1


Naufal.


Niat hati Naufal mencari tempat nyaman untuk membaca. Dan sebenarnya bangku yang ku duduki itu adalah tempat favorit Naufal saat dia membaca.


" Gue gatau kenapa selalu jumpa sama lo disaat yang ga terduga. Setiap saat. " oceh Naufal yang berdiri di sudut lain sambil memegang buku di tangan yang satunya.


Pandangan Naufal tertuju lurus ke arah ku saat itu. Dengan senyuman yang kupancarkan karena masih meledek Sisi yang sedang menangis.


kenapa harus lo Ra. kenapa?


Rendra yang merasa bosan main game pun menyadari aku tak ada disini.


" Ehh, Jon. Laura mana?." berdiri dan sambil melihat sekeliling mencari keberadaan ku.


" Ya mana gue tau broh. Gue bukan pengasuhnya. " jawab Jon yang saat itu tengah sibuk mengalahkan tim lawan.


Rendra pun berjalan pergi sambil sedikit menyenggol bahu Jon yang membuatnya salah dalam membidik lawan.


Jon pun meringis kesal.


Rendra berjalan menyusuri setiap ruangan dan masih tak menemukanku.


Dia memilih melihat dari balkon atas untuk menemukan Laura.


Dan dia pun melihat Laura yang sedang duduk di salah satu bangku halaman belakang.


Rendra menghembuskan nafas lega.


Disaat ingin beranjak turun ke bawah, tak sengaja ia pun melihat seseorang berdiri tak jauh dari tempat Laura duduk.


" Naufal?." melangkah mendekat untuk melihat ke arah mana Naufal memandang.


Kepala Rendra mengikuti arah pandang Naufal saat itu.


Laura.


Dia memandang lurus ke arah Laura.

__ADS_1


Rendra kembali menatap Naufal dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada apa?


__ADS_2