
Setelah melihat piano yang terparkir rapi di sudut ruangan, akupun mulai teringat akan kenangan bersama ibu yang membuat senyumku otomatis terkembang dengan sempurna.
Secara spontan akupun menghampiri piano itu dengan sendirinya. Rendra hanya berdiri di ujung sana sambil memegang tas ku di tangan kanannya. Menunjukkan raut wajah penasaran apakah aku akan memainkan piano itu atau tidak.
Selangkah demi selangkah aku menghampiri piano itu dan mulai mendaratkan tanganku dengan mulus di ujung pianonya. Kujalankan tangan ku lurus untuk memegang setiap sudut piano sampai akhirnya akupun duduk rapi di kursi itu.
Kulihat setiap sudut tanpa tertinggal satupun. Tanganku mulai mendarat di tuts piano dan dengan langsung memainkan salah satu lagu kesukaan aku dan ibu. Jemari tanganku seperti nostalgia seperti berjumpa dengan teman lama.
Sudah bertahun-tahun rasanya sudah tak memainkan piano lagi. Pikirku.
Alunan piano terdengar sampai lantai atas rumah.
rivers flow in you 🎶🎶🎶
Rendra menatap ku seakan tak percaya aku fasih memainkan piano. Raut serius kutorehkan layaknya pemain yang sedang mengikuti lomba.
Jon, Agus, Jody dan Rifan pun datang dari arah berlainan melangkah mendekat ke arah sumber suara.
Mereka terpukau atas apa yang mereka lihat. Walaupun piano itu sudah ada sejak lama di rumah itu, tapi tak ada satupun yang bisa memainkannya.
Akulah yang perdana memainkannya. Pikir mereka.
Mereka pun bertepuk tangan dan bersorak riuh atas aksiku memainkan piano.
Akhirnya aku pun tersadar bahwa aku masih di lingkungan mereka.
Dengan cepat aku berdiri dan pergi menjauh dari piano itu.
" Wuaaahhh... bravo, bravo. " tepukan meriah dari Jon yang sambil memegang keripik kentangnya.
Agus, Jody dan Rifan pun tetap bertepuk tangan riuh diiringi teriakan ala fanboy.
Rendra menitipkan tas nya dan tas ku ke arah Jon dan Agus yang ada di sampingnya.
Lalu menghampiriku dengan langkah pasti.
Dia tepat berada di depanku, akupun sedikit berjalan mundur agar tak terlalu dekat dengannya.
Dia menunjukkan wajah tak berekspresi sedari tadi.
__ADS_1
Tangan kanannya pun mendarat lembut di atas kepalaku sambil mengelus perlahan. Layaknya kucing yang sedang dimanja.
Aku langsung menepis tangannya dengan cepat. " Apaan sih, lo kira gue kucing apa. " protesku sambil merapikan kembali rambutku.
Rendra menghembuskan nafas ringan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
" Iya, lo emang kucing. " jawabnya santai sambil menatap lurus.
Mataku terbelalak. Saat aku hendak membuka mulut diapun langsung kembali bersuara.
" Menggemaskan. " sambungnya.
Aku terdiam terpaku atas apa yang ia katakan.
Temannya yng sedari tadi melihat pun memilih kembali ke tempat asal mereka tanpa mengeluarkan suara. Jon yang menjaga agar keripik kentang yang sedang ia makan tak menimbulkan suara pun juga ikut berjalan pergi meninggalkan aku dan Rendra di ruang tengah.
Tiba-tiba handphone Rendra pun berdering.
Aku kembali mengatur arah pandang ku dengan benar. Rendra yang mengambil handphone di saku jas pun tetap melihat ku sembari mengambil handphone lalu mengangkat nya tanpa mengalihkan pandangannya dari ku.
Aku yang sibuk mencari pemandangan lain agar tak beradu pandang dengannya pun terlihat sibuk.
" Halo? Ada apa." jawabnya.
" Saya lagi di luar, jangan cari saya. Ada hal yang lebih penting yang harus saya lakukan (sambil membenarkan jas nya). Saya harus memberi makan kucing yang menggemaskan dulu. Sudah ya. " dia menutup panggilannya dan kembali mengantongi handphone nya di dalam saku jas nya.
Atas apa yang baru saja ia katakan aku berbalik dengan cepat.
" Kucing apaan sih. Gue bukan hewan peliharaan ya. Gue manusia sejati. " protesku dengan nada kesal.
" Gue gaada bilang kalau kucing gue itu lo kan. Jadi, lo setuju gue panggil kucing menggemaskan?. " ejeknya sambil memajukan badannya sedikit ke depan.
Aku cemberut sejadinya. Lalu memilih turun menuju ruangan lain.
Tak selang beberapa lama, dia pun tepat berdiri di depanku dengan sikap sempurna.
" Udah jam makan siang, makan yuk. " ajaknya dengan wajah yang masih sedikit datar.
Aku hanya diam dan memandang ke arah lain.
Rendra menaikkan satu alisnya dan mulai memutar otak untuk mengajakku makan.
__ADS_1
" Iya iya, maaf deh udah ngejek lo gitu. Lagian gue emang punya kucing peliharaan. " jawabnya merasa bersalah.
" Tcchh... Emang gue percaya apa orang kayak lo pelihara kucing. Ga estetik banget sama Citra lo di sekolah. " ucapku sambil melipat kedua tangan.
Tak ada angin tak ada hujan, Agus pun mendatangi kami sambil membawa sesuatu.
" Woy, Rexy bawel banget ni, udah kayak punya anak satu aja gue ngurusin dia. Nihh. Niiihh. " Agus pun memberikan Rexy ke Rendra dengan cepat lalu memasang kembali headphone yang jatuh sampai ke pundak seperti semula.
Aku terpana sekejap mata.
Rendra menerima Rexy dengan santai. Dan abrakadabra, Rexy yang dari tadi mereka panggil pun tenang layaknya tak terjadi apa-apa.
Rendra yang tersadar setelah melihatku memandang lurus kearah apa yang dia pegang pun mulai tersenyum jahil.
" Naahh, gue ga bohong kan. Kenalin, kucing peliharaan gue yang menggemaskan namanya Rexy (sambil mengayunkan kaki kucing imutnya dengan santai) ." ucapnya santai dengan nada sedikit imut sembari mengenalkan Rexy padaku.
Aku tersenyum kecut seperti telah memakan satu buah lemon utuh.
Rendra tersenyum sambil terus menggendong Rexy di tangannya.
Jody dan Rifan yang sedari tadi duduk sambil memainkan iPad mereka pun terhenti melihat pemandangan yang tak biasanya.
" Gue salut sama Laura, bisa bikin Rendra yang terkenal buas dan arogan jadi xiyut kayak hamster gitu. " buka suara Jody yang memilih menutup iPad nya lalu mengajak Rifan mengobrol.
Sembari tersenyum Rifan pun membalas.
" Kalau dipikir-pikir Laura cewek pertama yang dia ajak kesini, ya gak sih. " jawab Rifan sambil menyandar kan tubuh nya ke kursi.
Mereka berdua pun tersenyum atas sikap temannya yang kian berubah diluar ekspektasi.
Setelah merawat Rexy sampai tertidur nyaman di kandang nya, bisa dibilang ruangan tersendiri khusus untuk Rexy. Rendra pun berjalan menyusulku yang memilih pergi ke arah balkon untuk menatap betapa luar biasanya 'tempat ngumpul' orang kaya yang kukenal.
tempat ngumpulnya aja udah kayak rumah pejabat, apa kabar gue yang ngumpul bareng Sisi hanya mengandalkan cafe yang nyaman dan yang terpenting harus ada wifi didalamnya. sungguh berbeda.
Akupun menghembuskan nafas berat sambil menatap lurus ke depan.
Rendra yang berjalan kearahku, berhenti secara spontan dan hanya berdiri terpaku disana.
Dia menatap siluet ku dari belakang dengan rambut yang tergerai dan dengan hembusan angin yang mengisi setiap sudut balkon itu. Dia hanya berdiri.
__ADS_1
" Akan kuperkenalkan duniaku dan seisinya padamu Laura, akan kulakukan. " ucap Rendra penuh tekad.