Protective Man

Protective Man
17. Jalan Bareng


__ADS_3

Setelah dengan aman masuk kelas akupun mendapati Sisi juga udah ada di kelas yang sedang membenarkan poninya walaupun poninya tak apa-apa.


Aku duduk dengan cepat dan membuat Sisi sedikit terkejut. Sisi membalikkan badannya ke arahku.


" Ehh, udah nyampe? Udah sarapan, gue bawa roti nih. " tanya Sisi sambil memberikan roti ke mejaku.


Aku sedikit mengatur nafas.


" Si, gue kan ada janji sama lo untuk kita jalan bareng. Gimana kalo pulang sekolah nanti, gue juga ada yang mau dibeli. " ucapku dengan tas yang masih belum dilepas.


Sisi meletakkan kacanya dengan keras dan memberikan respon bahagianya.


" Wuaahhh, beneran nih? Ga bohong lagi kan. " jawabnya sambil memegang tanganku.


" Enggak la. Lagian gue juga pengen jalan-jalan juga. " jawabku.


Sesungguhnya aku mencari alasan agar tak diantar lagi sama Rendra. Cukup untuk hari ini. Lagian sampe sekarang belum ada jalan-jalan bareng Sisi. Sambil nyaril novel baru juga, pikirku.


" Okeh, gue setuju banget. Wuahh, akhirnya bisa jalan bareng sama lo. " smbung bahagia nya.


Aku senyum melihat kelakuan temanku yang satu ini. " Kayak yang ngajak jalan cowok ganteng aja, seneng sampe segitunya. " sambungku yang masih melihat respon berlebihan Sisi.


" Ya seneng la, kalau gue ajak jalan, ada aja alasannya. Tiba-tiba lo ajak gini gimana gue gak girang. " jawab Sisi sambil terus menatapku tak percaya.


" Maaf, semalam gue nolak terus. Yaudah hari ini kita jalan-jalan seharian. " jawabku sambil melepaskan tas ku dan mengambil buku untuk pelajaran pertama.


Dan kudapati buku sejarah Naufal yang masih belum dikembalikan. Aku mengambil buku itu dan langsung kuberikan sat dia masuk nanti.


Bel masuk pun berdering. Tapi guru belum juga masuk, lalu tak lama Naufal pun masuk diiringi Rendra di depannya.


Segera kuambil bukunya dan membalikkan badanku kearah nya dan mulai bersuara.


" Naufal, maaf gue baru balikin sekarang. Ini buku lo, thanks ya. " ucapku sambil mengulurkan buku kearahnya.


Naufal yang melihat langsung mengambil buku nya tanpa menjawab sepatah kata pun.


ni orang lagi puasa ngomong ya. Pikirku


Aku langsung membalikkan badanku lagi kearah depan dan mengambil pulpen untuk mulai belajar. Tak lama guru pun masuk dan pelajaran jam pertama dimulai.


Setelah melewati hari ini dengan sedikit tak tenang, karna sedari pagi tadi sampai jam pulang sekolah ini pandangan orang sekitar masih tetap menatap intens.

__ADS_1


Akhirnya bel pulang pun berdering. Aku segera membereskan buku dan mengajak Sisi untuk segera pergi.


Tapi Rendra sudah berdiri duluan di samping.


" Ayok. " ucapnya santai sambil menenteng tas nya.


Aku tak menggubris lalu mengajak Sisi berdiri bersamaan.


" Si, ayok. " ucapku pada Sisi yang masih membenarkan poninya.


" Gue ngajak lo, bukan dia. " ucap Rendra lagi.


Aku memejamkan mata sebentar dan mengarahkan pandanganku kearahnya.


" Hari ini gue mau pergi sama Sisi. Berdua." jawabku dengan penekanan diujungnya.


Rendra hanya terus menatap tajam. Lalu mengalihkan pandangannya kearah Sisi yang masih diam tak bergeming.


" Okeh. " jawabnya santai, lalu berjalan pergi.


Aku menghembuskan nafas lega, lalu mengajak Sisi untuk segera keluar.


Aku mencari novel terbaru dan melihat koleksi yang lain. Kudapati Sis sedang berkutat dengan bagian majalah kesukaannya.


Setelah memberi tahu ibu bahwa aku sedang berjalan bersama teman, ibu memberikan respon riuh nya seperti biasa.


Setelah membeli beberapa novel yang kucar kami pun pergi untuk makan.


Sambil menunggu pesanan datang, kamipun berbicara santai.


" Ra, gue mau nanya. Lo ga nyadar apa sama situasi di sekolah hari ini. " buka suara Sisi setelah meminum seteguk minuman nya.


Aku mulai menatap kearahnya dan mulai bersuara.


" Emm, kayaknya iyasih. " jawabku singkat.


" Apanya yang iyasih. Emang iya kali. " sentak Sisi yang spontan membuat pengunjung lainnya melirik kearah kami.


Aku mulai menyarankan Sisi agar sedikit tenang. Dan Sisi mulai mengatur nafas.


" Okeh, emang iya. Dari tadi pagi sih gue udah nyadarnya auranya agak beda. " sambungku sambil meminum seteguk.

__ADS_1


Sisi mulai kembali serius.


" Ra, karna lo anak baru jadi lo belum tau tentang lingkungan sekolah. Gue ceritain ya, mungkin sedikit klise sih tapi ya emang ini adanya. " ucap Sisi dengan wajah seriusnya.


Membuatku menjadi terhenti minum dan muli dudukntegak untuk mendengar kan penjelasan Sisi.


" Jadi di sekolah itu ada investor yang nyediain semua fasilitas yang ada di sekolah. Mulai dari fasilitas ekskul sampai kegiatan di luar sekolah, jadi semua kegiatan yang di sekolah itu ada yang danain. Dan orang yang danain itu keluarga nya Rendra. " jelas Sisi.


Aku yang mendengar langsung mulai membuka lebar mataku.


Sisi menganggukkan kepalanya bahwa apa yang ia katakn itu benar adanya.


Lalu kembali menyambung cerita.


" Nah, temen-temen nya Rendra juga bukan orang sembarangan. Walaupun keliatannya mereka tuh bar-bar tapi keluarga mereka bukan dari kalangan biasa. Ada yang punya bisnis makanan, bisnis furniture, bisnis real estate, bisnis fashion, pokoknya mereka tuh bukan kaleng-kaleng deh. Makanya sekalinya ada yang deket sama salah satu dari mereka, anak-anak yang lain bakalan heboh. Sama yang lo hadapin sekarang ini. " sambung Sisi sembari membenarkan kembali poninya.


Aku hanya terdiam dan tak menjawab sepatah katapun.


Tak lama kemudian makanan yang kami pesan pun datang. Sisi langsung mulai memakan burger pesanan nya.


" Si. " ucapku datar.


Sisi langsung menatapku dengan mulut yang penuh dengan burger.


" Gue gaada hubungan apapun sama mereka, dan gaakan pernah ada hubungan apapun. " ucapku kepada Sisi dengan nada serius.


Sisi menelan burger dengan cepat. Dn kembali bersuara.


" Ra, gue gaada bilang ngelarang lo buat deket sama mereka. Lagian mereka juga manusia biasa bukan dewa yang harus didewakan. Jadi gaada salahnya buat deket apalagi bertemen. Gue bilang gini hanya untuk lo paham sama situasi lo sekarang, dan mulai siapin diri sama pandangan sinis lainnya. " jelas Sisi sambil memegang tanganku dengan lembut.


Aku hanya menatap lurus dan menorehkan senyum.


Aku menatap ke arah luar dengan tatapan kosong.


Setelah puas jalan bareng, kamipun memutuskan untuk pulang. Ketika sudah sampai di depan rumah kudapati mobil ibu terparkir di halaman.


Sudah pulang, pikirku. Aku segera masuk kedalam rumah dan mendapati ibu tengah tertidur pulas di sofa ruang tengah.


Aku menyandarkan badanku ke dinding ruang ramu sembari melihat ibunyang tengah tertidur.


" Seharusnya aku fokus belajar dan ga mikirin yang aneh-aneh. Fokus sama pendidikan sampe akhinya bisa nunjukin kalo aku bisa dan ga diremehin kayak dulu. " ucapku pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2