
Sedikit mengulik kehidupan Rendra yang bisa dibilang complicated .
Sejak kecil Rendra terbilang aktif dan mempunyai banyak teman disekeliling nya, sampai suatu peristiwa membuat semua nya berubah.
Senyuman manis Rendra hilang seketika dan diganti dengan sikap dingin dan tak peduli nya. Sikap itupun berlaku untuk keluarga nya. Terutama Papanya. Rendra seakan tak akan bisa menuruti apa yang Papa nya sarankan dan larang. Dia hanya melakukan apa yang ia inginkan tampa perintah atau saran dari orang lain.
Seperti sekarang, ia diminta untuk melakukan hal yang sebenarnya akan ia lakukan tanpa diminta. Tapi, semua itu berubah hanya dengan perkataan dan situasi yang tak tepat.
Rendra memilih ke kamar nya, tepatnya menuju 'tempat persembunyian' favorit nya.
Di dalam kamar Rendra ada lemari dimana disalah satu pintu lemarinya terhubung dengan satu ruangan yang hanya dia yang tau.
Ruangan dimana semua emosi Rendra dilampiaskan disana. Dan ya, tidak ada satupun orang yang bisa masuk tanpa seijin darinya. Termasuk Radith.
Mereka sudah berkumpul di meja makan dan Inggid pun sudah menyiapkan segala keperluan makan.
Tiba-tiba pelayan pun datang menghampiri meja makan.
" Maaf tuan. Tuan muda Rendra tidak keluar dari kamarnya. Saya sudah mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban tuan. " ucap pelayan tersebut dengan nada memancarkan ketakutan. Takut dimarahi.
Spontan Inggid yang mendengar langsung terdiam dengan tangan yang masih memegang piring berisi makanan favorit Rendra. Sambal udang.
" Biarkan. Kalau lapar juga dia pasti turun. " jawab santai Abraham yang langsung mengambil gelas untuk minum.
Pelayan pun pergi dengan tenang.
" Ma? Aku yang bakal habisin ini semua. Tadi di pesawat aku gaada makan apapun. Jadi, sekarang aku mati kelaparan. " ucap Radith dengan nada menenangkan dan dengan senyum yang terulas tipis di bibirnya.
Inggid kembali ke mode sadar. Dia hanya tersenyum singkat.
" Makan apa yang kamu mau, jangan dipaksa untuk habisin. " sembari tersenyum Inggid pun mulau bersuara setelah meletakkan piring di atas meja.
Inggid langsung menyajikan makanan di piring Abraham dengan porsi yang sesuai. Diikuti dengan Radith yang mengambil lauk yang sangat ia incar.
Masih belum juga. Pikir Radith.
" Bagaimana situasi disana. Sudah bisa terkendali. " sambil mengunyah Abraham mengajukan pertanyaan kepada Radith.
Radith langsung meletakkan sendoknya di piring dengan pelan.
" Syukur nya sudah jauh lebih baik dari kedatangan pertama. Sekarang sudah bisa untuk buka cabang pertama. " jawab langsung Radith dengan pasti.
__ADS_1
" Jangan buka cabang di tahun ini. Fokuskan terlebih dulu untuk perluasan wilayah bisnis di kantor pusat. Ketika beberapa wilayah sudah dikuasai, baru jalankan rencana yang sudah kau rancang. " sambung Abraham dengan terus fokus pada piring di hadapan nya.
Mendengar itu Radith pun duduk dengan tegak dan memasang wajah tak setuju.
" Tapi ka--. " perkataan nya langsung dipotong Abraham sebelum ia menyelesaikan nya.
" Papa tidak menerima masukan dan saran. Hanya lakukan apa yang diperintah dan kerjakan. " lanjut Abraham yang kali ini melihat ke arah Radith yang masih tak percaya apa yang ia sarankan.
Radith memilih diam dan mencoba untuk tenang. Melanjutkan makan walau apa yang ia makan sekarang sudah tak ada rasa sama sekali.
Inggid melirik ke arah Radith dan mendapati wajah kesal dan kecewa disana. Dia hanya menghembuskan nafas berat. Dia juga tak punya kuasa lebih untuk melarang suaminya melakukan itu. Walaupun dia nyonya besar di keluarga Wicaksono.
***-***
Rendra masih berada di dalam ruangan yang membuatnya berasa semua energi negatif sudah diserap di ruangan itu. Waktu sudah menjelang sore hari. Dia berbaring di bawah dan menatap keatas ruangan.
Hanya satu yang ia pikirkan.
Laura.
Seharusnya ia terus mengikuti Laura daripada pulang kerumah dan menerima perkataan yang membuat kebenciannya terhadap sosok Abraham semakin memuncak.
Berasa dia ingin berlari ke Laura dan mencurahkan semuanya. Tapi itu tak mungkin untuk sekarang.
" Kalo aja hari itu gue lebih cepat jumpain lo. Mungkin sekarang gue punya alasan untuk nemuin lo. Laura. " ucapnya lemah dengan tangan yang jadi alas kepala nya. Pengganti bantal.
***-***
Setelah bersih-bersih dan makannrotinyang ada di dapur aku memilih menuju kamar dan menarik bantal dan pasangan nya. Guling.
Merebahkan diri dan membiarkan badan ini menyatu di tempat tidur.
" Dia ngeliat semuanya. Dia ada disaat gue---. " belum selesai bicara akupun langsung mengacak rambutku dengan sekuat tenaga.
" Dia ngeliat semuanya. Semuanya (mengacak rambut kembali). Tapi kenapa dia ga nanya tentang kondisi gue cobak. " ungkap heranku atas reaksi tak terduga Rendra.
Aku berputar-putar di tempat tidur dan membuat badanku terlilit dengan selimut dari kepala sampai kaki.
Frustasi.
" Trus gimana gue ngadepin dia besok coba. Masa bodo aja gitu?" sambungnya dibalik selimut yang masih terlilit.
__ADS_1
Lo sendiri yang jelasin sendiri, dengan kemauan sendiri.
Kata-kata nya terus berputar disekeliling ku. Sungguh tak terduga. Aku menemukan sisi lain dari cowok tengil itu.
Aku memilih tak menceritakan kejadian hari ini ke Ibu. Kalau cerita, pasti Ibu langsung red code. Dan aku ga mau itu terjadi. Aku akan bersikap seperti tak terjadi apapun.
" Makanan siap. " panggil Ibu dari dapur dan langsung meletakkan lauk nya di meja.
Aku duduk dengan santai tanpa menimbulkan kecurigaan.
Ibu mengambil piring dan mengambilkan nasi untukku.
Aku menerimanya dan langsung mengambil lauk yang baru saja dimasak ibu. Baca doa dan langsung memakannya.
" Ada apa di sekolah?" tanya ibu dengan cepat sembari mengambil lauk ke piringnya.
Dan pertanyaan tiba-tiba itu membuatku tersedak seketika.
Aku langsung mengambil minum dan meminumnya dengan cepat.
Ibu makan dengan santainya.
Aku menatap ibu ngerih. Kok udah kayak dukun aja ya, bisa tau.
" Berhenti menatap. Jawab ibu ada apa di sekolah hari ini, Laura. " penekanan ibu di namaku dan dengan menancapkan garpu di piringnya.
Aku sontak kaget dan mengatur kembali posisi dudukku dengan tegak.
" Ga- gaada apa-apa bu. A-aman. " jawabku gagu dan buat alis ibu miring sebelah. Tanda curiga.
" Ketika kamu lagi gugup, kamu bakal lakuin hal yang ga pernah kamu lakuin sebelumnya. Contohnya, kamu baca buku sambil duduk tegak di depan TV. Sementara buku itu pake bahasa Jepang, yang kamu aja gatau artinya apa. Kedua, kamu memutar-mutar kedua jempol kamu tanpa kamu sadari. Itu kebiasaan kamu Laura. " ucap jelas Ibu yang membuatku terpana.
Padahal Ibu lagi masak di dapur, kok bisa tau.
Dan iya, aku mendapati kedua jempolku berpitar membuat lingkaran yang simetris.
Aku segera menurunkan tanganku di bawah meja.
" Ini ibumu Laura. Gaada yang harus disembunyikan dari Ibu. " sambung Ibu dengan wajah penuh cemas.
Jujur. Aku tak bisa melihat wajah cemas ibu. Semua anak di dunia ini pasti sama. Langsung lemah melihat wajah cemas orang tua nya. Dan itu juga berlaku padaku.
__ADS_1
Aku menghela nafas berat. Akhirnya aku bicarakan ke ibu. Semoga ibu ga histeris.