
Setelah menyelesaikan percakapan yang membingungkan dengan Bima, akupun langsung memilih pulang dan pisah jalan dengan Sisi.
Sepanjang jalan masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dengan mengejutkan deringan telepon pun memecah lamunanku saat itu.
Kulihat ibu memanggil," Halo Bu. " jawab ku pertama.
Suara ibu di ujung telepon pun mengatakan bahwa ibu sudah sampai di rumah dari perjalanan dinasnya.
" Sebentar lagi Laura sampe kok, sampai jumpa di rumah." kata ku sebelum menutup panggilan telepon ibu.
*****
Seisi sekolah sudah paham tentang perkumpulan pertemanan Rendra. Yang berkuasa yang mengendalikan semuanya. Begitulah kira-kira.
Seminggu setelah kepindahan ku ke sekolah ini, aku menemukan siswa laki-laki yang duduk murung di meja pojok kantin tanpa teman yang duduk bersama nya.
Seketika aku ingin menghampiri nya dan duduk bersama, karena tempat lain sudah terisi penuh.
Belum sampai aku di meja nya, sekelompok siswa datang ntah dari mana lalu melemparkan susu pada nya sehingga seragam yang ia kenakan pun berlumuran susu cokelat.
Seketika akupun berhenti dan diam terpaku. Dengan mulut yang membentuk huruf O pun aku masih terdiam terpaku di tempat ku berdiri.
" Wooah, udah berani makan di sini ternyata." ucap seorang siswa yang melemparkan susu ke arahnya lalu duduk santai di meja.
__ADS_1
Teman-temannya hanya ikut tertawa geli dan ikut mengganggu.
" Woy, cupu. Lo diajarin ngomong kan. Atau cuma bisa pake bahasa isyarat doang." sambung yang lainnya diiringi tawa ejekan.
Siswa itu pun hanya bisa duduk sambil menundukkan kepalanya tanpa membalas sedikitpun.
Akupun tak habis pikir di sekolah yang elit seperti ini pun masih ada perlakuan bully yang menjijikkan.
Akupun menggenggam erat nampan yang kubawa dan ingin menghampiri mereka. Seketika langkah ku terhenti dengan kedatangan rombongan Rendra ke kantin saat itu.
Seketika siswa penganggu itu pun langsung pergi meninggalkan meja dengan segera. Meninggalkan siswa berkacamata dengan keadaan berantakan dengan susu cokelat melumuri seragam sekolahnya.
Seketika pandangan ku terhenti dengan kekuatan Rendra dkk bisa membuat sebagian murid disini tak berani membuat ulah di sekitar mereka.
Keadaan di sekitar kantin tak ada yang menghiraukan murid yang di ganggu tadi.
Akupun sedikit kaget dengan tarikan Sisi yang tiba-tiba.
" Makan Ra." ucap singkat Sisi.
Akupun berdeham dan langsung memakan makanan yang kubawa.
Saat itu aku belum terlalu banyak terlibat dengan Rendra.
" Lo jangan deket-deket sama anak yang diganggu barusan ya." perkataan Sisi yang memecah lamunanku.
__ADS_1
Aku pun meletakkan sendok ku dengan sigap," Kenapa Lo bisa ngomong gitu. Dia daritadi di ganggu tapi yang lain pada bodo amat dan sama sekali ga ada yang niat nolong. Dan sekarang Lo nyuruh gue diem." ucapku protes dengan nada tinggi.
Dan ternyata omongan ku terdengar di telinga Rendra. Dia pun membalikkan badannya dan mendapati ku sedang berdiri.
Akupun memandang ke arah murid yang diganggu itu tanpa berkedip. Rendra mencari ke arah mana pandangan ku tertuju.
Dia pun berdiri menyandar sembari memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana.
Lalu menatap Laura kembali.
Sisi yang kaget atas respon Laura pun dengan sigap menyuruhnya untuk kembali duduk.
Akupun duduk dengan terpaksa.
" Ra, karna Lo baru pindah ke sekolah ini jadi Lo belum terlalu memahami apa perbedaan sekolah Lo dulu sama sekolah Lo yang sekarang. Berbeda Ra." jelas Sisi sambil membenarkan letak kacamatanya.
" Haa? Beda gimana?. Emang di sekolah ini ada sapu terbang kayak di film Harry Potter." akupun menjawab kesal.
Sisi pun menghembuskan nafas beratnya. Lalu kembali menjelaskan.
" Anak murid yang di ganggu itu, dulunya temenan sama yang ganggu dia barusan." singkat Sisi.
Aku mengangkat kedua alis ku tanda tak paham.
Sisi mengatur duduk nya untuk menceritakan dengan nyaman kearahku.
__ADS_1
kalau mereka temenan, kenapa temennya ngelakuin hal itu ke temennya sendiri?