
Akhirnya setelah selesai dengan urusannya Rendra pun mengantarkan ku pulang. Dengan banyaknya drama yang terjadi hari ini akhirnya aku bisa bernafas lega dirumah. Mobil terparkir rapi di halaman depan dan akupun segera turun. Rendra pun ikutan turun dengan otomatis. Kenapa dia juga turun?
Sesampainya di teras rumah akupun mulai bersuara, " Makasih udah nganterin sampe rumah. " ucapku sambil membenarkan tas punggung.
Rendra yang berdiri di sisi lain pun berbalik dan menjawab, " Gue udah janji sama nyokap lo buat nganterin, ya harus gue tepatin. " jawabnya sambil melihat sekeliling rumah.
Aku yang melihat gerak-gerik nya layaknya polisi yang sedang memantau rumah tersangka pembunuhan berantai. Melihat dari segala penjuru.
Inginku bertanya apa maksudnya tapi handphone ku berdering saat itu. Kuambil handphone nya di dalam tas dan mendapati bahwa yang menelepon adalah Ibu. Kuangkat segera.
" Halo bu, udah mau pulang?. " ucapku pertama.
Ibu hanya terdiam dan tak membalas. Aku mulai bertanya kembali.
" Bu? Kok diem, ibu udah mau jalan pulang?. " tanyaku lagi yang kali ini membuat pandangan Rendra beralih kearahku.
" Ra, ibu bingung mau ngomong ke kamu. Tapi--. " sebelum ibu menjelaskan akupun memotong dengan sigap.
" Ibu kenapa? Gakpapa kan, jangan buat Laura panik dong. " perkataanku mulai menandakan kepanikan.
Rendra mulai mendekat perlahan. Aku hanya fokus dengan handphone dan menunggu jawaban ibu.
" Ibu minta maaf ya, kayaknya hari ini ibu ga pulang karna harus lembur ngerjain deadline kerjaan di kantor. Semua karyawan dilarang pulang sebelum kerjaan ini kelar. Jadinya, yaa gitu deh. " jelas ibu sambil menghembuskan nafas berat.
Aku menghembuskan nafas sedikit lega kukira ibu kenapa-napa, kukira seperti dulu.
" Yaudah, gakpapa Laura kan juga udah gedek bukan anak Paud lagi. Jadi gak masalah kalo harus dirumah sendirian. " jawabku sambil sedikit melemaskan tubuhku yang sedari tadi menegang.
" Ibu yang gakbisa. Kamu itu anak perempuan, tinggal dirumah sendirian apalagi kita baru pindahan belum ada yang kenal. Ibu gabisa nitip kamu, kamu kira ibu tenang di kantor. " protes ibu.
" Ya, jadinya harus gimana dong. Ga mungkin Laura ke rumah temen, sampe sekarang aja belum tau rumahnya dimana. Atau Laura ke kantor ibu aja. " ucapku mencari jalan keluar.
" Ga mungkin kamu kesini soalnya Direktur ibu juga lembur, jadinya di kantor bakalan riweh. " sambung ibu.
" Ya terus jadinya gimana dong. Kan Laura bilang gakpapa dirumah sendirian bu, ibu yang gak percaya. " ucapku lagi.
Mendengar itu Rendra pun mulai bersuara.
" Sendirian?. " tanyanya spontan.
__ADS_1
Mendengar suara Rendra ibu pun mulai menyambung pembicaraan lagi.
" Disitu ada Rendra?. " tanya ibu cepat.
Mendengar ibu akupun sedikit memundurkan badan menyandarkan badan ke pintu.
" Apapun yang ibu pikirin sekarang, Laura ga setuju. Kalo tadi oke Laura terima, tapi ini no no no no. " ucapku sedikit berbisik.
Rendra mulai kepo dengan pembicaraan ku di handphone.
" Ibu ga mikir yang aneh Ra. Maksud ibu besok pagi Rendra jemput kamu biar pigi sekolah bareng. Kamu kira apa cobak. " sambung ibu.
Mendengar itu akupun kembali menegakkan badan dan kembali menatap Rendra.
" Oww, itu toh. Ya, Laura ga mikir aneh-aneh juga. " belaku dengan wajah polos.
" Coba kasih handphone kamu ke Rendra, ibu mau ngomong. " pinta ibu.
Akupun menuruti apa mau ibu dengan memberikan handphone ke Rendra. Dengan wajah bingung Rendra menerima handphone ku.
" Rendra ini ibunya Laura. Maaf ya ibu tadi ga bilang terimakasih ke kamu, karna buru-buru pergi. " kata pertama yang ibu ucapkan.
Aku memilih memalingkan wajah kearah lain.
" Waduh, ibu senang dengarnya. Kalau senang ngantar Laura, kira-kira besok Rendra bisa jemput Laura jadi kalian bisa pergi sekolah bareng. Ibu masih belum bisa biarin Laura pergi sekolah naik angkutan umum. " pinta ibu dengan nada khawatir.
Aku yang penasaran level akut mulai memajukan badanku dengan spontan ke arah nya untuk bisa sedikit mendengar percakapan mereka. Melihat itu Rendra pun tak bisa menahan senyum nya.
" Tentu saya bisa bu. Lagian satu arah juga. " jawab Rendra sambil melihat kearahku.
Aku yang mendengar pun mulai menerka apa maksud dari perkataannya. Ibu tersenyum di ujung telepon sana.
" Ibu lega dengarnya. Ibu percaya sama kamu, ibu titip Laura ya. " jawab ibu.
Mendengar jawaban ibu, Rendra sedikit terdiam dan seperti tak percaya.
" Yaudah, besok jangan lupa jemput Laura ya. Ibu mau balik kerja lagi, bilang sama Laura jangan lupa makan. " jawab ibu setelah itu langsung menutup panggilan.
Rendra masih terdiam ta menjawab. Dan setelah mendengar panggilan ditutup, diapun segera mengembalikan handphone ku.
__ADS_1
Aku menerima dengan bingung. Ketika aku mau bertanya dia duluan memulai percakapan.
" Kata nyokap lo jangan lupa makan. " ucapnya singkat.
" Singkat banget perasaan ngomongnya lama. Ibu bilang apa aja. " tanyaku penasaran.
" Udah mau sore, gue balik duluan. " jawabnya lalu membalikkan badan untuk pergi. Tapi baru beberapa langkah ia pun kembali lagi.
" Jangan lupa kunci pintu belakang, kalo lo mau tidur jangan lupa cek semua jendela udah dikunci blom. Lampu jangan lupa dimatiin, kalo ada yang ngetok malem-malem jangan dibuka. Tadi gue liat pintu samping lo belum dikunci, jangan lupa dikunci dari dalem. Trus---. "belum menyelesaikan perkataan nya akupun memotong dengan mengayunkan tangan.
Mengambil nafas terlebih dulu.
" Sebentar. Btw, sekarang gue udah SMA bukan anak paud yang ditinggal pergi mama nya. Gue bisa jaga diri sendiri. " ucapku protes.
Rendra sedikit menghembuskan nafas dan muai bersuara kembali.
" Ya gue juga tau. Tapi lo disini juga baru, belum kenal siapapun wajar dong kalo harus ekstra hati-hati. " bela nya.
Aku melipat kedua tanganku di depan dada dan memasang wajah menalaah dengan serius.
Rendra mulai mengedipkan cepat kedua matanya dan sedikit memundurkan badannya.
" Ke-kenapa lo liat gue begitu. " tanyanya gagu.
" Lo khawatir sama gue?. " tanyaku serius. Sebenarnya hanya ingin menggoda nya.
" Iya, gue khawatir. Kalo bisa juga gue nginep dirumah lo buat pastiin lo gakpapa. " jawabnya cepat.
" A-apa?. " jawabku bingung.
Rendra memajukan badannya. " Gue khawatir ." ucapnya lagi.
Aku menurunkan kedua tangan ku. Dan terdiam sesaat.
" Kenapa gantian lo yang diem. " ejeknya.
" Gue udah gedek, gue gatau apa yang ibu bilang ke lo tapi gue bisa jaga diri sendiri. Thanks udah nganterin pulang. Ini udah sore, gue mau masuk dulu. " jawabku sambil mengambil kunci di dalam tas dan segera membuka pintu lalu masuk. Meninggalkan Rendra yang masih berdiri diam disana, memperhatikan aku masuk ke dalam.
Setelah masuk akupun bersandar di balik pintu, dan enggan melihat apakah ia sudah pulang atau belum. Aku memilih segera ke kamar dan bersih-bersih.
__ADS_1