
Aku merasa ada yang aneh sejak keluar dari basecamp mereka. Rendra yang diam seakan bicara itu sudah dilarang sama sekali tak mengeluarkan suara sama sekali.
Sampai deringan handphone ku pun berbunyi. Aku sontak melepaskan pelukannya seketika dan membuat Rendra terdorong ke belakang dengan cepat.
Langsung kuambil handphone ku di dalam jas dan dengan cepat kubaca siapa yang menelepon saat itu.
Rendra yang terdorong kebelakang pun mendadak terbatuk tanpa sebab.
Ibu? Kulihat nama ibu yang menelepon. Dengan cepat akupun mengangkat panggilan dari ibu.
" Ha-halo bu? Iya kenapa bu. " jawabku gagap.
Ibu yang sedang menepi sejenak dari rekan kerjanya pun berdiri di dekat kaca besar di sisi lain ruangan.
Setelah mendengar jawaban ku posisi ibu berubah dengan meletakkan tangan kirinya di pinggang. Ibu sedang berkacak pinggang.
" Laura? Suara kamu kenapa, kok ngos-ngosan gitu. " teliti ibu sambil berkacak pinggang dan menunjukkan senyum anehnya.
Aku berdeham sejenak dan sedikit melirik ke belakang, lalu kujawab ibu kembali.
" Enggak kok, Laura baru balik jadi agak capek aja. " elakku anggun.
Rendra yang memilih bersandar di dinding teras pun tetap menunggu.
" Kamu baru balik jam segini? Dari mana? Kok ga bilang ibu. " jawab beruntun ibu.
" Ya ampun, tadi Laura udah nelpon ibu tapi ga diangkat. Pasti ibu buat mode getar kan?." ucapku sambil berdiri agak menjauh dari Rendra.
Ibu melihat kembali handphone nya dan benar hp ibu dalam mode getar. Ibu tersenyum singkat.
" Hahaa, iya nih. Tadi ibu ada ngumpul sama klien disini, jadinya di silent deh. Sorry yakk. " jawab ibu cengengesan.
Aku tersenyum seadanya.
" Ehh, tapi ada yang aneh. " ucap ibu membuat jantungku berdebar layaknya lomba lari marathon.
Aku mendelikkan kedua mataku saat mendengar perkataan ibu.
" Kalau kamu baru pulang jam segini emangnya bis yang biasa kamu naikin masih ada. Kalo jam segini kan biasanya jarang ada, kamu juga pulangnya ga kemaleman banget. Kamu naik apa pulangnya?. " ucap ibu dengan wajah serius.
Aku menelan ludah dengan berat layaknya sedang menelan makanan tanpa dikunyah.
Ibu sedikit menjauh dari kerumunan dan berbicara berbisik.
__ADS_1
" Kamu bareng nak Rendra ya?. " tanya horor ibu.
Disisi lain direktur yang sedang lewat tak jauh dari ibu sedikit mendengar apa yang ibu katakan. Lalu dia pun melangkah pergi ke arah yang dituju.
Aku menatap Rendra dengan tatapan lain. Rendra yang menyadari tatapan ku lun menunjukkan postur tubuh yang menanyakan ada apa.
" A-apan sih bu. Ngapain dia nganter Laura, emangnya dia ojek online apa. Tadi Lau-laura bareng Sisi. " kata-kata keluar begitu saja tanpa kusadari.
Akupun menutup mata seperti ada yang mengerikan di depan sana.
" Sisi? Arah rumah kita kan beda sama Sisi, gimana caranya dia bareng kamu. Jangan bohong wahai anak muda, saya ini adalah ibumu. Kamu tidak mau kan saya kutuk menjadi manekin. " perkataan ibu yang tak kalah horornya.
Aku menundukkan mata dengan pasrah tak tau lagi harus berkata seperti apa untuk meyakin kan ibu kalau aku tak pulang dengan anak satu ini.
Dengan kecepatan kilat handphone ku sudah berpindah ke tangan Rendra.
Aku yang menyadari bahwa tangan kananku sudah tak memegang handphone lagi pun mulai mencari dimana keberadaan nya. Dan kulihat Rendra memegang handphone ku dengan santuynya dan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
" Selamat malam tante, ini saya Rendra." perkenalan yang santai dan tak ada beban sedikitpun.
Kulebarkan kedua mataku dan seakan ingin teriak atas apa yang ia lakukan sekarang.
Kuraih dengan cepat handphone ku namun langkahku terhenti oleh tangannya yang memegang keningku untuk meraih handphone ku.
" Heeh, apaan neh. Balikin hp gue, apaan sih oyy lepasin tangan lo nii. " ucap ku padanya kesal.
Rendra hanya memancarkan wajah ala kadarnya.
Seketika mulut ibu ternganga lebar setelah mendengar suara Rendra. Lalu ibu menutup mulutnya dengan tangan kiri dan memancarkan senyum semringah.
Aku yang masih berjuang menggapai handphone ku pun terus mengulurkan tanganku tapi tetap tak tergapai.
" Nak Rendra? Kamu lagi bareng Laura?. " tanya riang ibu.
Rendra berdeham lalu menjawab, " Iya tante Laura pulang bareng saya. Maaf ya tante ga ngabarin tante. " jawab santainya.
Setelah mendengar perkataan Rendra seketika tenaga ku menghilang dan kuhentikan usaha ku untuk meraih handphone ku dari tangan nya.
" Wuaah, bahan gosip baru pas ibu pulang ni. " ucap ku dengan suara rendah.
Lalu aku menyandarkan badan di dekat pintu dengan wajah lesu.
Rendra yang melihat pun tersenyum sekilas. Lalu fokus kembali dengan pembicaraan nya dengan ibu.
__ADS_1
Aku berdiri menyandar dengan lemasnya.
" Gapapa atuh nak Rendra, kalau pulang bareng kamu tuh ibu tenang banget. Keselamatan Laura sudah terjamin. Makasih ya. " senyum riang ibu masih belum hilang.
Rendra hanya menjawab dengan senyum dan sedikit terkekeh atas jawaban ibu.
" Oiya, ibu lagi ada dinas di luar kota selama seminggu kedepan. Kalau kamu ga keberatan tolong lihat-lihat kondisi Laura ya, soalnya dia gamau ditemenin sama Sisi dirumah. Ibu khawatir dia sendirian di rumah. " perkataan cemas ibu dengan wajah tak tega.
Setelah mendengar perkataan ibu Rendra pun melihat ke arahku dengan seksama dan dengan wajah serius nya.
" Iya tante, saya usahakan bikin Laura aman sampai tante pulang. " jawabnya sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celananya.
Panggilan antara ibu dan Rendra pun berakhir yang aku pun tak tau apa yang mereka bicarakan.
Rendra berbalik dan memberikan handphone nya padaku yang masih bersandar lemas di dekat pintu.
Aku mengambil cepat dan memilih masuk tanpa berkata apapun.
Tapi, dia tak membiarkan ku masuk begitu saja.
Dia menahan tangan kananku untuk menghentikan aku masuk ke dalam rumah saat itu.
Aku berbalik dengan kesal.
" Apa lagi, mau ambil TV gue juga? Tuh ambil sendiri sana. " jawab ketusku.
Rendra pun mengeluarkan suaranya, " Lo beneran gamau ditemenin Sisi dulu, ibu lo cemas liat lo sendirian di rumah. " tanyanya yang sembari memegang tanganku.
Sebelum menjawab akupun melepaskan dengan cepat pegangan tangannya.
" Gue bukan anak Tk yang gabisa ditinggal sendirian di rumah. Gausah jadi mata-mata nya ibu deh. " ucapku sambil memandang ke arah lain.
Rendra menghembuskan nafas beratnya lalu melipat kedua tangannya.
Aku melihat nya pun mulai mengedipkan kedua mata ku dengan cepat.
" A-apa apa? Kenapa, lo balik sana. " ucapku sambil memundurkan badan ku untuk segera menutup pintu.
Seketika tangan Rendra menghentikan pintu yang ingin kututup.
Dengan sekuat tenaga Rendra membuka kembali pintu nya dengan tatapan aneh.
Aku melihatnya bergidik ngeri, kenapa ni anak?
__ADS_1